Menapaki Jejak Wisata Sejarah di Kota Rangkasbitung

Menapaki jejak wisata sejarah dan bicara Kabupaten Lebak tak hanya sebatas hutan adat di Baduy, budaya adiluhung masyarakat adat Kaolotan (Kasepuhan) atau potensi wisata alam lainnya. Banyak cerita yang telah melegenda peninggalan penjajah Belanda, mulai dari jejak cagar budayanya sampai geliat literasinya.

Untuk mengupas sejarah yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata di kota Rangkasbitung, salah seorang penggiat pariwisata Kabupaten Lebak Topan Aribowo Soesanto mencoba merangkumnya dalam sebuah tulisan yang sengaja dikirimkan untuk pembaca Kabar Banten. Berikut tulisan Topan yang kami sajikan secara utuh.

Cukup banyak jejak peninggalan sejarah masa penjajahan Belanda. Mulai dari stasiun Kereta Api, Residentie Van Max Oil yang akrab di sapa pabrik minyak oleh sebagian warga Lebak, water turn (tempat penyimpanan air), benteng kuno, hingga yang terbaru Museum Multatuli sebagai tempat aktivitas literasi.

Geliat riaknya wisata kota amatlah terasa di tengah riuhnya urban city di kota Rangkasbitung dengan merebaknya ojek online saat ini, yang bisa menjadi salah satu pilihan moda transportasi untuk hanya sekadar keliling kota.

Rumah Residence VOC pun tak luput dari target kami. Terletak di seberang BNI yang khas dengan tahu gejrotnya tidak jauh dari rumah dinas petugas pegawai pabrik minyak, yang kini menjadi rumah dinas kepolisian Kabupaten Lebak.

Dengan bermotor ria kami coba menyusuri satu persatu tempat cagar budaya yang menjadi saksi sejarah berdirinya kota Rangkasbitung yang pada masa lalu lebih dikenal dengan sebutan Rangkasbetung.

Perjalanan dimulai dari persinggahan rumah Multatuli di sekitar jembatan dua yang tidak jauh dari jalur protokol pemerintah daerah yang diapit dua jembatan, bagi kendaraan serta kereta api yang saling bersebelahan.

Pusat alun-alun menjadi romansa kerinduan bagi perantau kota yang hanya sekadar rehat atau tempat transit saat mudik-mudiknya. Rangkasbitung menjadi destinasi istimewa tersendiri bagi warganya, mulai dari makam pahlawan yang bersanding kokoh dengan Water Torn atau tempat penyimpanan air.

Banyak cara menikmati jejak sejarah di kota kecil ini. Selain terletak dalam perkotaan kita juga bisa dengan santai berjalan kaki, sepeda motor, naik becak atau angkot yang masih lalu lalang di sekitaran alun- alun.

Murah meriah, itu yang terkesan jika kita berwisata dalam kota, ramai membuat seakan tak terasa berjalan jauh. Bisa menjadi cerita tersendiri ruang kota yang begitu harmonis dengan hunian kota dan aktivitas jual beli perbelanjaan pinggir jalan yang menjadi destinasi wisata.

Menjelang weekend sengaja saya dan istri coba hunting menjajaki kenangan sejarah itu. Karena lokasinya mudah dijangkau di dalam kota. Tak banyak rupiah yang kami keluarkan sekadar untuk mendatanginya.

Susur jalan mulai Alun- alun Rangkasbitung sampai ujung Plaza Rangkasbitung Indah Plaza. Diselasar jalan tak jarang kita banyak menemukan bangunan lama khas budaya dan jejak VOC Belanda, tak terkecuali Residentie Van Max Oil atau pabrik minyak. Yang kini sudah direvitalisasi menjadi pusat plaza perbelanjaan bahkan menjadi landmarknya kota Rangkasbitung.

Hanya sebagian kecil tersisa jejak reruntuhan bangunan itu yang kini menjadi saksi bisu dari riuhnya roda perekonomian perputaran rupiah antara pribumi dan VOC. Tak jauh dari asli bangun ruangnya memang lokasi sejak berdirinya ini sudah menjadi pusat tempat pergerakan ekonomi.

Tidak hanya dalam kota saja cagar budaya merebak di kota Rangkasbitung. Masih banyak tempat atau destinasi diluaran kota, seperti di Sajira terdapat banyak rumah tua peninggalan Belanda.

Wisata kota bisa menjadi alternatif liburan murah meriah, edukatif keakraban untuk keluarga dan sesuatu nilai kearifan lokal dalam kontek ruang. Destinasi berakhir di rentetan rumah toko (Ruko) yang menjajakan aneka kebutuhan pokok sampai kuliner. Sedikit rehat sambil sesekali mengulas dan mengulang kembali perjalanan kami tadi.

Seruput es teh dan seporsi mi ayam dengan latar reruntuhan sejarah, menutup cerita keseharian kami di tengah penatnya aktivitas. Wisata kota dan fotografi menjadi bagian yang tak bisa terpisahkan untuk dikisahkan kembali. (Tono Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here