MENGENAL IDENTITAS SANTRI

Oleh:

Kholid Ma’mun

Mendapatkan kesempatan belajar di pesantren adalah sebuah kenikmatan yang besar, karena banyak sekali hal-hal positif yang didapat dengan belajar di pesantren.

Seiring dengan perkembangan zaman akan terus ada pengaruh positif dan negative, semua tergantung bagaimana kita menjaga diri baik-baik sehingga tidak terpengaruh terhadap hal-hal negative yang dapat menjerumuskan kedalam lobang kesengsaraan.

Meluruskan Niat

Banyak santri yang salah niat ketika belajar di pesantren, terkadang kesalahan niat itu terletak pada orang tua ketika memutuskan anaknya dikirim ke pesantren.

Kesalahan niat santri biasanya terletak ketika pesantren dijadikan bukan pilihan utama, dengan ungkapan “daripada tidak sekolah lebih baik mondok”. Demikian ungkapan yang tidak benar dan sering terucap dari beberapa orang tua yang sudah kewalahan dalam mengurus anaknya.

Tidak sungguh-sungguh, malas-malasan, tidak serius adalah dampak yang akan selalu dirasakan oleh setiap santri yang salah niat diawal ketika masuk pesantren.

Kesalahan niat orang tua adalah ketika menjadikan pesantren sebagai penjara untuk anaknya, atau menjadikan pondok sebagai tempat buangan.

Mantapkanlah diri menjadi seorang santri, jangan setengah-setengah agar tidak rugi, rugi umur, rugi waktu, rugi biaya. Kata kiai-kiai kita dulu kalau tidak betah belajar di pesantren satu minggu cobalah dua minggu, tidak betah satu bulan cobalah dua bulan, tidak betah satu tahun cobalah dua tahun dan seterusnya sampai lulus.

Untuk itu diperlukan niat yang baik dan lurus dari orang tua dan anak. Anak harus menjadikan pesantren sebagai tempat menuntut ilmu, karena semua yang ada di pesantren, yang dilihat, didengar, dirasakan selama dua puluh empat jam adalah ilmu dan itu menjadi bekal yang terbaik. Orang tua menyekolahkan anaknya di pesantren sebagai tempat terbaik untuk belajar ilmu-ilmu agama. Semua mengharapkan ridha Allah dan dalam rangka untuk meninggikan dan menyebarkan agama Islam (li ‘ila’i kalimatillah).

Hubungan santri dengan masyarakat

Santri diharapkan mampu menjalin hubungan sedekat mungkin dengan masyarakat, karena dengan begitu paling tidak antara santri dan masyarakat setidaknya terjalin hubungan horizontal, fungsional dan transformatif, horizontal maksudnya santri harus berinteraksi aktif kepada masyarakat, adapun fungsional dimaksudkan santri harus berperan aktif, pro aktif, berkontribusi kepada masyarakat dengan modal yang didapat dari selama mereka mesantren, sementara maksud dari transformatif adalah santri harus mampu mengembangkan peran dan fungsi sosialnya kepada perubahan-perubahan positif terhadap lingkungan sekitar, sehingga dengan demikian santri telah memerankan peran dalam wujud ideal pada bentuk aslinya.

Dari tiga hubungan santri dengan masyarakat diatas akan melahirkan sifat responsif/ peka terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, bukan bersikap apatis, acuh dan egois.

Responsitas santri terhadap problemantika sosial umat adalah merukapakan parameter eksistensi identitas kesantrian seseorang, jika ia pasif – apatis, maka sungguh bukan sebuah pencerminan watak seorang karakter santri.

Kepekaan Sosial

Dalam banyak ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa Islam mengajarkan sikap peduli terhadap sesama, dan ajaran inipun secara otomatis menjadi salah satu perhatian pesantren dalam mendidik para santrinya.

Diantara ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kewajiban menolong kepada orang yang membutuhkan pertolongan, Surat Al Ma’un 1-7 sebagaimana betikut: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?”ll “Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,”ll “dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”ll
َ “Maka celakalah orang yang salat,
“(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,”ll
“yang berbuat riya’,” ll “dan enggan (memberikan) bantuan.”

Ayat tersebut menjelaskan tentang orang-orang yang membiarkan nasib anak yatim, orang miskin, tidak menggunakan hartanya untuk sedekah, infaq dan zakat, golongan ini adalah termasuk golongan orang yang mendustakan agama, walaupun sebenarnya mereka meyakini Allah sebagai Tuhannya dan Rasulullah saw. Sebagai Nabinya, tapi sifat mereka tidak mencerminkan apa yang di ajarkan oleh Allah dan Rasulullah.

Sebagaimana Al-Qur’an mengajarkan tentang kepedulian sosial, hadis-pun banyak menyinggung masalah sosial, diantaranya: Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Peran Santri

Setelah beberapa tahun mengenyam pendidikan pesantren, tibalah saatnya bagi santri untuk berperan dan berkontribusi dalam masyarakat, mewujudkan kemajuan bangsa dan agama, tentunya dimulai dari hal yang paling kecil.

Menjadi sebuah harapan besar para kiai pengasuh pesantren kepada santri-santrinya apabila pulang ke tempat asalnya kelak, mereka tidak hanya mengajar dan memperbaiki moral/ akhlaq tetapi juga bagaimana santri selalu menjadi penggerak, menjadi motivator dan sumber inspirasi kebaikan terhadap masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya.

Penulis DirekturKMI (Kulliyatul Muallimin wal Muallimat Al Islamiyah) Ponpes Modern Daar El Istiqomah Kota Serang & Pengurus FSPP Prov Banten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here