Kamis, 18 Oktober 2018

Mengenal Pakaian dan Aksesoris Adat Suku Baduy

ORANG suku adat Baduy cukup mudah dikenali dari penampilannya yang sederhana dan pakaian yang mereka kenakan sehari-hari.

Pakaian dengan warna putih dan hitam merupakan warna abadi yang membedakan status sosial mereka. Seperti suku Baduy dalam identik dengan pakaian putih. Sementara, suku Baduy luar dibedakan dengan warna pakaian hitam.

Kaum pria Baduy dalam yang disebut kejeroan biasa mengenakan kemeja putih yang disebut jamang, bersarung loreng hitam yang disebut samping aros dan ikat kepala warna putih yang disebut telekung. Di pinggangnya melilit sabuk putih dan pada pergelangan tangannya biasa mengenakan gelang kanteh yang terbuat dari benang kapas.

Gelang bagi kebanyakan suku tradisional dianggap sebagai penolak bala. Bentuknya bermacam-macam, ada yang terbuat dari logam, rotan dan akar pohon. Melekat di tangan hingga pemiliknya meninggal dunia. Sedangkan pria Baduy Luar yang disebut penamping selalu mengenakan kemeja kampret dua rangkap.

Warna putih di dalam dan warna hitam di luar. Bersarung poleng hideung dengan ikat pinggang adu mancung. Ikat kepalanya terbuat dari kain merong yang bermotif batik warna biru gelap yang disebut lomar.

Jika keluar rumah atau bepergian jauh, mereka selalu menyandang bedog. Benda logam yang lazim disebut golok itu selalu terselip di pinggangnya. Tak ketinggalan, tas koja atau jarog selalu disangkutkan di bahunya yang bidang.

Dalam tas rajutan hasil karya sendiri, biasanya berisi pisau, sirih sepenginangan, menyan putih dan batu api. Kadang-kadang dalam tas berisi pula timbel kejo, nasi putih dengan sedikit garam sebagai bekal diperjalanan.

Berbeda dengan kaum laki-laki, kaum perempuan suku Baduy dalam tidak mengenal mode pakaian. Wanita Baduy dalam sehari-hari hanya mengenakan samping hideung dan telanjang dada. Jika bepergian ke luar kampung atau ke pasar mengenakan kebaya hitam yang disebut jamang dugan tanpa perhiasan atau aksesoris ditubuhnya.

Tidak seperti perempuan Baduy dalam, perempuan Baduy Luar telah berpikiran lebih maju. Mereka telah terbiasa mengenakan kudung soet songket, kebaya hitam, sabuk bodas dan bersarung kacang herang. Memakai sedikit perhiasan yang terbuat dari logam perak atau baja putih, seperti gelang, cincin, kalung dan anting-anting.

Anak-anak mereka berpakaian seperti orangtuanya. Anak lelaki mencontoh bapaknya dan yang perempuan meniru ibunya. Seluruh busana yang dikenakan warga Baduy dalam adalah hasil tenunan sendiri. Tetapi, busana yang dipakai Baduy luar sebagian besar dibeli dari Pasar Tanah Abang dan Pal Merah, Jakarta.

Mencuci pakaian tanpa sabun

Pakaian yang menempel di badan biasanya dibiarkan sampai kotor dan lusuh. Setelah itu dicuci atau diganti dengan yang baru. Mencuci pakaian di sungai atau di pancuran tanpa menggunakan sabun. Bagi masyarakat Baduy, tabu menggunakan benda pembersih serupa itu.

Pakaian yang bersih tidak disimpan dalam lemari, tetapi cukup disimpan dalam kopernya orang Baduy yang disebut kopek, terbuat dari kerangka bambu dengan lapisan daun nira kering.

Kaum wanita maupun prianya pada umumnya memelihara rambut panjang. Untuk memelihara rambut itu butuh sisir. Tetapi sisir yang digunakan bukan hasil produksi pabrik, melainkan buatan sendiri yang terbuat dari kayu atau bambu. Sisir itu kadang-kadang diberi warna kemerah-merahan yang diolesi daun pacar. (Rizki Putri)*


Sekilas Info

Hanya dengan 10 Juta Rupiah, Anda Dapat Mengunjungi 5 Negara Ini

Liburan ke luar negeri dengan biaya yang sangat minim memang menjadi impian setiap orang, dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *