Mencoreng Kening Sendiri

Oleh : Nasuha Abu Bakar, MA

Pada umumnya, kematian merupakan sesuatu yang pasti dan kehadiran nya selalu tiba tiba. Kedatangan kematian tidak selalu diawali oleh sakit, bila kematian harus diawali oleh sakit, maka tidak ada rumah sakit yang dijadikan sebagai rumah harapan baik baginsi penderita sakit itu sendiri ataupun oleh keluarganya. Nyatanya banyak yang awal mulanya sakit, setelah mendapatkan pengobatan dan perawatan di rumah sakit atas izin Allah kembali sehat.

Seandainya saja kematian itu hanya dikhususkan kepada hamba hamba Allah kelompok lansia,maka rumah rumah Allah, Mushalla mushalla, majlis majlis ta’lim tidak ada lagi penggemar dan peminatnya. Nyatanya masjid-masjid itu dipenuhi oleh kelompok jamaah yang usianya lanjut,yang usia muda masih sangat sedikit.

Mengamati atas peristiwa wafatnya seorang ulama kharismatik mbah Maemun Zubair Selasa 6 Agustus 2019 pukul 4.00 waktu Makkah banyak memberikan isyarat besar dua hari sebelum wafatnya. Misalnya hari ahad 4 Agustus 2019 mulai jam 10.30 sampai jam 20.20 merupakan satu isyarat.

Walaupun tidak terdapat teks atau nash alqur’an tentang peristiwa alam yang berhubungan dengan wafatnya seseorang, akan tetapi bagi orang orang tertentu, apalagi seorang ulama besar, maka biasanya sebelum wafat suka ada tanda tanda khusus, isyarat isyarat tertentu yang setelah wafatnya baru lah isyarat dan tanda tanda itu dapat diungkapkan rahasia rahasianya.

Subhaanallah….

Haru birunya perasaan umat Islam seluruh dunia,tidak lagi terbatas atau terhalang karena madzhab, tidak terbentengi oleh kesukuan,tidak tersekat oleh warna baju politik atau partai, semua tangan yang “takbiir” mengagungkan Allah ingin menyentuh jenazah mbah Maemun walaupun hanya sebatas istilam.

Seluruh lapisan masyarakat tidak mengenal ras, suku ataupun agama, mereka semuanya mencintai almarhum mbah Moen. Mereka mendoakan almarhum mbah Moen dengan berbagai macam doa. Dan yang mendoakan almagfurlah mbah Moen murni,ikhlas serta tulus dari pancaran jiwa yang mencintai almarhum.

Tidak ada satu orangpun yang mendoakan almarhum mengatas namakan partai, golongan, kelompok, atau komunitas apapun. Oleh karenanya alangkah eloknya bila yang berdoa itu tidak diklaim atau diakui oleh satu kelompok, atau satu partai, golongan apapun.

Bila ada yang mengklaim serta menganggap lainnya tidak patut memanjatkan doa untuk almarhum mbah Moen, maka itu sama halnya mencoreng wajah sendiri disaksikan oleh jutaan malaikat, oleh Allah dan oleh almarhum. Mbah Moen sendiri mengajarkan kesantunan,budi pekerti yang luhur,dan menerapkan kearifan kepribadian.

Mbah Moen almarhum almagfurlah bukan hanya seorang guru ngaji, juga bukan sekedar guru agama, tetapi beliau adalah guru bangsa yang kaya sekali untuk ditiru oleh segenap anak bangsa dalam segala hal, kesalehan dalam ibadah, kesederhanaan dalam kehidupan, dan kemuliaan dalam akhlaq yang selalu memuliakan sesama. Wallaahu alamu bish Shawaab wailaihil musta’aan*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here