Jumat, 20 Juli 2018
Jajang (10), pria kecil asal Padalarang, Bandung mencoba bertahan hidup dengan jualan cobek. Sehari-hari bisa ditemui di Jalan Kepodang dan Kedung Kemiri Cilegon, Selasa (11/7/2018).*

Mengais Rezeki di Kota Baja

CILEGON dijuluki sebagai Kota Baja atau Kota Industri. Oleh karena itu, kota yang juga dikenal sebagai Kota Dolar tersebut banyak menarik perhatian para pedagang.

Secara geografis, Cilegon terletak di bagian paling ujung barat Jawa, sangat mudah untuk dikunjungi. Makanya, tak sedikit warga pendatang di daerah tersebut. Mereka ikut mengais rezeki di kota yang sedang pesat berkembang tersebut. Kebanyakan para pendatang bertahan hidup dengan berbagai cara. Kebanyakan mereka melakukan usahanya dengan berdagang.

Satu dari sekian banyak pendatang di Kota Cilegon, adalah Jajang (10), asal Padalarang-Bandung. Di usianya yang masih belia, dia harus berjibaku menahan terik panas matahari menjajakan barang dagangannya berupa cobek yang terbuat dari batu dan semen.

Bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar tersebut, terkesan tidak pernah memedulikan pesatnya perkembangan zaman. Ia tak mengenal telepon genggam, tablet, PlayStation atau permainan online lainnya. Bagi dia, berjualan cobek adalah salah satu untuk menyambung hidup yang harus dihadapinya sangat keras.

“Sudah lama saya jualan cobek ini, dari kelas 1 SD mencoba membantu keluarga, saya anak pertama dan punya adik, tinggal di Pagebangan-Cilegon. Ibu sudah meninggal, bapak juga jualan cobek, makanya saya membantu untuk mencukupi kebutuhan hidup keseharian,” katanya kepada Kabar Banten, Selasa (11/7/2018).

Ia menuturkan, memanfaatkan momen libur sekolah, berjualan cobek mulai dari pagi sampai dengan sore menjelang waktu Magrib. Namun, apabila sekolah telah mulai lagi, dia akan melakukan aktivitasnya selepas sekolah.

“Kata bapak, sekolah mah tetap lanjut, biar nanti bisa kerja, dan nanti jualannya habis sekolah. Biasa jualan di sekitar sini seperti di Jalan Kepodang atau Jalan Kemiri Kavling. Sehari ada saja yang beli, kalau tidak ada, ya enggak apa-apa,” ujarnya.

Cobek yang dijual dia harganya bervariasi mulai Rp 45.000-50.000. Ia mengatakan, hanya tinggal menjual, karena barang dagangannya dapat mengambil dari perajin di Bandung. Hasil jualan cobek diserahkan dia ke bapaknya. Ia sebetulnya merasa iri dengan kehidupan anak yang seusianya bermain tanpa memikirkan beban, namun hal tersebut dibuangnya jauh-jauh.

Karena, dia juga harus ikut serta membantu mencari nafkah, karena ada adiknya yang masih kecil. “Ingin sih main kayak teman, tapi kata bapak, suruh membantu jualan dulu, mainnya nanti aja kalau ada waktu. Biasanya Minggu, pernah ke alun-alun, tapi enggak lama, karena harus nemenin adik di rumah,” ucapnya.

Ia mempunyai cita-cita menjadi atlet sepak bola, karena bagi dia menjadi atlet, adalah impian sejak kecil. Ia mengidolakan sejumlah pemain sepak bola, namun dia mengatakan, hanya mimpi saja, karena masih kecil dan sekolah.

“Hayangna mah jadi pemain sepak bola, siga nu di televisi ditonton ramean, terus bisa keliling tanding di daerah luar (inginnya jadi pemain sepak bola seperti di televisi yang ditonton banyak orang, karena bisa bermain di luar daerah),” tuturnya. (Himawan Sutanto)*


Sekilas Info

MUI Cibeber Keluhkan Tempat Hiburan Malam di JLS Kota Cilegon

CILEGON, (KB).- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cibeber mengeluhkan keberadaan tempat-tempat hiburan malam di sepanjang Jalan …

One comment

  1. Berita HI nya keren,,,sy mau belajar sama pembuat dan pimpinannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *