Menakar Konsumsi Ramadan dan Idulfitri

Efi Syarifudin.*

Oleh : Efi Syarifudin

Puasa Ramadan dan Idulfitri tidak mengajarkan kita untuk menghilangkan kebiasaan konsumsi. Tapi kita diminta menahan sambil menata dengan bijaksana antara konsumsi duniawi dan konsumi ukhrawi. Selama Ramadan konsumsi tetap normal, tapi dibelanjakan untuk kepentingan sosial dan peningkatan keimanan melalui belanja fii sabilillah.

Konsumsi yang rendah tentu akan berdampak buruk bagi perkembangan ekonomi. Tapi buktinya selama ini, Ramadan dan Idulfitri selalu membawa berkah terhadap perekonomian. Definisi shaum secara bahasa adalah al-imsaak, yaitu menahan diri. Termasuk salah satunya adalah menahan diri dari mengonsumsi.

Tapi bukan berarti Islam mengajarkan kita untuk tidak konsumtif. Konsumsi dibutuhkan untuk menggerakkan roda ekonomi. Karena faktanya, PDB Indonesia dan juga PDRB Banten ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga. Artinya, konsumsi masyarakat memiliki kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 2019 saja, menurut data BPS Banten, pengeluaran konsumsi rumah tangga di Banten mencapai kisaran Rp 348 triliun dari total Rp 664 triliun total PDRB Banten atas dasar harga berlaku. Pengeluaran konsumsi rumah tangga selalu berkontribusi di atas 50% terhadap PDRB Banten.

Kondisi pandemi seperti saat ini, terutama dengan adanya kebijakan mitigasi PSBB telah menekan kebiasaan konsumsi masyarakat. Dampaknya cukup signifikan, tercatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2020 mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah tertekannya pengeluaran rumah tangga yang menyebabkan sektor perdagangan, penyedia akomodasi dan transportasi bergerak menurun drastis.

Menurut catatan Bank Indonesia, Ekonomi Indonesia tumbuh melambat di triwulan I-2020 di kisaran 2,97 persen (y-on-y), melambat dibanding capaian triwulan I-2019 yang sebesar 5,07 persen. Sementara pengeluaran konsumsi rumah tangga berada dikisaran 2,84% (yoy), jauh lebih rendah dibanding triwulan IV 2019 sebesar 4,97% (yoy).

Sebelum pandemi Covid-19, aktivitas mudik dan liburan Idulfitri merupakan momentum pendistribusian ekonomi dari, terutama dari kota ke desa. Peredaran uang meningkat dan geliat konsumi selalu tinggi. Sektor transportasi pun biasanya menikmati kenaikan harga khusus lebaran mencapai 30% dari tarif normal, bahkan lebih.

Puncaknya adalah seminggu sebelum dan sesudah lebaran, kita seperti menyaksikan kegiatan festival rakyat yang meriah. Transaksi terjadi di sana-sini, roda ekonomi berputar cepat dan ramai. Semua orang bepergian, bertransaksi dan berbagi. Semua menikmati berkah Ramadan dan Idulfitri.

Namun pastinya kondisi pandemi akan menjadikannya berbeda. Konsumsi masyarakat pada liburan Idulfitri tahun ini pun diperkirakan menurun drastis. Kebijakan physical distancing melalui PSBB dan kebijakan pelarangan mudik melalui Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Mudik Idulfitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) akan berdampak terhadap mobilitas masyarakat. Pembatasan sosial dan pengendalian transportasi ini tentu saja berdampak terhadap tertahannya pengeluaran konsumsi rumah tangga.

Peredaran uang tahun ini diperkirakan tetap tinggi walau lebih rendah dari tahun sebelumnya. Selain belanja kebutuhan pribadi, sebagian masyarakat muslim terbiasa untuk membayar zakat fitrah dan zakat maal secara luring (offline) dengan uang tunai. Tahun lalu saja Baznas mencatat pembayaran zakat digital melalui daring (online) berada dikirasan 18%. Belum lagi pendistribusian zakat kepada mustahik dan THR bagi karyawan perusahaan dan ASN. Kebutuhan uang tunai untuk pengeluaran konsumsi masyarakat tetap tinggi.

Mengantisipasi kebutuhan uang masyarakat tersebut, Bank Indonesia berkomitmen menyiapkan uang tunai untuk bertransaksi. Jumlah yang disiapkan memang menurun sebesar 17,7% (yoy) dari tahun sebelumnya. Tahun 2019 lalu uang yang beredar selama liburan Ramadan dan Idulfitri adalah sekitar Rp 160 triliun. Dengan rincian peredaran di Pulau Jawa sekitar Rp 84 triliun, Sumatera sekitar Rp 56,6 triliun dan selebihnya di Indonesia bagian timur.

Perkiraan uang yang akan diedarkan oleh Bank Indonesia pada tahun ini adalah sebesar Rp 157,96 triliun. Layanan penukaran uang masyarakat ini hanya akan dilaksanakan oleh BI melalui 3.742 Kantor Cabang (KC) bank di seluruh Indonesia, yang terdiri atas 344 KC bank di daerah Jabodetabek dan 3.398 KC bank di wilayah luar Jabodetabek terhitung mulai dari tanggal 29 April s.d. 20 Mei 2020. Layanan penukaran uang di tempat umum tidak akan dilakukan sebagai pencegahan Covid-19.

Prosedur penukaran uang kali ini pastinya juga berbeda dengan tahun sebelumnya. Standar protokol pencegahan Covid-19 dilakukan secara serius. Mulai dari melakukan karantina uang kertas sebelum edar, penyemprotan disinfektan pada tempat operasional dan proteksi terhadap SDM yang melayani. Upaya BI ini perlu didukung oleh masyarakat agar uang yang beredar untuk transaksi tetap aman digunakan. Digitalisasi transaksi memang telah dicanangkan oleh BI beberapa tahun ini, namun penggunaan uang tunai dipastikan masih tetap mendominasi.

Walau di masa pandemi, Ramadan dan Idulfitri diharapkan tetap membawa berkah. Karena selama ini periode Ramadan dan Idulfitri adalah siklus positif bagi kegiatan ekonomi. Porsi anggaran transportasi dengan adanya larangan mudik bisa dialihkan untuk membantu mereka yang kesusahan.

Demikian juga dengan porsi konsumsi pribadi yang bukan mendasar, dimasa pandemi anggaran tersebut lebih baik tentunya jika dialihkan untuk bersedekah atau berbagi. Mengingat sebagian masyarakat kita memang betul-betul tertekan dengan adanya ujian pandemi. Bukankah berbagi dan berbuat kebaikan di bulan suci akan dilipatgandakan pahalanya berkali-kali. (Penulis, Dosen FEBI UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here