Membaca Ketokohan Brigjend KH. Syam’un

SUASANA diskusi ”Obrolan Mang Fajar” dengan tema ”Membedah Buku 'Brigjend KH. Syam'un: Tokoh 3 Dimensi”, karya Dr. Machdum Bachtiar yang diterbitkan Pustaka Kabar Banten di Kantor Harian Umum Kabar Banten, Jl. Jend. A Yani No. 72 Kota Serang, Kamis (11/4/2019).*

Harian Umum Kabar Banten menggelar diskusi rutin Obrolan Mang Fajar di kantor redaksi Jl. Jend. A Yani No. 72 Kota Serang, Kamis (11/4/2019). Kali ini tema yang diangkat yakni “Membedah Buku ‘Brigjend KH. Syam’un: Tokoh 3 Dimensi’, karya Dr. Machdum Bachtiar yang diterbitkan Pustaka Kabar Banten.

Diskusi menghadirkan narasumber Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten Dr. Ajak Moeslim, Rektor Unbaja Dr. Sudaryono, Akademisi Untirta Dr. Fadhlullah, dan Plt Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banten Ujang Rafiudin.

Hadir dalam diskusi akademisi Wakil Rektor Unbaja Sutanto, akademisi Unbaja Toni Anwar Mahmud, Alamsyah Basri, akademisi UIN SMH Banten Dr. Wasehudin, akademisi Uniba M Sholeh, ASN Pemprov Banten Dr. Aries Ismail, pengamat pendidikan Ita Suhuda, keluarga KH. Syam’un Rinon Agus W, tokoh seniman Sanoesi Didjaja, budayawan Ibnu S Megananda, akademisi UPI Kampus Serang Ana Utami F, mahasiswa dan mahasiswi UPI Serang, dan aktivis KAMMI Banten Muhammad Fadli.

Diskusi dipandu Pemimpin Redaksi Kabar Banten Maksuni Husen dan dihadiri Direktur Kabar Banten Rachmat Ginandjar. Sejumlah narasumber mengapresiasi terbitnya buku yang ditulis Dr. Machdum Bachtiar tersebut. Dalam buku tersebut, Machdum menulis sosok KH. Syam’un sebagai tokoh tiga dimensi yakni tokoh agama/kiai, tokoh pendidikan, dan tokoh militer.

Sebagai tokoh agama, KH. Syamun merupakan perintis pesantren salafi di Citangkil Kota Cilegon, yang kemudian menjadi cikal bakal perjuangannya mendirikan perguruan Islam Al-Khairiyah. Sebagai tokoh agama, KH. Syam’un bukan hanya menjadikan pesantren sebagai basis pengajaran agama, tetapi juga ilmu-ilmu yang lain, nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan dan menempa santri sebagai kader untuk pengembangan ajaran Islam.

Sedangkan sebagai tokoh pendidikan, KH. Syam’un merintis sistem pendidikan madrasah sebagai pengembangan pesantren salafi. Madrasah yang dinamai Al-Khairiyah Citangkil itu kemudian menjadi inspirasi dalam pembentukan organisasi Perguruan Islam Al-Khairiyah yang masih eksis hingga sekarang.

Sebagai sosok militer, KH. Syam’un merupakan tokoh pejuang yang gigih dan memiliki jiwa patriotis juga nasionalis. Ia pernah bergabung dengan kelompok Pembela Tanah Air (Peta) bersama Kasman Singodimedjo. Selanjutnya, Syam’un bergerilya bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Dalam diskusi sejumlah narasumber menyebut Ki Syam’un lebih tepat disebut tokoh multidimensi, atau ada sebutan yang merepresentasikan dari tiga kategori ketokohan tadi. “Saya melihat Ki Syam’un lebih tepat disebut sebagai tokoh multidimensi atau dalam bahasa pendidikan interdisipliner,” kata Rektor Unbaja Sudaryono.

Dr. Wasehudin melihat Ki Syam’un sebagai tokoh multi dimensi yakni tokoh agama, pendidik, dan jawara. “Beliau tokoh pendidikan yang mampu melahirkan ribuan ulama yang menerangi kehidupan di Banten,” katanya.

Terhadap penyebutan Tokoh Tiga Dimensi terhadap Ki Syam’un, Plt Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banten Ujang Rafiudin memandang perlunya mengategorikan gabungan dari sosok tiga dimensi tersebut.

“Saya melihat dalam halaman 137 dimensi ketokohan Ki Syam’un yakni tokoh agama/kiai, tokoh pendidikan dan tokoh militer ada irisan yang sama. Tinggal dirumuskan yang lebih tepat,” ujarnya.

Terhadap ketokohan Ki Syam’un, Ajak melihat ada kemiripan dengan tokoh Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali. Kesamaan tersebut terlihat dari bidang yang digeluti, yakni keduanya memiliki lembaga pendidikan, Al-Ghozali dengan An-Nidzomiyah dan Ki Syam’un dengan Perguruan Al-Khairiyah.

Ajak Moeslim melihat sosok Ki Syam’un merupakan tokoh yang lahir pada akhir abad ke-19, bersamaan dengan tokoh-tokoh lain di Indonesia. Seperti KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Mas Abdurrahman (pendiri Mathlaul Anwar).

