Rabu, 19 Desember 2018
Adi Fikri Humaidi, Humas di Komunitas One Day One Juz Kabupaten Pandeglang.*

Memimpin Dengan Cinta

Saya akan memulai dengan sebuah kisah yang pernah terjadi di masa Rasulullah SAW melakukan perjalanan dakwah ke Thaif. Dikisahkan saat Rasulullah berdakwah kepada penduduk Thaif, Rasulullah mendapatkan perlakuan yang menyakitkan dari penduduk Thaif, Rasulullah dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif sampai berdarah-darah. Karena rasa sedih dan sakitnya itut Rasulullah mengadu dan berdo’a kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Malaikat Jibril pun datang dan menawarkan sebuah pilihan kepada Rasulullah. Kurang lebih tawaran malaikat Jibri adalah; “Seandainya engkau mau ya Rasulullah, aku akan menimpakan gunung kepada penduduk Thaif yang telah menyakitimu, supaya habis dan rata penduduk Thaif yang telah menyakitimu itu”. Jawaban Rasulullah sungguh indah, dan benar-benar mencerminkan akhlak seorang Nabi yang sangat mulia. “Jangan kau timpakan gunung itu kepada mereka, aku akan bersabar dan berdo’a kepada Allah, semoga dari rahim mereka terlahir generasi yang akan membela agama Allah,”. Masya Allah.

Doa Nabi Muhammad SAW terkabul, tidak berselang lama dari Thaif muncul para pejuang yang berani tampil kedepan membela Islam, salah satunya yang akrab kita dengar adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah SAW.

Visi Pemimpin

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah,” (QS. Al-Ahzab : 21) Lengkap sudah Rasulullah SAW memberi contoh kepemimpinan yang baik. Dalam kisah Thaif tersebut ada beberapa poin yang bisa diambil dari keteladanan Rasulullah dalam menyikapi perlakuan penduduk Thaif kepadanya.

Bukannya menyerah dan marah atas perlakuan penduduk Thaif kepadanya, tapi Rasulullah memilih bersabar tetap berpegang teguh kepada visi dakwahnya, yaitu bagaimana dakwahnya bisa tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Saat disakiti Rasulullah langsung berdo’a untuk penduduk Thaif, berharap penduduk Thaif kelak menjadi penduduk yang beriman terhadap apa yang di dakwahkannya. Ini adalah bagian dari visi Rasulullah, dimana tetap sabar dan yakin bahwa Allah akan mewujudkan apa yang menjadi harapannya.

Penting kiranya bagi seorang pemimpin memiliki visi yang jauh melampaui kehidupannya. Sekarang ini kita menyaksikan, visi yang dibuat para pemimpin kita, seolah hanya tulisan di atas kertas, yang itu hanya sebuah syarat dimana dirinya akan maju ke gelanggang pemilihan calon pemimpin (pilkada). Bahkan mungkin ada dari calon pemimpin tersebut yang sampai saat ini belum bisa menerjemahkan apa itu visi dan apa itu misi. Karena visi yang dibuat bukan lahir dari ide dan pemikirannya sendiri, tapi dibuat oleh orang lain atau para konsultan politiknya, sehingga saat visi itu berbenturan dengan gaya dan perilaku di masyarakat, pemimpin tersebut mendadak linglung dengan apa yang pernah digaung-gaungkan saat proses kampanye.

Kepemimpinannya menjadi tidak terarah, kebijakan-kebijakan yang dibuat bukannya menjadi solusi justru menjadi masalah baru yang tak kunjung selesai di era kepemimpinannya. Akhirnya masa bodo dengan visi yang pernah di kampanyekannya dulu. Pemimpin sibuk dengan kepentingannya sendiri, sementara masyarakat yang dipimpinnya sibuk dengan masalah-masalah yang tak kunjung mendapat solusi. Dalam perjalanan mewujudkan visinya, Rasulullah mencotohkan untuk selalu melibatkan Allah. Rasulullah sadar betul, bahwa sebagai manusia dirinya adalah mahluk yang lemah, yang jika tanpa izin dan kekuatan dari Allah tidak mungkin dirinya bisa menyelesaikan tugas dakwah yang diberikan.

Ini terucap dalam do’a Rasulullah sesaat setelah dilempari batu oleh penduduk Thaif “Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku di hadapan sesama manusia. Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku.

Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. Kesehatan dan karunia-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada murka-Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sehingga Engkau meridhaiku. Tiada daya dan upaya kecuali dariMu”. (Hayatu Muhammad, halaman 187). Jadi penting kiranya bagi seorang pemimpin, disamping dia harus paham dengan visi yang dibuatnya, dia juga harus bersabar dan tetap berdo’a kepada Allah. Karena apa yang dilakukannya nanti dalam usaha mewujudkan visi pasti akan ada kendala-kendala yang tidak dia kehendaki.

Memimpin Dengan Cinta

Memimpin Banten yang saat ini jumlah penduduknya lebih dari 12 juta jiwa bukanlah pekerjaan mudah. Membuat Banten berjawa dan penduduknya sejahtera tidak bisa dilakukan secara instan. Semua program yang dijalankan harus berdasarkan cinta dan kasih sayang. Apa jadinya seandainya Rasulullah menerima tawaran malaikat Jibril untuk menimpakan gunung pada penduduk Thaif. Mungkin para pembela Islam yang tangguh tidak akan lahir dari Thaif. Dengan cinta dan kasih sayangnya Rasulullah, penduduk Thaif berbalik yang tadinya benci kepada Rasulullah menjadi pendukung yang paling setia terhadap gerakan dakwah Rasulullah.

Sebisa mungkin pemimpin Banten saat ini bergerak dan membuat keputusan harus berdasarkan cinta, di dalam cinta itu ada kesabaran dan keyakinan. Keputusan dan program tidak dibuat berdasarkan pesanan kelompok tertentu ataupun kepentingan pribadi, tapi benar-benar harus mewakili apa yang menjadi harapan dan keinginan masyakarat. Sederhana sebenarnya. Kalau dalam ilmu psikologi yang pernah penulis baca, bahwa sebagai manusia Allah STW telah membekali kita dengan perasaan yang sama terhadap sesuatu yang membuat kita nyaman ataupun tidak nyaman.

Contoh, jika kita dipukul orang tentu akan merasakan sakit, begitu pun jika kita memukul orang lain, jika kita sebagai pemimpin marah dan kesal saat berkendaraan tiba-tiba kendaraan kita terseok dan terperosok kedalam lubang-lubang jalan yang rusak, maka itu pula yang dirasakan oleh masyarakat, persis apa yang kita rasakan saat menerima perlakuan atau kejadian yang sama menimpa kita.
Memandang sesuatu itu harus seperti memandang diri sendiri. Berpikir dengan baik dan hati-hati tatkala memutuskan sesuatu. Karena apapun yang ada pada diri kita termasuk soal kepemimpinan kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Jadi urusannya bukan hanya dengan masyarakat itu sendiri. Diakhir Allah yang akan turun langsung menanyai soal kepemimpinan kita.

Sekali lagi, bicara kepemimpinan bukan hanya soal siapa yang menang dalam kompetisi perpolitikan yang dilalui. Tapi lebih dari itu, pemimpin yang hadir ditengah-tengah masyarakat saat ini, diharapkan mampu membawa cinta dan kasih sayang saat bersama dengan masyarakat, sehingga kehadirannya selalu dirindukan dan selalu membawa solusi kebaikan bersama untuk pembangunan. Berharap di Banten hadir pemimpin yang seperti itu, sehingga dari Banten ini nantinya akan muncul para warganya yang siap bersinergi, bahu-membahu tanpa paksaan dalam melaksanakan program yang dibawa pemerintahnya. Seperti penduduk Thaif yang berikrar setia kepada Islam karena cinta dan kasih sayang Rasulullah kepada mereka. (Adi Fikri Humaidi/Humas di Komunitas One Day One Juz (ODOJ) Kabupaten Pandeglang).*


Sekilas Info

Transformasi Caleg

Oleh  Supadilah Jika ada yang perlu disyukuri dengan adanya musim pemilihan legislatif (pileg) salah satunya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *