Minggu, 21 Oktober 2018

Memutus Rantai Korupsi

Ada yang mengatakan bahwa korupsi seperti lingkaran setan (demon cyrcle). Selayaknya sebuah lingkaran garis dibuat seolah untuk menyegel apapun di dalamnya. Tidak peduli siapapun dan sebaik apapun seseorang, jika sudah masuk dalan lingkaran ia termasuk salah satunya. Oleh karena itu, wajar jika seorang pejabat terbukti melakukan tindakan KKN tapi ia masih menggembor-gemborkan tidak bersalah, bisa jadi memang ia tidak melakukanya secara langsung. Tetapi terseretnya ia adalah harga untuk sebuah kelengahan.

Sebetulnya mudah jika seseorang ingin selamat dari kasus korupsi yang tidak sengaja menjeratnya. Ia jangan masuk ke lingkaran tersebut. Namun sejatinya manusia, selalu menuntut sebuah kesejahteraan sepertinya korupsi bukan masalah. Bukti nyatanya, ribuan orang dari tahun ke tahun bahkan selalu meningkat mencalonkan diri menjadi legislatif. Belum lagi eksekutif seperti gubernur, walikota, dan bupati dengan berbagai kompanye mengumbar janji. Artinya, justru banyak orang malah ingin masuk ke dalam lingkaran setan dengan berbagai tujuan atau malah ingin memperbaikinya.

Berbicara tentang korupsi tentu tidak akan menjadi bahasan yang terhenti di Indonesia. Kasus korupsi yang selalu mewarnai media-media menjadi pemandangan wajar dan lumrah apalagi dengan peran.  Masyarakat yang melihat terlebih perkempungan media sudah tidak lagi kepo mendengar seseorang terjerat kasus korupsi. Lucunya kasus-kasus korupsi malah menjadi pembahasan anekdot di kalangan penggiat medsos, seperti yang terjadi pada kasus korupsi e-KTP yang menjerat ketua DPR RI.

Kala itu terjadi kecelakaan yang menimpa napi tersebut, mobil yang ia tumpangi menabrak tiang listrik dan korban dilarikan ke rumah sakit. Dalam kecelakaan ini tentu banyak mengundang simpati warga terutama netizen, mereka menyampaikan bela sungkawanya dengan mengatanakan “Safe Tiang Listrik” dihiasi berbagai meme. Kini masyarakat menanggapi sebuah kasus dengan penuh dramatis dan metafora. Bukti jika kemampuan masyarakat lebih cerdas dalam menanggapi sebuah kasus dan fenomena. Tetapi di sisi lain, tanggapan masyarakat pada kasus di atas juga secara langsung menyampaikan pesan singkat skeptisme pada penyelesaianya.

Secara tidak lagsung masyarakat terutama netizen memberitahu bahwa masalah ini akan ditutupi dan bahas oleh sisi lain dan ditimpa kasus lain. Masyarat memfokuskan kejadian tabrakan tersebut pada tiang listrik pada korban. Seolah-olah hal itu menyuarakan bahwa penyelesaian suatu kasus bukan pada isinya namun cangkangnya saja.  Bagaimana tidak, masyarakat sudah terlalu cape mengikuti kasus korupsi yang tak kunjung karena tumpang tinding. Misalnya saja kasus bank Century yang melibatkan Robert Tantular, kasus City Bank, proyek Hambalan, rumah sakit sumber waras, dan yang terbaru kasus pengadaan blanko E-KTP.

Sampai sekarang masyarakat tak pernah tahu bagaimana akhir dan kesimpulan selain dari perdebabatan para pakar hukum yang memusingkan di salah satu stasiun televisi lokal bermuatan politk. Kasus-kasus tersebut, satu masalah belum selesai ditimpah kasus lain sepertia rantai, saling tarik menarik dan terus tersambung. Korupsi ibarat rantai yang tersambung dan terhubung. Jika rantai terus tertarik maka satu-satunya cara untuk mengentikan gerak rantai tersebut maka harus diputuskan. Jika memang korupsi adalah rantai yang terus menarik terus menerus hingga bergenarasi. Maka memutuskan generasi adalah cara terbaik.

Berbicara

Kesuksesan yang diraih oleh suatu generasi sudah pasti tidak terlepas dari latar belakang generasi tersebut. Untuk lebih mudahnya kita dapat bertanya tentang apa yang sudah dilakukan dan diberikan kepada generasi tersebut di masa lalu, hingga dapat mengaplikasikanya sekarang. Mengenai generasi tentu tidak akan terlepas dari sesuatu yang baru untuk mengganti yang lama. Dalam hal ini tentu masa muda lah yang akan menjadi pemeran utama untuk dikaji dan diperbaiki serta dibekali.Tempat dikaji, diperbaiki dan dibekalinya anak muda adalah pendidikan.

Korupsi ibarat rantai yang terhubung dan bergenerasi. Maka wajarlah jika generasi korupsi terus terhubung ke genarasi berikutnya karena rangtainya bukan terputus malah diteruskan. Maksudnya, generasi yang saat ini terjun dan berada dalam lingkaran syetan secara tidak langsung terhubung ke tempat dimana generasi dibekali (Pendidikan). Misalnya sebuah institusi pendidikan tidak akan terlepas dari suatu peraturan yang dikemas baik dalam sebuah kebijakan atau undang-undang.

Undang-undang tersebut tidak akan terlepas dari pembuatnya. Dalam hal peran parlemen Undang-undang dibuat oleh legislatif dan salah satu annggota bahkan seorang ujung tombak lembaga melakukan tindakan tidak beradab. Maka jika kita berpikir korupsi ibarat lingkaran syetan lembaga permbuat undang-undang tersebut masuk ke dalam lingkaranya yang kemudian produknya mengalir pada tempat membekali generasi muda. Maka berikutnya generasi muda lah yang akan terkontaminasi.

Menanggapai hal di atas maka bisa disimpulkan Memutuskan rantai korupsi artinya memutuskan hubungan dari generasi sebelumnya yang membawa virus korupsi. Artinya lembaga penggenarasian atau dalam hal ini adalah pendidikan seharusnya menjadi sebuah lembaga independen yang memiliki kedaulantanya tersendiri dan tanpa interfensidari siapapun dan pihak manapun. Seharusnya juga lembaga pendidika terbebas dari dikte dan tuntutan karena hanya lembaga tersebut yang mengerti akan kebutuhan anak-anak didiknya. Terbebas dari suatu tuntutas artinya terbebas dari suatu paksaan yang dapat berujung pada tindakan tidak bermartabat. Selamatkan pendidikan Indonesia. (Rohmatul Fikri/Pendidik di SMK Tri Pelita Bangsa Pandeglang)*


Sekilas Info

TANTANGAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Oleh : Hj. Ade Muslimat. S.Mn.MM.M.Si Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *