Sabtu, 17 November 2018

MENDEKATI TUHAN LEWAT LOGIKA (2)

Artikel ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Mendekati Tuhan Lewat Logika . Pada artikel tersebut, saya memunculkan beberapa filsuf, di antaranya; Aristoteles, Thomas Aquinas, Ibn Sina, serta Ibn Rusyd. Mereka semua sangat mendukung argumentasi eksistensi Tuhan secara rasional. Pada artikel ini, saya akan menyuguhkan bagaimana argumentasi kosmologis Ibn Rusyd, secara khusus dan mendalam, dalam menjelaskan eksistensi (wujud) Tuhan.

Ibn Rusyd sebagai filsuf pilihan, dalam konteks ini, tentu mempunyai alasan tertentu kenapa saya pilih. Saya kira, dia adalah filsuf besar yang bisa menjawab dengan tepat kritik Al-Ghazali (w. 1111) dengan karyanya Tahafut Al-Falasifah. Al-Ghazali menuduh para filsuf telah melakukan kerancuan dalam berpikir. Sebagai jawaban atas tuduhan Al-Ghazali, seorang filsuf sunni dari Spanyol, Ibn Rusyd (w. 1198), membalas tuduhan Al-Ghazali tersebut dengan sebuah karya besarnya juga, yaitu Tahafut At-Tahafut.

Di samping itu, Ibn Rusyd juga yang menyatakan bahwa belajar hikmah (philosophia) adalah sebuah kewajiban bagi setiap individu. Pernyataan tersebut menangkis serangan yang mengepung kaum muslim, pada saat itu, dengan sebuah pernyataan “Siapa pun yang mempelajari mantiq (ilmu logika, filsafat) maka ia telah menjadi zindiq (tidak berpegang teguh pada agama).”

Ibn Rusyd mempunyai jasa besar bagi perkembangan filsafat Islam hingga hari ini atas serangan Al-Ghazali tersebut. Eksistensi manusia serta keyakinan sepenuh hati terhadap eksistensi (wujud) Tuhan adalah dua hal yang saling berkaitan dan saling melengkapi (reciprocal). Setiap individu mempunyai pengalaman keagamaan yang berbeda dengan manusia lainnya.

Muhammad Iqbal, seorang filsuf dan penyair Pakistan, sering menyebutnya dengan istilah religious experience, yaitu sebuah pengalaman yang menyentuh sesuatu yang transenden. Dengan kata lain, pengakuan akan eksistensi Tuhan cocok sekali dengan eksistensi manusia (compatible). Dengan demikian, terdapat kecenderungan yang riil ke arah sesuatu yang bersifat profan.

Eksistensi Tuhan sesungguhnya sesuatu yang bukan empiris. Orang hidup biasanya tidak akan menjumpai Tuhan melalui mata kepalanya sendiri. Tetapi, walaupun demikian, mayoritas manusia yakin terhadap eksistensi Tuhan sembari menguatkan  argumentasi-argumentasi mereka secara dogmatis maupun logis.

Di antara argumentasi yang masuk pada kriteria logis ini adalah: Pertama, argumentasi ontologis. Argumentasi ini memakai konsep ketuhanan (concept of divine) dalam membuktikan eksistensi Tuhan. Ia memulainya  dengan mendefinisikan Tuhan sebagai “sesuatu yang paling besar yang dapat dipikirkan.”

Tuhan itu ada dan Dia adalah paling besar. Keberadaannya merupakan hasil daripada memikirkannya. Dia ada lebih agung daripada ketiadaanya, Dia paling besar daripada ketidakbesarannya. Argumentasi ini dipelopori oleh Plato (w. 348 SM) melalui teori idenya.

Kedua, argumentasi teleologis. Argumentasi ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa alam semesta yang demikian teratur, tentu ada yang mengatur di balik layar. Dialah Sang Desainer Ilahi, Tuhan Yang Maha Agung. Secara sederhana, argumentasi teleologis, kita katakan sebagai argumentasi keteraturan.

Misalnya, bagaimana Tuhan telah mengatur sedemikian rupa jarak bumi dari matahari. Konsekuensi dari pengaturan jarak tersebut adalah manusia bisa hidup seperti sekarang. Bayangkan jika terlalu jauh atau sebaliknya, tidak akan ada kehidupan di dunia ini.

