Jumat, 16 November 2018

“Mengapa Bertakbir”

Gemuruh alunan takbir merambah ke setiap peloksok dan setiap jengkal bumi Allah, di pasar pasar, pertokoan dan perumahan masyarakat pedesaan dan masyarakat kota. Tidak ada satu penghuni rumah pun keluar dari kediamannya kecuali untuk mengagungkan nama Allah, tidak satu pun lisan yang bergerak kecuali memuji muji Allah yang maha agung.

Suasana memuji muji Allah, mengagungkan nama Allah secara masal dan bersama sama serentak, merupakan ekspresi jiwa yang sedang mensyukuri indah dan manisnya iman (walaupun mungkin hanya pada saat itu saja), akan tetapi kalimat kalimat suci itu telah membersihkan sifat sifat tercela pada diri manusia.

Suasana bertakbiran di majlis malam jum’at kliwonan pak ustadz Birri (panggilan pak ustadz Dzul Birri) setiap datang malam hari raya selalu khidmat dan penuh penghayatan. Sehingga siapa saja yang turut bertakbir di majlisnya pak ustadz Birri selalu mengupayakan dirinya untuk berubah kepada yang lebih positif. Berupaya meningkatkan implementasi keimanan dengan menambah kwantitas jenis ibadah sunnah. Seperti membiasakan sunnah dhuha, bagi yang belum terbiasa, shalat sunnah dhuha terasa berat walaupun hanya 2 rakaat.

Malam takbiran tahun ini 1439 H yang bertepatan dengan hari jumat 15 juni 2018 kesyahduan dan kenikmatannya dirasakan oleh kang Pardo. Kehadiran kang Pardo dalam takbiran bersama di majlis pak ustadz Birri tidak terasa air matanya mengalir. Dalam rasa harunya, kang Pardo bertanya tanya dalam hati kenapa harus kalimat takbir yang dikumandangkan. Diam diam kang Pardo mendekati pak ustadz Dzul Birri.

“Maaf pak ustadz, saya belum mengerti mengapa harus kalimat takbir yang dikumandangkan saya malam hari raya sampai pada hari raya” sepertinya pertanyaan kang Pardo sangat merasa penasaran.

“Selama sebelas bulan, kadang bahkan sering kita agungkan dan kita membesarkan makhluk bukan membesarkan penciptanya yaitu Allah subhaanahu wa ta’ala. Kita lebih sering dan lebih banyak membicarakan dunia, dunia dan dunia. Sedikit sekali yang kita bicarakan tentang kebesaran Allah. Kita lebih sering memuliakan sesama ketimbang memuliakan Allah yang sebenar benarnya memiliki kemuliaan.

Mendengar penjelasan dari pak ustadz Birri tentang mengapa mengumandangkan kalimat takbir, kang Pardo semakin merasakan kekaguman tetapi juga merasa malu, karena selama ini apa yang disebutkan oleh pak ustadz Birri benar adanya. Karena dalam hati kang Pardo memang itulah perilaku dirinya, sangat merasa jauh dengan Allah. Padahal Allah maha pemurah dan maha pemaaf, sehingga kang Pardo masih ada kesempatan untuk memperbaiki dan meningkatkan pendekatandl diri kepada Allah.

Selamat mempertahankan kemenangan semaga Allah merahmati kita semua.

Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan. (Mesjid jami Attaqwa, Jumat, 15 juni 2018 pukul 07.08). (Nasuha Abu Bakar, MA)*


Sekilas Info

Panen Garam di Empang Bandeng

Sejak saya kecil, Kampung/Desa Domas, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang terkenal sebagai penghasil ikan Bandeng. Rasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *