Mengembangkan Wisata Alqur’an

Dr. H. Iyan Fitriyana, S.HI., M.Pd.*

Oleh : Dr. H. Iyan Fitriyana, S.HI., M.Pd

Kabupaten Lebak, kini mengangkat visi yang sangat progresif yaitu “Lebak Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal”. Sebuah visi yang strategis untuk mendorong kemajuan kabupaten Lebak. Visi tersebut kemudian diejawantah dalam misi, pertama meningkatkan kualitas dan daya saing SDM. Kedua, meningkatkan produktifitas perekonomian daerah melalui pengembangan pariwisata. Ketiga, meningkatkan ketersediaan infrastruktur wilayah. Keempat, meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Dan, kelima mewujudkan tata kelola pemerintahan paling baik.

Melalui wisata, orang dari luar kabupaten Lebak dapat berkunjung ke Kabupaten Lebak dengan penuh kegembiraan. Mempererat rasa kebersamaan dan keharmonisan para pengunjung.  Melalui wisata pula, dapat membuka lapangan kerja dan berhujung pada peningkatan pendapatan penghasilan masyarakat. Sehingga akhirnya kesejahteraan masyarakat dapat mewujud. Namun dalam mengedepankan wisata, memerlukan ide-ide kreatif dan inovatif. 

Berpijak dari visi tersebut, pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-38 tingkat Kabupaten Lebak 2019 mengangkat tema “MTQ Mengembangkan Wisata Alqur’an menuju masyarakat Kabupaten Lebak yang madani”.  MTQ ke-38 dilaksanakan di Kecamatan Warunggunung. Semangat warga Warunggunung menjadi tuan rumah MTQ sangat antusias. Jauh sebelum pelaksanaan MTQ, warga sudah bersiap membentuk kepanitiaan dan membagi rumah-rumah yang akan ditempati untuk pemondokan kafilah-kafilah dari 27 kecamatan yang lainnya.

Konsep keramahan warga, semangatnya mengikuti kaum Ansor yang begitu totalitas menerima dan menjamu kaum muhajiirin, saat Nabi Muhammad SAW bersama umat Islam hijrah dari Mekkah ke Madinah. Termasuk pondok pesantren modern el-Karim, yang sangat hangat menerima para kiai, Dewan Hakim dan Panitera MTQ serta berbagai tamu. Menyambut Warunggunung menjadi tuan rumah MTQ, pimpinan pondok el-Karim banyak melakukan persiapan agar lebih bisa maksimal memuliakan tamu. Sungguh sebuah potret implementasi nilai-nilai Alqur’an yang indah ditunjukkan oleh warga masyarakat warunggunung.   

Alqur’an dipahami sebagai kalam Allah yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Alqur’an secara tersurat terdapat dalam sebuah mushaf yang terdiri dari kumpulan ayat, surah dan juz. Dan, Alqur’an secara tersirat ada pada alam semesta ini. Masyarakat Lebak dan luar Kabupaten Lebak, dapat berwisata di arena MTQ.

Alqur’an yang tersurat, dipelajari dengan berbagai disiplin ilmu, seperti tajwid, qiraat, tafsir, dan sebagainya. Yang kemudian, dalam arena musabaqah melahirkan banyak cabang yang dilombakan. Semata untuk motivasi kita mempelajari Alquran, dan juga sebagai dakwah agama yang bersumber pada nilai-nilai Alquran. Sementara itu Alquran yang tersurat terdapat pada seluruh alam semesta raya ini. Pada setiap ciptaan Tuhan terdapat pesan dan hikmah yang Tuhan sampaikan kepada manusia. Pada gunung, air terjun, lautan, pepohonan, matahari, bulan, awan, dan lain sebagainya.   

MTQ sebagai wisata Alqur’an

MTQ dapat menjadi even wisata. Para pengunjung bisa menikmati keluhuran dan keindahan Alquran melalui berbagai cabang yang disuguhkan, yaitu Tilawah al-Qur’an, Hifdz al-Qur’an, Tafsir al-Qur’an, Khath al-Qur’an, Syarh al-Qur’an, Fahm al-Qur’an, Qiraat al-Kutub, Musabaqah Makalah al-Qur’an, dan Hifdz al-Hadits.   Masing-masing cabang tersebut, di bawah bimbingan para Kiai yang memiliki kompetensi keilmuan yang tidak diragukan lagi, sekaligus yang telah memiliki sertifikasi dewan hakim.

Sebut saja misalnya, KH. Badrudin, KH. Busro Karim, dan Kiai Bunyati untuk Cabang Tilawah al-Qur’an. KH. Azizi untuk cabang Hifdzil Qur’an. KH. Ahmad Izzudin, Lc. untuk cabang Tafsir al-Qur’an. Drs. H. Ruhiyat dan Hj. Yayat, S.Ag untuk cabang Khat al-Qur’an. KH. Pupu Mahpudin, M.Pd.I untuk cabang Syarh al-Qur’an. Drs. KH. A. Hudori, M.Pd.I untuk cabang Fahm al-Qur’an. KH. Asep Saefullah, M.Pd. untuk cabang Qiraat al-Kutub. Dr. KH. Rumbang Sirajudin, MA dan Dr. KH. Nurul Huda, MA untuk cabang Makalah al-Qur’an. Dan, KH. Baijuri, M.Pd.I untuk cabang  hifdz al-Hadits.   

Dalam cabang tilawah, kita akan dimanjakan oleh lantunan kalam ilahi yang dibacakan oleh para qari-qariah. Dengan menghadirkan berbagai golongan,  yaitu  dewasa pria dan wanita  umur maksimal 39 tahun, canet pria dan wanita umur maksimal 48 tahun, remaja pria dan wanita umur maksimal 23 tahun, anak-anak pria dan wanita umur maksimal 13 tahun, murattal pria dan wanita umur maksimal 11 tahun, Qiraat al-Qur’an pria dan wanita umur maksimal 39 tahun, Qira’at al-Qur’an Murattal Dewasa pria dan wanita (eksebisi) umur maksimal 39 tahun, dan Qira’at al-Qur’an Murattal Remaja pria dan wanita (eksebisi) umur maksimal 23 tahun. 

Dalam cabang Hifdz al-Qur’an, kita bisa takjub menyaksikan para hafidz-hafidzah yang luar biasa oleh Allah Swt dianugerahi kemampuan menghafal al-Qur’an. Melalui berbagai golongan, yaitu Golongan 1 Juz dan Tilawah pria dan wanita umur maksimal 14 tahun, 5 Juz dan Tilawah pria dan wanita umur maksimal 19 tahun, 10 Juz pria dan wanita umur maksimal 21 tahun, 20 Juz pria dan wanita umur maksimal 21 tahun, dan 30 Juz pria dan wanita umur maksimal 21 tahun.

Dalam cabang Tafsir al-Qur’an, pengunjung bisa menikmati hamparan ilmu yang begitu luas. Dengan  terbagi pada tiga golongan yaitu bahasa Arab pria dan wanita, dengan hafalan 30 Juz dan Tafsir Juz IX. Umur maksimal 21 tahun, bahasa Indonesia pria dan wanita, dengan hafalan 30 Juz dan Tafsir Juz XII umur maksimal 33 tahun, dan bahasa Inggris pria dan wanita, dengan Hafalan Juz I sampai dengan Juz XIII (13 Juz Pertama) dan Tafsir Juz X umur maksimal 33 tahun.

Dalam cabang Khath al-Qur’an, pengunjung bisa melihat secara langsung proses penulisan kaligrafi. Sangat nampak keindahan seni kaligrafi dengan keapikan, ketekunan dan kelentikan jemari para khathat-khathatat. Cabang ini, terbagi ke dalam empat golongan, yaitu naskah pria dan wanita umur maksimal 33 tahun, hiasan mushaf  pria dan wanita umur maksimal 33 tahun,  Dekorasi pria dan wanita umur maksimal 33 tahun, dan Kontemporer pria dan wanita umur maksimal 33 tahun. 

Dalam cabang Syarh al-Qur’an, pengunjung bisa menikmati keterpaduan dan keserasian antara ayat-ayat al-Qur’an dengan terjemah dan penjelasan kandungan maknanya. Cabang Syarhil ini masing-masing 1 (satu) regu pria dan 1 (satu) regu wanita umur maksimal 17 tahun. 

Selanjutnya adalah cabang Fahm al-Qur’an. Melalui fahm al-Qur’an kita bisa melihat ketangkasan dan ketepatan peserta menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai isi kanduangan al-Qur’an. Dalam cabang fahmil ini,  masing-masing 1 (satu) regu pria dan 1 (satu) regu wanita umur maksimal 17 tahun.

Dalam cabang qiraat al-Kutub, pengunjung  dapat melihat kepiawaian peserta membaca kitab kuning, atau dikenal juga dengan kitab “gundul”. Cabang ini, terbagi pada tiga golongan yaitu  ‘Ulya pria dan wanita umur maksimal 33 tahun, Wustho pria dan wanita umur maksimal 23 tahun, Ula pria dan wanita umur maksimal 17 tahun. Selanjutnya, cabang musabaqah makalah al-Qur’an. Dalam MMQ, peserta menulis makalah, mengurai dan menarasikan tema-tema yang bersumber dari al-Qur’an.  MMQ pesertanya berumur maksimal 23 Tahun. Terakhir, adalah cabang hifzh al-Hadits. Dengan materi hafalan dalam kitab al-Hadis al-Arba’in al-Nawawiyah. Peserta yang mengikuti berumur maksimal 17 tahun. 

Pada pelaksanaan MTQ, yang menjadi riuh-riah dihadiri oleh pengunjung adalah saat pawai ta’aruf dan malam pembukaan serta penutupan. Malam pembukaan dan penutupan, dapat menyedot banyak pengunjung. Dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati dan seluruh ulama, tokoh masyarakat, serta ribuan masyarakat yang membanjiri malam pembukaan dan penutupan MTQ kabupaten. Dalam pembukaan dan penutupan menampilkan qari terbaik yang melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an.  Mampu menghipnotis relung keberagamaan setiap yang mendengarkannya. Terus membawa hati yang rindu akan pesan-pesan Tuhan, dan masuk pada titik kehambaan seorang manusia. 

Pembukaan dan penutupan MTQ menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat untuk menghadirinya. Ada silaturahmi, bercengkerama dengan keluarga dan kerabat. Ada pula kegembiraan yang tak ternarasikan, seperti menikmati kedatangan malam takbiran saat lebaran tiba. Dalam perhelatan MTQ, nilai-nilai keindonesiaan, semangat kebangsaan selalu muncul. Sebuah komitmen warga bangsa, bahwa berkehidupan di Negara Kesatuan Republik Indonesia harus menjunjung Kitab Suci dan Konstitusi. 

Dan memang, antara kitab suci dengan konstitusi bukan hal yang harus dihadap-hadapkan. Karena dengan berbagai kajian dan telaahan yang mendalam, bahwa konstitusi kita adalah bersumber dari nilai-nilai Kitab Suci. UUD 1945 bersumber dari Alquran. Menjalankan dengan baik UUD 1945 pada setiap ruang gerak kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pada saat itu pula kita sedang mengamalkan nilai-nilai luhur Alquran. 

Pawai ta’aruf dengan berbagai tampilan masing-masing kafilah kecamatan, menjadi daya Tarik tersendiri. Serta keramahan tuan rumah pelaksana MTQ, yang menyajikan warung amal, adalah eksotika tersendiri dalam kegembiraan event MTQ. Masyarakat berjibaku dalam pawai ta’aruf MTQ menampilkan kreasi dan seni. Menghibur, berkreasi, berinovasi, berdakwah, dan bersilaturahmi antar perwakilan kecamatan. Dalam konteks kebangsaan, pawai ta’aruf menjadi media efektif dalam merekatkan kesatuan dan persatuan masyarakat. Saling gotong royong, menolong sangat nampak dalam kegiatan ini.  

Semua elemen masyarakat terlibat aktif, memiliki peran masing-masing untuk mensukseskan pawai ta’aruf. Kepolisian, TNI, Kepala Dinas, Kepala Bagian, Camat, Lurah/Kepala Desa, PKK, Dharma Wanita, Pondok Pesantren, Majelis Taklim, Madrasah Diniyah, Pers, Organisasi Masyarakat dan Kepemudaan, serta elemen masyarakat lainnya. Masih banyak kegiatan keagamaan yang sebetulnya menarik untuk dikembangkan menjadi event wisata, seperti rangkaian Festival Santri Lebak, Kampung Maghrib Mengaji, dan Khataman Al-Qur’an pada setiap peringatan Hari Jadi Kabupaten Lebak. 

Wisata Tafakur

Selain Al-quran yang tersurat dalam mushaf. Juga Alquran hadir secara tersirat pada alam raya ini. Ini menjadi potensi wisata sekaligus media untuk mentadabburi dan menafakkurinya. Pada saat berkunjung ke “negeri di atas awan” Gunung Luhur kecamatan Cibeber. Sebelum naik ke lokasi, penulis bersama teman-teman kerja mengunjungi beberapa pondok pesantren yang berada tidak jauh dari lokasi “negeri di atas awan”. Di antaranya ke pondok pesantren modern al-Furqon Citorek. Penulis bercengkerama dengan pengasuhnya, Kiai Jurjani. Kami berdua memang sudah bersahabat. Kiai Jurjani seorang kiai muda intelek, yang menyesaikan kuliah  strata dua nya di Timur Tengah. 

Kami berdiskusi teologis saat di lokasi wisata “Negeri di atas Awan”. Sejatinya para pengunjung saat bergembira berwisata ke sini, juga harus memiliki stock of knowledge mengenai cara memaknai kebesaran Tuhan yang mewujud melalui keindahan alam Gunung Luhur, atau destinasi wisata lainnya di Kabupaten Lebak, baik gunung, air terjun, pantai, atau hamparan kebun teh. Sehingga saat berwisata, pada saat itu pula kita shalat, dzikir dan bertafakur. Berwisata menjadi media bertaqarub kepada Tuhan Yang Maha Esa.  

Masih banyak gagasan-gagasan menyegarkan lainnya yang mungkin saja ke depan bisa direalisasi. Diantaranya, membangun sebuah Pusat Sudi Alquran. Di dalamnya tersedia, media, jadwal, pemateri, dan inovasi lainya dalam ikhtiar mempelajari Alquran. Yang lainnya adalah, mendirikan sebuah penerbit mushaf al-Qur’an. Tentu saja, dua gagasan strategis ini tidak melulu harus dibangun dan menggunakan uang APBD.

Tapi kita bisa menginisiasi dan menawarkan kepada pihak swasta yang tertarik untuk membangun Pusat Studi Alquran dan Penerbit Mushaf Alquran di wilayah Kabupaten Lebak. Pembangunan yang selalu berkerangka dan bersandar kepada al-Qur’an, akan dapat mewujudkan masyarakat Kabupaten Lebak yang baik-bahagia di dunia dan di akhirat. Wallahu’alam bi al-Shawab (Kasubag Fasilitasi Keagamaan pada Bagian Kesra Setda Lebak Ketua STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here