Membidik Milenial Melek Kesehatan Reproduksi

Oleh : Yenie Wulandari, S.Sos, MA

Ditengah gencar-gencarnya bonus demografi, generasi milenial menjadi sorotan karena mereka dianggap memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan dalam memajukan bangsa Indonesia. Peluang untuk mencapai kejayaan dengan memanfaatkan momentum ini dinilai perlu untuk dicermati. Namun ternyata kondisi anak bangsa masih tak lepas dari berbagai pelik yang menghadangnya.

Menurut survei rata-rata remaja laki-laki maupun perempuan memiliki pacar pada usia 15 tahun dan memutuskan untuk berhubungan seks pertama kali pada usia 17 tahun. SDKI 2017 menunjukan bahwa remaja pertama kali mengkonsumsi Miras pada usia 15-19 tahun antara lain laki-laki sebanyak 69,5 persen dan perempuan 57,8 persen.

Sedangkan untuk NAPZA, rata-rata dari para responden ini mengatakan bahwa pertama kali menggunakan NAPZA pada usia 15-19 tahun (57,4 persen). Data yang lebih mengkhawatirkan yaitu bahwa remaja perempuan mulai merokok pada usia kurang dari 13 tahun sebanyak 31,4 persen sedangkan laki-laki mencapai presentase 20,8 persen.

Realitas film 2 Garis Biru

Film yang diberi judul “Dua Garis Biru” menceritakan mengenai gaya berpacaran yang terlampau bebas. Terlepas dari pro kontra yang hadir ditengah penayangannya, penonton diajak untuk melihat beberapa kondisi yang ditakutkan remaja saat kondisi ini terjadi. Dari rasa takut karena belum siap menyandang predikat ‘mama’ atau ‘papa’ pada usia 17 tahun hingga ketakutan dikucilkan oleh lingkungan keluarga dan pertemanan.

Konsekuensi lain pun mengikuti seiring dengan perkembangan si janin seperti dikeluarkan dari sekolah, kesiapan finansial yang tampaknya masih belum ada hingga berujung pada persalinan yang beresiko. Namun tidak semua remaja akan mengalami ending yang sama seperti tokoh Dara yang bisa diterbangkan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, kebanyakan anak-anak yang mengalami hal ini akhirnya harus menanggung konsekuensi pahit dengan mengurus anak tanpa harus melanjutkan pendidikannya kembali.  

Minimnya Media Penyebaran Kesehatan Reproduksi

Karakteristik remaja yang ingin tahu seharusnya diakomodir dengan pemberian informasi yang akurat melalui jalur yang benar. Hal ini mungkin juga masih dikaitkan dengan budaya yang masih menganggap tabu akan hal tersebut. Dan juga berimbas pada minimnya ekspos yang diberikan media massa.

Dan hal ini pun berpengaruh pada gaung program Generasi Berencana (Genre). GenRe bertujuan untuk memfasilitasi remaja agar belajar memahami dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan berakhlak untuk mencapai ketahanan remaja sebagai dasar mewujudkan Generasi Berencana.

Menurut data RPJMN (2014) dan SKAP (2017) Di tahun 2014 terdapat sekitar 48,2 persen remaja wanita dan 42,7 persen remaja laki-laki yang mendengar mengenai program Genre, namun di tahun 2017 hanya sekitar 27,0 persen remaja laki-laki dan 34,2 persen untuk remaja perempuan yang pernah mendengar mengenai hal tersebut.

Pentingnya Peran Orangtua

Budaya tabu yang menjadi halangan tersebarnya informasi kesehatan reproduksi (Kespro) harus dapat dihilangkan perlahan. Sekarang remaja memiliki akses ke teknologi dan media sosial yang dapat mempermudah penyebaran informasi yang sulit untuk dibatasi. Hal ini terlihat dari penggunaan akses internet ditahun 2017 sebanyak 85,9 persen untuk perempuan dan 81,9 persen untuk laki-laki (SKAP, 2017).

Melihat kondisi remaja yang menjurus ajang ‘sok’ tahu dengan mencari tahu sendiri masalah dan solusi mereka, bisa jadi akan menjadi bumerang yang dampaknya pun dirasakan oleh orangtua karena hanya sebagian kecil responden remaja yang memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi dari orangtua mereka khususnya sosok bapak. Di tahun 2012 hanya sekitar 2,6 persen dan menurun menjadi 1,7 persen pada tahun 2017.

Seorang bapak maupun ibu sudah seharusnya menjadi suri tauladan dan pembimbing bagi anak-anaknya. Orangtua harus dapat membuka komunikasi efektif, khususnya untuk remaja yang merupakan target aktif BKKBN.

Kesehatan reproduksi merupakan sesuatu yang sensitif, oleh sebab itu orangtua harus melakukan pendekatan kepada anak-anaknya. Walaupun seringkali orangtua berucap, ”Zaman Ibu dulu tuhh….” namun orangtua harus sadar bahwa kini mereka hidup di zaman anak-anaknya. Wajiblah orangtua beradaptasi untuk mengerti dunia mereka sehingga komunikasi dapat terwujud dan akhirnya dapat membentuk remaja yang berkualitas. (Penulis adalah PNS di Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Anggota IPKB Banten, Ikatan Widyaiswara Indonesia, Persatuan Pelajar Indonesia Filipina)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here