Ketiga, argumentasi moral. Moral selalu berkaitan dengan etika. Di mana kita hidup maka di sana ada aturan, baik itu tertulis atau tidak. Aturan tersebut sangat mengikat seluruh penghuninya, tanpa terkecuali. Menaatinya berarti telah tunduk terhadap aturan. Sebaliknya, jika ia menolaknya, secara tidak langsung ia sedang meruntuhkan aturan tersebut.

Setiap orang yang mendiami suatu wilayah tertentu mempunyai perasaan benar atau salah dalam rangka menerjemahkan aturan tersebut. Jika ia menyakiti tetangganya, mencuri barang berharganya, atau lebih ekstrem dari itu, ia membunuhnya karena alasan yang tak masuk akal, maka ia sedang melakukan sesuatu yang berlawanan dengan moral. Dan secara otomatis, perbuatannya pasti akan ditolak semua orang. Nilai-nilai universal berlaku di sana. Pertanyaannya, dari mana munculnya nilai kebenaran yang universal tersebut? Jawabannya, tentu ia lahir dari Yang Maha Benar, yaitu Tuhan.

Yang keempat adalah argumentasi kosmologis, merupakan metode pembuktian paling klasik dan sederhana yang dapat menunjang keyakinan manusia. Argumentasi ini disebut juga sebagai argumentasi gerak (dalil al-harakah), yang menunjukkan bahwa alam senatiasa berada dalam gerak, dan gerak itu ditimbulkan oleh adanya penggerak. Penggerak yang tidak dapat bergerak itulah yang disebut dengan Tuhan (Unmoved Mover).

Jika alam semesta alam ini diciptakan, maka mesti ada “Pencipta”-nya. Sang Pencipta dalam bahasa agama samawi dikenal dengan sebutan Allah. Akan tetapi, bagaimana membuktikan bahwa Pencipta alam semesta itu ada? Di sini akan dikemukakan dalil atau argumen kosmologis tentang eksistensi Tuhan menurut Ibn Rusyd.

Argumentasi kosmologis ini disebut juga argumen sebab-musabab, yang timbul dari paham bahwa alam adalah bersifat mungkin dan bukan bersifat wajib dalam wujudnya. Dengan kata lain, karena alam adalah alam yang dijadikan, maka mesti ada zat yang menjadikannya (Nasution, 1992).

Argumen kosmologis ini dimulai dari fakta-fakta tentang alam semesta yang diamati dan diteliti, seperti gerak, sebab, kontingensi, keteraturan. Berdasarkan fakta ini orang sampai pada kesimpulan bahwa Allah ada sebagai asal mula dan dasar dari “Penyebab Pertama”, “ada yang niscaya” (mutlak), “Pengatur”. Mulai dari suatu analisis tentang eksistensi segala sesuatu ke eksistensi Allah dan ke salahsatu atribut Allah atau lebih (Bagus, 1996).

Argumen kosmologis merupakan suatu argumen deduktif yang menyatakan bahwa apa saja yang terjadi mesti mempunyai sebab, dan sebab ini juga mempunyai sebab dan seterusnya. Rangkaian ini sebab-sebab mungkin tanpa penghabisan atau mempunyai titik permulaan dalam sebabnya yang pertama. Aquinas mengeluarkan kemungkinan adanya rangkaian sebab-sebab yang tak ada batasnya, dan mengambil kesimpulan bahwa harus terdapat sebab pertama yang kita namakan Tuhan (Titus, 1984).

Argumentasi kosmologis ini termasuk argumentasi paling renta, seumuran dengan argumentasi ontologis. Yang memebedakan keduanya adalah tokoh yang membawanya. Jika argumentasi ontologis berasal dari Plato, maka argumentasi kosmologis berasal dari Aristoteles. Bagi Aristoteles tiap benda yang dapat ditangkap dengan pancaindra mempunyai materi dan bentuk. Bentuk terdapat dalam benda-benda sendiri, dan bentuklah yang membuat materi mempunyai bangunan atau rupa.

Bentuk bukan bayangan, sebagaimana ide Plato, tetapi adalah hakikat dari sesuatu. Bentuk tak dapat berdiri sendiri terlepas dari materi. Materi dan bentuk selamanya satu. Materi tanpa bentuk tak ada (Nasution, 1992).

Sedangkan Ibn Rusyd mengggunakan argumentasi rasional untuk menetapkan dan menjelaskan wujud Tuhan melalui dalil ikhtira’Ikhtira’ secara etimologi berarti penciptaan. Dalil ini ingin membuktikan kejadian alam melalui penciptaan. Bahwa binatang dan tumbuh-tumbuhan adalah bukti empiris adanya penciptaan itu, maka dengan memperhatikan bagaimana makhluk-makhluk ada, manusia dapat sampai pada pemikiran adanya penciptaan.

Demikian juga bagaimana benda-benda di angkasa raya itu bergerak, maka manusia akan sampai pada pemikiran bahwa gerak-gerak itu terjadi dengan suatu kendali, karenanya berjalan secara teratur (maka itu disebut cosmos), dan segala yang terkendali adalah diciptakan.

Baik benda hidup maupun benda mati itu menunjukkan bahwa ada Pencipta yang mengendalikannya, dan Dia menjadi sebab eksistensi benda-benda tersebut. Karena itu dalil ini adakalanya juga disebut dalil sababiyyah (kausalitas). Dalil ini dalam literatur Barat  dinamakan dalil atau argumentasi kosmologis (cosmological argument).

Argumentasi kosmologi Ibn Rusyd dibangun atas dua landasan: Pertama, bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini eksis karena diciptakan dan ditanggung kelangsungan wujudnya, seperti tersedianya kebutuhan-kebutuhan makanan dan sebagainya. Kedua, bahwa setiap yang diciptakan pasti ada yang menciptakannya.

Berdasar kedua landasan tersebut, jelaslah bahwa ada pencipta bagi apa yang ada di alam ini. Maka bagi orang yang ingin mengetahui wujud Tuhan, hendaklah ia berusaha mengetahui hakikat segala sesuatu. Dari usaha itu ia akan sampai pada hakikat  penciptaan semua wujud. Jika orang tidak mengetahui hakikat sesuatu maka ia tidak akan dapat mengetahui hakikat penciptaan sesuatu itu (Ibn Rusyd, 1964, h. 151) .

Ibn Rusyd, dengan argumentasi kosmologisnya mengajak kepada pembuktian dengan memperhatikan kejadian-kejadian pada alam. Tumbuhan, hewan, dan manusia yang ada di alam ini mempunyai beberapa gejala kehidupan yang sama, seperti makan dan berkembangbiak, sekaligus mempunyai karakter yang berbeda-beda.

Manusia misalnya, mempunyai kelebihan dan ciptaan dibanding makhluk lainnya, karena ia adalah dzu ‘aql (mempunyai daya berpikir). Hal itu tentu juga tidak terjadi secara kebetulan, sebab jika terjadi secara kebetulan saja tentulah tidak berbeda-beda. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tingkat makhluk-makhluk itu berbeda-beda. Argumentasi ini menunjukkan adanya Pencipta yang menghendaki suatu makhluk berada lebih tinggi derajatnya dibanding makhluk lain. Dan ini menunjukkan bahwa Pencipta yang mengaturnya adalah “Satu”.

Kejadian alam adalah hasil karya cipta Allah, sebagai akibat wujud-Nya yang merupakan Sebab dari segala kejadian. Jadi antara Allah dan alam ada hubungan sebab akibat. Alam dan seluruh bagiannya diciptakan sedemikian rupa dengan suatu tata aturan yang jeli dan rapi, sehingga terjadi harmoni dan keserasian di antara bagian-bagiannya.

Tidak ada aturan yang rapi dan lebih sempurna daripada yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta. Keteraturan dan keserasian tersebut membuktikan bahwa kejadian alam ini berlangsung karena dikehendaki oleh Penciptanya, atau terjadi karena Sebab itu. Jika sesuatu terjadi tidak karena suatu sebab maka itu namanya terjadi dengan sendirinya atau secara kebetulan saja.

Allah telah menetapkan hukum kepastian pada ciptaan-Nya, maka tidak ada alasan untuk dikatakan bahwa alam terjadi karena kebetulan. Ibn Rusyd menolak pandangan yang menyatakan bahwa kejadian-kejadian pada alam ini merupakan suatu kemungkinan, bukan kepastian. Menurutnya, apa saja yang diberlakukan pada alam ini mengandung hikmah ketuhanan (al-hikmah  al-ilahiyah). Dengan demikian, Ibn Rusyd mengemukakan bahwa masalah penciptaan alam adalah dalam rangka pembuktian eksistensi (wujud) Tuhan  atas alam semesta ini. (Iip Rifai/Alumnus Pascasarjana UIN “SMH” Banten, Peneliti dan Pengajar di Omar Institute)*


Sekilas Info

Panen Garam di Empang Bandeng

Sejak saya kecil, Kampung/Desa Domas, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang terkenal sebagai penghasil ikan Bandeng. Rasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *