Selasa, 16 Oktober 2018

Mengenal dan Memahami Fikih Kurban

Kurban dalam istilah fikih atau bahasa Arabnya disebut Al Udhiyah, yaitu bermakna nama pada sebuah hewan yang dipotong dari jenis unta, sapi, dan kambing pada Hari Raya Iduladha (yaumu nahri) dan hari-hari tasyrik setelahnya dengan niat taqorrub kepada Allah SWT.

Landasan disyariatkannya kurban, ialah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW termaktub dalam Alquran Surah Alkautsar ayat 1-3 dan Surah Alhajj ayat 26. Dengan begitu, Nabi berkurban sepanjang hidupnya pada tiap momentum Hari Raya Iduladha dan hari-hari tasyrik setelahnya hingga diikuti oleh para sahabat dan pengikut hingga umat Islam setelahnya yang sudah menjadi ketetapan.

Berkurban hukumnya sunnah muakkad (sunah yang sangat dianjurkan/ditekankan) bagi hamba Allah yang berkeleluasaan materi dan dipandang tidak baik (kurang disukai) oleh syariat jika mampu, namun tidak berkurban. Sebagaimana diceritakan dalam hadis sahabat Anas RA riwayat Bukhari Muslim, “Bahwa Nabi (pun) menyempatkan berkurban dengan 2 ekor kambing kecil berwarna putih kehitam-hitaman yang memiliki titik pada bulunya”. Beliau memotongnya sendiri dan membaca basmalah dan kalimat takbir.

Kapan jatuh wajib bagi kurban?

Pertama, wajib bagi yang telah bernazar sebelumnya, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang bernazar untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT, maka taatilah (nazarnya) itu”.¬† Dan bahkan jika dia bernazar, lalu wafat, maka wajib dikerjakan oleh ahli warisnya atau yang telah ditunjuknya.

Kedua, wajib yaitu ketika dia menunjuk salah satu hewan kurban (unta, sapi, kambing) tersebut dengan mengatakan, bahwa hewan itu (aku) persembahkan untuk Allah atau hewan itu untuk kurban dan bahkan menurut pendapat Imam Maliki jika dia si fulan membeli hewan tersebut, dengan niat untuk kurban, maka jatuh wajib niat tersebut untuk dilaksanakan.

Hikmah kurban

Pertama, ialah bertujuan untuk menghidupkan/mengenang sosok nabi teladan, yaitu Ibrahim AS sebagai bapak para Nabi dan kekasih Allah yang setia dalam penghambaan serta tidak menyekutukannya.

Kedua, yaitu untuk saling memberi antarumat Muslim serta menumbuhkan kepedulian antarsesama mereka dengan saling berbagi dan mensyukuri nikmat Allah yang besar ini. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Hari Iduladha, adalah hari raya umatku, hari yang dikhususkan untuk makan dan minum serta zikir kepada Allah SWT”.

Jenis hewan kurban

Hewan yang (hanya) dibolehkan untuk berkurban, terdiri dari 3 jenis/macam, yaitu unta, sapi, kambing sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT dalam Surat Alhajj ayat 34, yaitu jenis kelompok hewan yang disebut Al An’am (unta, sapi, kambing)dan tidak boleh/ tidak sah jika bukan dari ketiga jenis tersebut.

Sedekah dan kurban

Ikhlas, kunci diterimanya amal kebaikan. Sabda Nabi SAW. “Sedekah akan jatuh di genggaman Allah. Sebelum jatuh ke genggaman penerimnya”. Oleh karena itu, maka berbaik baiklah dalam menyalurkannya. Begitu juga dengan darah kurban. Ia akan terhimpun aliran (darah)-nya di sisi Allah sebelum jatuh terhimpun ke dalam tanah. Oleh karena itu, maka berbaik-baiklah dalam prosesi penyembelihannya, (HR Ibnu Majah & Turmuzi). (Ucu Samsudien Lc, anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) LAZ Harfa Banten)*


Sekilas Info

MTQ Nasional XXVII di Medan, Banten Gagal Raih Juara Umum

SERANG, (KB).-¬†Provinsi Banten gagal membawa pulang piala juara umum Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *