Membangun Optimisme di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Gito Waluyo

Pandemi covid-19 memang berdampak luas terhadap segala sektor, tidak hanya sektor kesehatan dan ekonomi saja yang terdampak, tetapi sisi psikologis masyarakat juga terdampak. Pers dan milineial pun dianggap memiliki peran sentral dalam menjaga optimisme bangsa melewati Pandemi Covid-19.

Penyebaran Covid-19 yang terus terjadi tidak saja berimbas pada sektor kesehatan masyarakat, namun juga ekonomi nasional. Kecenderungan tersebut terindikasi dari meningkatnya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang berimbas pada bertambahnya angka pengangguran. Akibatnya, terjadi kelesuan perekonomian warga jelang hari raya idul fitri.

Sebagian masyarakat mulai dirundung pesimistis tentang bagaimana cara survive selama pandemi. Tentu saja ada berbagai presdisposisi yang melatar belakanginya, selain meningkatnya angka PHK, ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol yang telah ditetapkan oleh pemerintah juga menjadi landasan pesimistis masyarakat terhadap berakhirnya pandemi covid-19.

Sebelumnya, Menteri Pariwisatan dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio telah mengajak kepada anak muda khususnya kaum milenial dan generasi Z untuk tetap optimis dalam menghadapi tantangan pandemi covid-19 dan bersiap untuk menyambut kondisi new normal pascapandemi.

Dalam bidang ekonomi kreatif, Kemenparekraf mendorong hadirnya kreatifitas di masing-masing destinasi, caranya dengan melakukan training, coaching dan lainnya. Ia menambahkan, pada setiap krisis selalu ada kesempatan, namun harus juga ada strategi untuk manfaatkan kesempatan tersebut.

Momentum ini tentu tergantung setiap individu untuk bisa memanfaatkannya, akankah menjadi seseorang yang pesimistis atau akan melewati masa pandemi dan menjadi pemenang. Bahwa dalam situasi seperti ini tidak mudah bagi pariwisata untuk berkembang, dan seluruh dunia pun mengalaminya.

Wabah virus corona haruslah dimaknai sebagai peringatan dari Tuhan untuk mendorong Indonesia masuk ke dalam situasi atau ke dalam era yang lebih baik ke depan. Saat ini justru ketika kontak fisik adalah hal yang tidak dianjurkan, teknologipun memberikan solusi berupa virtual meeting, dimana hal ini tentu sebelumnya tidak terpikirkan.

Tentu saja anak muda di Indonesia diharapkan juga mampu menciptakan platform media sosial buatan anak bangsa agar Indonesia semakin memiliki daya saing tinggi. Karena, sudah saatnya Indonesia mampu mendorong industri digital dalam negeri.

Pada kesempatan berbeda, jajak pendapat online yang dilakukan oleh UNICEF antara 27-31 Maret melalui platform keterlibatan U-Report, SMS dan aplikasi pengiriman pesan instant, mendapatkan lebih dari 7000 tanggapan anak muda berusia 15-30 tahun dari 34 provinsi di Indonesia.

Peserta diminta menjawab serangkaian pertanyaan untuk mengukur perasaan mereka mengenai covid-19 dan pemahaman mereka tentang gejala dan pencegahan. Dengan memilih set emoji untuk mengekspresikan perasaan mereka saat ini.

Hasilnya 29 persen diantara mereka menjawab bahwa mereka bahagia, 28 persen diantara mereka mengatakan bahwa dirinya merasa biasa saja, dan sisanya 22 persen mereka mengatakan dirinya sedih.

Optimisme untuk melewati pandemi covid-19 juga timbul dari Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh, dirinya menyebutkan bahwa selama pandemi virus corona, mayoritas media kebanyakan mengangkat topik yang positif. Seperti halnya tentang kesembuhan pasien yang sebelumnya terpapar virus tersebut.

Adanya mayoritas topik pemberitaan terkait kesembuhan pasien tersebut diharapkan dapat membangun optimisme kepada masyarakat terkait virus corona, namun juga bukan berarti keganasan virus ini diremehkan. Artinya, hal ini tentu menunjukkan harapan besar untuk menumbuhkan optimisme masyarakat dengan memberikan optimisme dalam masyarakat.

Dalam hal ini Nuh juga mengingkatkan kepada semua media untuk tetap menjaga kode etik jurnalistik dalam memberitakan pandemi virus corona di Tanah Air. Hal ini bertujuan agar pers tidak menyampaikan informasi yang membingungkan masyarakat nantinya.

Sikap optimisme tentu akan menjauhkan masyarakat dari overpanic yang justru menambah kecemasan. Sehingga pers memiliki peran yang sangat strategis untuk menyebarkan optimisme kepada masyarkat secara luas untuk terus berjuang melewati pandemi covid-19.

Selain itu, pers juga diharapkan mampu membangun atmosfer yang kondusif tumbuhnya empati dan kedisiplinan publik serta mobilisasi sumber daya bangsa dan negara tersebut. Pers juga harus menjadi sterilisator dalam upaya melawan berita bohong yang tersebar di masyarakat. Hal ini selain dapat menumbuhkan sikap optimis juga dapat meningkatkan kesetiakawanan sosial.

Optimisme Pers dan Anak Muda haruslah dijaga selama pandemi, anak muda sebagai jumlah populasi terbanyak dan pers sebagai lembaga strategis dalam memberikan wacana, tentu saja memiliki peran penting bagi optimisme masyarakat dalam melewati Pandemi Covid-19. (Penulis adalah penulis lepas, bekerja di Harian Umum Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here