Membangun Mindset Baru di Era ‘New Normal’ (1)

H. Bahrul Ulum, S.Ag., M.AP.*

H. Bahrul Ulum, S.Ag., M.AP

Pandemi Covid-19 telah menyebar ke Indonesia awal pertengahan Maret 2020. Berbagai langkah diupayakan pemerintah dan lembaga-lembaga terkait untuk mengatasinya. Mulai pembatasan jarak fisik dan jarak sosial (physical distancing & social distancing) sampai saat ini yang kita kenal dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Bersamaan itu pula, banyak instansi-instansi baik pemerintah maupun swasta memberlakukan berbagai pembatasan-pembatasan dalam melakukan aktivitasnya. Dinas pendidikan misalnya, mulai meliburkan anak-anak sekolah baik dari tingkat PAUD/TK, SD, SMP, SMA dan bahkan perguruan tinggi sejak pertengahan Maret 2020.

Awalnya hanya selama 14 (empat belas) hari. Tetapi karena wabah terus berkembang dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti, maka libur diperpanjang hingga akhir Mei 2020, bahkan diperpanjang lagi sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan. Pembelajaran tatap muka diganti dengan pembelajaran melalui media online atau yang kita kenal dengan istilah e-learning.

Sejak menjadi pandemi global, virus corona menjadi momok manakutkan bagi seluruh negara. WHO sendiri sudah menetapkan Covid 19 sebagai pandemi global. Mengingat virus ini penyebarannya sangat cepat dan dengan mudahnya tersebar melalui udara.

Berdasarkan data dari CSSE Johns Hopkins University per tanggal 4 Juni 2020 total jumah kasus positif corona di dunia mencapai 6.514.359 jiwa. Sementara khususnya di negara kita Indonesia menurut data dari Gugus Tugas Covid-19 per tanggal 4 Juni 2020 sebanyak 18.205 jiwa.

Data–data tersebut sungguh membuat kita tercengang, siapa sangka yang awal kemunculannya kita menganggapnya hanya ada di Wuhan ternyata akhirnya sampai juga ke negara kita. Pemerintah Indonesia terus mengampanyekan menerapkan kebijakan yang menghambat laju pergerakan dengan memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dengan menerapakan Social Distancing dan Work From Home (WFH). Banyak juga dari publik figur yang ikut membantu mengampanyekan aturan dari pemerintah tersebut.

Rasa-rasanya kalau kita melihat hampir setiap hari data-data tersebut entah di media massa atau media elektronik bisa menciptakan pikiran negatif dalam pikiran kita. Ada semacam kecemasan, ketakutan ditambah lagi tempat bekerja kita berhenti beroperasi hingga akhirnya dirumahkan bahkan dapat jatah kuota pengurangan karyawan.

Memang ini kondisi yang kita tidak inginkan, tapi ingat pandemi Covid-19 ini datangnya dari Allah. Setidaknya kita melihat dari 2 perspektif. Sebagai ujian bagi orang-orang beriman yang terus melakukan amal shalih dan sebagai cobaan bagi orang-orang yang melakukan dosa. Semoga adanya pandemi ini sebagai wadah introspeksi diri bagi kita manusia yang penuh khilaf dan salah.

Tetap beraktivitas dengan WFH

Semenjak adanya Covid-19 yang merupakan penyakit menular disebabkan oleh virus bernama SARS-COV-2, atau seringkali disebut virus corona yang pertama kali berasal dari Wuhan Cina di akhir tahun 2019 semua kehidupan manusia berubah 180 derajat.

Penyebaran Covid-19 yang bersifat luar biasa dengan ditandai jumlah kasus dan/atau jumlah kematian telah meningkat dan meluas lintas wilayah dan lintas negara dan berdampak pada aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, hukum, pertahanan dan keamanan, serta kesejahteraan masyarakat di Indonesia, maka Presiden mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020, tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Sekarang ini hampir di seluruh negara mengalami penurunan ekonomi yang cukup tajam, dan bisa berdampak kepada kesejahteraan rakyat di setiap negaranya. Indonesia per tanggal 1 Mei 2020 sudah mengalami kerugian 9 triliun dolar AS (Warta Ekonomi).

Belum lagi dengan utang yang masih harus dilunasi oleh negara maupun rakyatnya. Sekarang ini ekonomi lebih parah dibanding pada masa krisis tahun 1998. Untuk bertahan hidup masyarakat sebaiknya harus saling bergotong royong dan memberikan sebagian hartanya untuk yang membutuhkan.

Begitu juga untuk dunia usaha, berbagai langkah diupayakan agar roda bisnis tetap berjalan. Ada yang diberlakukan kerja shift, ada juga yang secara penuh dilakukan dari rumah atau WFH (Work From Home). Kerja dari rumah atau WFH untuk menghindari perkumpulan (interaksi sosial) secara parsial demi memutus rantai penyebaran Covid-19.

Bekerja dari rumah dalam waktu yang cukup lama, tentunya menjadi persoalan dan tantangan tersendiri bagi para pekerja/pegawai. Hal ini memerlukan strategi dan penyesuaian diri sekaligus inovasi-inovasi yang cerdas untuk menyikapi kondisi seperti ini, yang selama ini belum pernah kita lakukan bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Lingkungan kerja yang sangat berbeda, menuntut adanya upaya adaptasi berbagai aspek agar kualitas kerja tidak berbeda dengan saat kita melakukan di kantor, sekolah atau kampus. Di antaranya adalah pengaturan tempat yang nyaman serta manajemen waktu yang sangat tepat. Misalnya waktu untuk keluarga, waktu bekerja, istirahat, olah raga dan lainnya.

Penat, bosan dan seabrek istilah untuk menggambarkan kejenuhan selama melakukan WFH. Tak jarang rasa frustrasi hinggap di benak kita. Karena kita tidak tahu, sampai kapan situasi seperti ini akan berakhir. Tetapi demi suatu tugas yang mulia, serta kemuliaan hidup untuk tetap bisa menghidupi diri dan keluarga, rasa penat, bosan dan apapun istilahnya itu, harus bisa kita singkirkan jauh-jauh dari benak kita.

Banyak pakar yang mengatakan bahwa pada hakekatnya kita sedang dalam situasi perang. Hanya saja lawan kita memang tidak terlihat seperti dalam perang biasa, karena musuh kita sekarang berupa makhluk kecil berukuran nano bernama virus Covid-19 yang tak nampak oleh mata telanjang kita. Dalam situasi seperti ini diperlukan karakter dan sikap yang kuat dan tepat agar kita bisa survive, bertahan, melalui dan bahkan memenangi perang ini.

Untuk itu, meski dalam situasi WFH, ada satu sikap yang wajib kita tanamkan dalam hati dan wajib kita terapkan, yaitu bangunlah mindset baru. Ini adalah salah satu faktor kunci untuk memenangi perang ini. Dengan manajemen pikiran baru, hati dan waktu akan dapat membuat kita mejadi tangguh hingga mampu melewati perang ini dengan kemenangan. (Penulis, Ketua DPRD Kabupaten Serang)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here