“Pada akhir abad ke-19 tersebut, banyak tokoh-tokoh lokal yang pulang belajar dari Mekkah dan pulang ke Indonesia dengan mendirikan pesantren,” ucapnya.

Akademisi Untirta yang juga alumni Perguruan Al-Khairiyah Dr. Fadhlullah melihat sosok Ki Syam’un memiliki keberuntungan dibandingkan tokoh lain karena mengenyam pendidikan tidak hanya di Kota Haramain (Mekkah dan Madinah), tetapi juga dari Mesir.

“Pengalaman mengenyam pendidikan di Mesir sebagai kota gerakan pembaharuan Islam, berpengaruh pada corak pemikiran dan gerakan saat pulang ke tanah air. Nama Al-Khairiyah adalah nama bendungan di Mesir,” tutur Fadhullah.

Ia menuturkan, keberuntungan lain yakni Ki Syam’un dibesarkan dalam lingkungan perlawanan penjajah. Namun berbeda dengan kakeknya tokoh Geger Cilegon KH. Wasyid, Ki Syam’un pertama kali datang ke Citangkil lebih memilih gerakan pendidikan dan ekonomi. Yakni dengan mendirikan Perguruan Al-Khairiyah dan Koperasi Bumi Putera.

“Cita-cita besar Ki Syam’u adalah membangun negara dengan mewujudkan masyarakat yang terdidik dan makmur,” ucapnya. Selain juga membangun negara harus ditopang dengan kekuatan tentara.

Ia mengatakan, konsep pendidikan Ki Syam’un sangat relevan hingga sekarang yakni pendidikan dimulai dari masjid. Ki Syam’un, kata Fadhullah, mengadopsi sistem pendidikan di Madinah dengan istilah ‘Kuttab” yang menekankan tradisi menulis. “Tradisi menulis didalamnya mencakup tradisi membaca,” tuturnya.

Dr. Wasehudin memberikan masukan agar buku Brigjend KH. Syam’un: Tokoh Tiga Dimensi juga dikupas dari silsilah kedua orangtuanya. Menurut dia, tokoh besar seperti KH. Syam’un pasti tidak lepas dari didikan orangtuanya.

Muatan lokal

Dalam bagian lain, diskusi juga memandang perlunya sejarah perjuangan Ki Syam’un dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal sekolah di Banten. “Tantangan ke depan yakni bagaimana generasi sekarang bisa membumikan nilai-nilai ketokohan dan kejuangan Ki Syam’un. Salah satunya dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Sudaryono. Ia mengatakan, sejarah Ki Syam’un seharusnya dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. “Sebaiknya dimasukkan dalam muatan lokal. Buku-buku seperti itu sangat baik dalam rangka meningkatkan literasi. Apalagi dengan kondisi saat ini minat baca tinggi tetapi daya baca rendah, karena serbuan media sosial,” tuturnya.

Terhadap usulan ini, Ujang Rafiudin mengatakan, saat ini belum bisa direalisasikan mengingat cantolan hukum untuk muatan lokal di Banten baru seni budaya, yakni seni pencak silat, rampak bedug dan keterampilan membatik. Namun demikian, dia mengapresiasi terhadap usulan dan terbitnya literatur tentang Ki Syam’un.

Sementara itu, Dr. Aries buku karangan Machdum Bachtiar mengenai sosok Ki Syam’un menjadi inspirasi bagai kalangan mahasiswa, akademisi maupun peneliti untuk menggiatkan studi-studi biografi dengan pendekatan metodologi histiografi. “Harus digalakkan lagi studi biografi yang berkaitan dengan lokalitas. Ini sangat berperan penting dalam pembangunan di daerah,” kata doktor lulusan Unpad ini.

Rinon Agus W sangat terharu saat membaca buku Brigjen KH. Syam’un. “Banyak kawan mengingatkan kembali kepada saya agar jangan ‘parem obor”. Nilai-nilai perjuangan Syamun harus dikuatkan lagi. Yakni spirit dalam memajukan umat. Spirit Ki Syam’un tidak boleh pudar,” ucap Rinon yang merupakan anak dari Ahmad Gandi, suami dari janda Ki Syam’un, Hj. Hasunah ini.

Diketahui, Brigjen TNI (Anumerta) KH. Syam’un lahir di Beji, Bojonegara, Serang, Banten, 5 April 1894. Tokoh pejuang kemerdekaan menentang Pemerintahan Hindia Belanda di Banten itu, meninggal di Kamasan, Cinangka, Serang, Banten, 28 Februari 1949 pada umur 54 tahun.

KH. Syam’un merupakan keturunan KH. Wasid yang pernah bergerilya menentang penjajah Belanda pada tahun 1800-an. Sebagai keluarga seorang patriot, Syam’un mewarisi mandat sebagai sosok yang memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara.

Bagi masyarakat Banten, nama Sya’mun harum sebagai Bupati Serang pasca-kemerdekaan Indonesia. Ia bertugas sebagai abdi negara di kabupaten itu pada 1945-1949. Ia meninggal pada 1949 karena sakit, setelah memimpin pertempuran di Serang. (Denis Asria)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here