Senin, 20 Agustus 2018

Memulihkan Kualitas Lingkungan dengan Tanaman Bambu

ANOMALI cuaca yang mengakibatkan ketidakpastian musim dan panjangnya musim kemarau, menyebabkan terjadinya berbagai persoalan, mulai dari ancaman puso pada puluhan hektare tanaman padi, serta krisis air bersih. Di Kabupaten Lebak misalnya, sejumlah daerah yang tersebar di sejumlah kecamatan terpetakan sebagai daerah yang rentan terhadap krisis air, dan sering bergantung pada pasokan air bersih dari Pemkab Lebak.

”Memang ada sejumlah daerah yang rawan terhadap ancaman krisis air. Namun sampai saat ini belum ada laporan ataupun permintaan akan pasokan air dari daerah yang rawan tersebut,” ujar Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Kaprawi kepada Kabar Banten, Senin (6/8/2018).

Sebelumnya, dalam perbincangan dengan Kabar Banten, Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak, Dede Jaelani menyatakan, salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan krisis air adalah melalui konservasi alam bagi pemulihan hutan dan fungsi-fungsi hutan terhadap lahan-lahan kritis.

Menurut Sekda, salah satu alternatif kebijakan Pemerintah Kabupaten Lebak yang dapat telah dilakukan adalah menggunakan bambu sebagai tanaman untuk reboisasi. Pertimbangan menggunakan tanaman bambu sebagai tanaman untuk penghijauan karena memiliki pertumbuhan sangat cepat, investasi kecil, tidak membutuhkan perawatan khusus, dalam usia 3-5 tahun telah memperoleh pertumbuhan mantap dan dapat dipanen setiap tahun serta dapat dilakukan penanaman dengan tanaman kayu.

”Bambu merupakan tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Bambu memiliki banyak tipe. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat. Bambu merupakan produk hasil hutan non kayu yang banyak digunakan masyarakat dalam memenuhi kehidupan sehari-hari meliputi kebutuhan pangan, rumah tangga, kerajinan, konstruksi dan adat istiadat,” kata sekda.

Selain fungsi itu, ujar sekda, bambu merupakan pilihan utama untuk reboisasi pada daerah aliran sungai (DAS) terutama di lokasi sumber tangkapan air karena memiliki kemampuan mempengaruhi retensi air dalam topsoil yang mampu meningkatkan aliran air bawah tanah sangat nyata.

Dijelaskan, sebagai tindak lanjut pemulihan fungsi hutan dan lahan serta penanganan lahan kritis lahan yang ada di Kabupaten Lebak, beberapa tahun sebelumnya, Pemkab Lebak telah menganggarkan dana untuk menangani lahan kritis dan pemulihan fungsi hutan dan lahan dengan pembuatan bibit bambu sebanyak 25.000 batang dan pembangunan sentra bambu dengan penanaman sebanyak 4.000 batang.

”Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari tanaman bambu mulai dari akar yang dapat berfungsi sebagai penahan erosi guna mencegah banjir dan dapat berperan dalam menangani limbah beracun akibat keracunan merkuri,” ujarnya.

Sekda menambahkan, bambu mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar apabila dikelola secara maksimal. Karena itu, diperlukan upaya untuk memberikan pemahaman dan mengubah persepsi masyarakat dari pemanfaatan bambu secara tradisional menjadi suatu komoditi yang lebih berdaya guna dengan menerapkan teknologi dan sentuhan seni, sehingga bambu dapat menjadi komoditi yang mampu mendatangkan keuntungan bagi pengrajin. (Dini Hidayat)*


Sekilas Info

Ribuan Lansia Dapat Bantuan Jaminan Hidup

USIA tua merupakan sebuah keniscayaan yang akan dialami oleh sebagian manusia yang diberikan usia panjang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *