Selasa, 16 Oktober 2018

Mengapa Absen ASN Harus Pakai Deteksi Wajah?

Asalamu’alaikum, Pak Gubernur. Sekarang sedang ramai-ramai absensi cap jempol dan absensi wajah di kalangan PNS/ASN yang akan mulai kerja dan pulang kerja. Apa program ini bisa dikaji ulang, terutama tentang mafsadat dan manfaatnya.

Saya merasa berkepentingan dengan ini, sebab tugas saya adalah melahirkan generasi yang jujur, baik, dan teladan masyarakat.

Menurut saya, program ini justru menjadikan PNS/ASN yang semula jujur, menjadi pembohong. Berbohong hanya demi absen. Apakah tidak sebaiknya dicarikan metoda baru untuk membangun disiplin pegawai dan membangun pegawai jujur? Demikian atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

(Ust. Agus Tamami/Guru ngaji di Mandala Citra Indah, Kota Serang)

Jawab:

Jawaban langsung Gubernur Banten H. Wahidin Halim: “Lho, kok malah jadi pembohong. Itu alat untuk menguji dan mengukur tingkat kedisiplinan ASN/PNS. Awalnya pakai jempol atau jari, namun ternyata gampang dimanipulasi. Akhirnya menggunakan muka. Entahlah, apakah ada “dasamuka” di ASN/ PNS Banten”.

Pengayaan jawaban dari Gubernur Banten oleh Tenaga Ahli Media dan Public Relation:

Buntut dari pemalsuan fingerprint (absen dengan sidik jari) oleh Kepala DPMD Pemprov Banten, diberlakukanlah absensi deteksi wajah bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai Senin (9/7/2019).

Penerapan absensi wajah tersebut, untuk mengantisipasi manipulasi sidik jari yang sekarang sudah rentan dimanipulasi. Perubahan teknologi absen elektronik ini berdasarkan surat edaran yang ditandatangani Sekda Banten Ranta Soeharta nomor 800/1626-BKD/2018 tentang pelaksanaan absensi online tertanggal 4 Juli 2018.

Dalam masalah ini, persoalannya bukan sebatas teknis, tetapi sudah berkaitan dengan masalah moral dan kejujuran ASN. Dikhawatirkan, absen saja bisa dimanipulasi, apalagi persoalan lain yang lebih penting nantinya.

Bagi Bapak Gubernur, metoda apapun yang digunakan kembali pada sikap dan mentalitas ASN/PNS itu sendiri yang saat ini tengah digodok dalam program reformasi birokrasi yang dijalankan.

Persoalannya, secara teknis memang dibutuhkan alat (teknologi) untuk mengukur tingkat kedisiplinan ASN itu sendiri, dalam hal ini absen diantaranya.
Seperti halnya kelaziman dalam perkembangan teknologi, awalnya fingerprint susah untuk dimanipulasi dan kini paling mudah dimanipulasi, hingga lahirnya absensi wajah secara elektronik.

Diharapkan hal ini bisa menjadi alternatif pengukur kedisiplinan (absen) yang tidak mudah dimanipulasi, walapun kedepan kemungkinan kedepan untuk dimanipulasi itu tetap ada. Mudah-mudahan tidak ada dasamuka di ASN Banten. (Ikhsan Ahmad/Tenaga Ahli Gubernur Banten
Bidang Media dan Public Relation)* 

 

Pengumuman: Mulai hari ini kabar-banten.com membuka ruang bagi pembaca yang ingin mengajukan pertanyaan kepada Gubernur Banten Wahidin Halim. Pertanyaan bisa diajukan ke 0878 7111 7822 (WA)


Sekilas Info

Enam Tersangka Pengeroyok Polisi Ditangkap

ENAM tersangka pengeroyokan terhadap anggota polisi Tri Widianto di Wisma Cariti, Kampung/Desa Julang, Kecamatan Cikande, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *