Membangun Semangat Keindonesiaan

Oleh Iin Nida’ul Hasanah

Setiap memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, segenap komponen bangsa dengan semarak memeriahkan hari lahirnya bangsa Indonesia. Berbagai aktivitas perlombaan, pengecatan pagar-pagar rumah dan gedung perkantoran, pemasangan bendera, serta pemasangan atribut bernuansa merah putih, bahkan saudara kita di Balikpapan Kalimantan Timur membentangkan bendera merah putih menjulang di atas ketinggian tower dalam ukuran raksasa.

Hal tersebut dilakukan sebagai wujud suka cita rakyat Indonesia menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia setelah sekian lama terjerat dalam ikatan belenggu penjajahan. Momentum peringatan hari kemerdekaan bagi segenap bangsa memiliki makna yang luhur, karena bukan saja mengingatkan akan peristiwa penting diproklamirkannya Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, tetapi mengingatkan pula akan peristiwa sejarah masa lalu saat bangsa ini  berada dalam kekuasaan kolonial.

Jika kembali mengingat sejarah pada masa penjajahan, bagaimana generasi pendahulu dan para pejuang bangsa rela mengorbankan segenap jiwa raganya demi kelangsungan hidup serta kejayaan bangsa dan negara. Saat itu, rakyat Indonesia berada dalam situasi memprihatinkan, penuh tekanan, perbudakan, pemerasan dan paksaan bahkan penyiksaan hingga menyebabkan kematian.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, rakyat hidup dalam kesengsaraan. Begitu banyak rakyat pribumi menderita kelaparan akibat dipekerjakan secara paksa, sementara tenaganya diperas tanpa diberi upah demi kepentingan penjajah.

Di sisi lain, para petani mengalami kerugian akibat dipaksa menjual hasil panennya kepada Belanda dengan harga yang sangat murah. Terhadap rakyat yang melanggar atau memberontak, penjajah pun tak segan-segan menyiksanya dengan cambuk atau dibuang ke daerah lain, bahkan dihukum gantung. Peristiwa tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama hingga berakhir tahun 1942.


Masa Jepang

Tak hanya Belanda, Jepang pun menjadi bagian negara yang berhasil menguasai Nusantara.. Sejarah mencatat bahwa pada Maret 1942, Jepang mulai mendarat ke Indonesia dan menggempur pasukan Hindia Belanda. Pasukan Belanda kemudian terusir ke beberapa kota bahkan di antara mereka yang selamat, melarikan diri ke Australia dan membuat Hindia Belanda sementara di sana.  Setelah Belanda menyerah, Jepang kemudian mengambil  alih kedaulatan bangsa Indonesia.

Sejak Jepang berkuasa, rakyat Indonesia pun dalam situasi menderita. Bahkan rakyat merasa kehidupannya semakin sulit. Perekonomian semakin rapuh, tarif pajak berlipat ganda, lapangan pekerjaan bagi rakyat jelata tidak ada, pendidikan tak didapat, mencari makan sulit, layanan kesehatan buruk, hukum semakin semrawut. Di sisi lain, kebebasan berbicara dan mengungkapkan pendapat pun dibatasi.

Dalam situasi dan kondisi yang serba sulit itu, pemerintah Jepang juga mematikan akses   informasi bagi penduduk Indonesia terutama akses informasi dari media dengar (radio) hingga Jepang menerbitkan sebuah peraturan baru di mana masyarakat hanya boleh mendengarkan siaran dari stasiun radio yang sudah disensor.

Siaran-siaran yang mengudara diawasi secara ketat. Sementara siaran dari luar negeri diputus. Selain itu, Jepang mengatur pula, semua yang memiliki radio harus mendaftarkan diri agar radionya dapat digunakan. Bagi penduduk yang mendengarkan radio gelap akan dihukum berat, bahkan sampai hukuman mati.

Di tengah Jepang menjajah Indonesia, Amerika Serikat sebagai salah satu negara pendukung Hindia Belanda melakukan serangan pengeboman terhadap Jepang. Pengeboman dilakukan di negara Jepang melalui pesawat tempur Amerika tepatnya di Kota Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Amerika pun mengancam, jika Jepang tidak menyerah kepada Belanda, maka Amerika akan terus membombardir Jepang dan meluluh-lantahkan seluruh kota. Atas peristiwa itulah kemudian Jepang menyerah tanpa syarat kepada Belanda dan mengakhiri penjajahannya di Indonesia pada tahun 1945.

Deklarasi kemerdekaan

Penghancuran dua Kota di negara Jepang oleh Amerika Serikat secara nyata menguntungkan pihak bangsa Indonesia, sehingga tanpa buang waktu para pejuang dan aktivis pergerakan persiapan kemerdekaan dengan segera melakukan persiapan untuk mendeklarasikan kemerdekaan. Atas desakan para aktivis muda pergerakan, meski dengan banyak pertimbangan, Bung Karno didampingi Bung Hatta kemudian membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia di hadapan kerumunan rakyat Indonesia.

Tapi sesungguhnya, proklamasi bukanlah akhir dari semua. Proklamasi hanyalah awal dari segala jenis perjuanagan. Situasi bangsa begitu cepat menggelincir. Bagai air pasang surut, suasana tanah air kembali berubah setelah pasukan Inggris (Negara pendukung Hindia Belanda) datang ke Indonesia menyergap pasukan Jepang.

Jika dulu, pasukan Jepang yang menjebloskan tentara Belanda ke tahanan, maka kali ini tentara Jepang yang dijebloskan sekutu ke tahanan. Secara diam-diam ternyata bersama sekutu ikut pula tentara Belanda dengan sebutan Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Bagi sekutu, daerah Hindia Belanda akan tetap dikembalikan sebagaimana Belanda dikalahkan Jepang tahun 1942. Hal inilah yang kemudian memunculkan terjadinya revolusi kemerdekaan Republik Indonesia.

Melihat demikian panjangnya sejarah bangsa Indonesia dan banyaknya negara penjajah yang ingin menguasai tanah air, seakan menggugah kembali rasa semangat kebangsaan dan semangat keindonesiaan serta menimbulkan tekad dan dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa ini. Rasa kebangsaan menumbuhkan pula semangat untuk melakukan perubahan agar bangsa ini sampai kepada tujuannya yaitu menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.

Jika dahulu, para pejuang berkorban jiwa raganya untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan, maka hari ini wujud pengorbanan kita adalah mempertahankan kemerdekaan. Di sinilah pentingnya memahami sejarah. Peribahasa “tak kenal maka tak sayang” tidak saja dalam hubungan manusia dengan manusia melainkan juga hubungan manusia dengan negara. Tanpa memahami sejarah tidak mungkin setiap diri warga negara bisa mencintai tanah airnya.

Melanjutkan perjuangan

Tugas generasi bangsa saat ini adalah melanjutkan perjuangan. Perjuangan yang tidak lagi dalam peperangan senjata, namun perjuangan untuk menjadi diri warga negara yang baik. Untuk mewujudkan itu, diperlukan sikap dan perilaku yang mencerminkan ketaatan menjalankan ajaran agama serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam Islam, agama tidak saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya namun mengatur pula hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan negaranya. Warga negara yang menjalankan ketaatannya terhadap ajaran agama berarti menunjukkan pula kesetiannya terhadap Pancasila sebagaimana tercermin dalam Sila Kesatu yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Warga negara yang menjalankan ajaran agamanya dengan konsekuen berarti ia warga negara yang baik . Bilamana dalam sebuah negara terhimpun warga negara yang baik, maka negara akan baik pula dan tujuan bernegara untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan akan tercapai.

Tujuh puluh empat tahun sudah bangsa ini menikmati hingar bingar kemerdekaan. Nilai kemerdekaan yang sudah dinikmati ini sejatinya dapat menjadi modal dasar dalam mencapai tujuan bernegara yaitu kemakmuran dan kesejahteraan. Namun dalam usia yang sedemikian ini, bangsa Indonesia masih terus berada dalam pasang surut. Cobaan demi cobaan silih berganti terus melanda bangsa ini. Proses pembangunan pun menjadi terhambat akibat dilanda berbagai bencana alam mulai tsunami, gempa, erupsi gunung, banjir, kekeringan bahkan akhir-akhir ini terjadi musibah kebakaran lahan hutan hingga ribuan hektare.

Perilaku memprihatinkan

Di samping itu, ada hal lain yang juga memprihatinkan, yaitu munculnya perilaku sosial yang kurang mendukung pada proses pengisian nilai-nilai kemerdekaan. Tindak pidana korupsi, kolusi, nepotisme, ego jabatan dan kekuasaan, pertikaian antar-kelompok, antar-suku dan antar-golongan, menjadikan bangsa ini sulit mencapai kemajuan. Setelah terjadi perang senjata, lalu bergeser pada perang ideologi, kini harus berjuang melakukan revolusi mental dan moral.

Kondisi di atas menunjukkan begitu besar ujian dan rintangan bangsa Indonesia. Di tengah pasang surutnya proses pembangunan akibat bencana, di hadapkan pula dengan rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia baik secara mentalitas maupun moralitas.  Sesama anak bangsa saling menghujat, saling memfitnah, saling menjatuhkan, sementara tantangan di depan mata jauh lebih besar.

Hal yang lebih tampak adalah maraknya penyelundupan narkoba ke Indonesia dari negara asing yang ancamannya bukan saja merusak moral dan mental masyarakat, namun juga meruntuhkan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Di satu sisi, hadirnya budaya dan kultur asing juga membawa pengaruh terhadap pandangan masyarakat Indonesia yang menganggap bangsa asing dalam segala hal lebih baik dari bangsa Indonesia. 

 Sehubungan dengan hal tersebut, tepat kiranya dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 kemerdekaan Negara Republik Indonesia ini, setiap jiwa bangsa untuk menyadari pentingnya membangun kesadaran mentalitas dan moralitas bangsa yang santun, berwatak luhur, pekerja keras, tidak korup, tidak egois dalam jabatan dan kekuasaan.

Sudah saatnya bangsa ini kembali pada jati dirinya yang otentik yakni berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah negara yaitu Pancasila. Dengan mental dan moral yang baik itulah Indonesia akan mencapai kemajuan. Hal ini tepat dengan tema peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2019 ini yaitu “SDM Unggul Indonesia Maju”. Dirgahayu ke-74 RI .

Penulis adalah Aparatur Sipil Negara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here