Sabtu, 22 September 2018
JULIAN Millie dari Monash University, Australia memaparkan materinya, pada diskusi penelitian mengenai isu islam di berbagai media, di Aula Redaksi PR, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa, 26 Juni 2018. Diskusi juga menghadirkan Hawe Setiawan dari Unpas Bandung, dan Darpan Ariawinangun sebagai pembicara.*

Membaca Islam di Jawa Barat

BANDUNG, (KB).- Islam sebagai agama yang dominan di Jawa Barat memiliki posisi yang menarik untuk disimak. Dia seringkali mempengaruhi sekaligus terpengaruh oleh adat kebiasaan masyarakatnya. Media kemudian memiliki peran besar dalam mewartakannya dan pada satu titik mengubah ekspresi publik di bidang keagamaan.

Namun, masih seberapa efektifkah peran media massa terutama surat kabar dalam memainkan peran ini? Menjawab pertanyaan tersebut, seorang antropolog dari Monash University Australia, Julian Millie mencoba membedahnya. Tak hanya melihat seberapa penting peran media, bersama budayawan Unpas Hawe Setiawan dan Darpan Ariawinangun dari Garut, Julian juga mencoba membandingkan ekspresi ke-Islaman di kancah ibu kota Jakarta, Jawa Barat, dan Priangan Timur lewat surat kabar yang beredar di tiga area itu: Kompas mewakili Jakarta dan nasional, Pikiran Rakyat mewakili Jawa Barat, dan Kabar Priangan yang mewakili kawasan Priangan mencakup Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya.

Menurut Julian, penelitiannya tentang Islam di Jawa Barat bukan kali ini saja. Sejak 2002, dia telah menjadikan ibadah sebagai obyek penelitian dengan metode participant observation yang membuatnya ikut dalam ritual ibadah itu. Begitu pun dengan Pikiran Rakyat yang dia baca selama penelitian dan membentuk gambaran tentang ekspresi rutin dan siklus ibadah yang dilakukan umat Islam di Jawa Barat.

“Dan selama itu, saya mulai sadar bahwa Umat Islam di Jawa Barat mengikuti rutin atau siklus dalam ibadahnya. Kehidupannya terstruktur mengikuti pola dan kalender ibadahnya. Rutin-rutin ini punya wibawa yang sangat tinggi dalam masyarakat Jawa Barat,” kata Julian saat berdiskusi mengenai penelitiannya di Aula “PR”, Jalan Asia Afrika 77, Kota Bandung, Selasa, 26 Juni 2018.

Berkelindan dengan penelitian yang dia lakukan saat itu, Julian melihat bahwa Pikiran Rakyat mewujudkan rutin itu dan mendukung, menggambarkan, hingga memuat banyak pesan dakwah yang berhubungan dengan praktik ibadah itu. Namunn, ketika dia membaca Kompas, -koran yang di Bandung disebut sebagai koran nasional- ada perbedaan penyampaian meski substansinya tetap berhubungan dengan praktik ibadah rutin itu.

“Di Pikiran Rakyat banyak muatan yang tidak dimengerti oleh orang luar seperti saya tentang praktik ibadah itu. Namun di Kompas, sebagai orang luar, liputan agama Islam di Kompas bisa diartikan secara langsung. Kontras itu apa maknanya? Implikasinya? Itu tujuan penelitian kecil ini,” kata dia.

Jika melihat sedikit teori, surat kabar di zaman sekarang masih penting sebagai medium yang memungkinkan seseorang menyadari bahwa dirinya menjadi salah satu anggota dari suatu subjek atau komunitas. Surat kabar juga memungkinkan kita untuk membandingkan lingkungan geografis yang mencerminkan khalayak nyata dalam lokasi yang nyata.

“Ikatan emosional yang digerakkan koran seperti PR sama dengan ikatan emosional sebagai subyek dengan komunitasnya atau bangsanya. Ketika mereka membaca sesuatu, mereka merasa pesan ini mengenai kepentingan saya. Ketika tidak setuju, dia bisa merasa harusnya surat kabar ini memberi saya ekspresi karena itu hak saya,” kata dia.

Dalam penelitian yang dimulai sekitar satu tahun ke belakang ini, Julian membagi tugasnya dengan Hawe dan Darpan. Julian membaca Kompas, sementara Hawe membaca Pikiran Rakyat dan Darpan membaca Kabar Priangan. Di temuan awal penelitiannya, dia pun menemukan beberapa perbedaan surat kabar yang dijadikan obyek penelitian dalam mewartakan agama Islam.

“Saya lihat di koran nasional ini yang paling menonjol adalah tekanannya pada Islam etnografis, yaitu lewat imej-imej Muslim yang sedang melaksanakan Islam dengan praktik yang jelas unik, otentik, serta berasal dari seluruh pelosok Indonesia,” kata dia.

Alasan Kompas mengangkat itu jelas bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Namun, dia melihat setidaknya dua perspektif: Yakni kebhinekaan dan kemanusiaan.”Tekanan pada Islam entografis ini memengaruhi penggambaran otoritas agama dalam Kompas. Tokoh yang bersuara adalah mereka yang wibawanya tidak mengandalkan pengertian tunggal tetapi cendekiawan, ahli filsafat, sampai tarekat,” kata dia.

Dia pun menambahkan: “Sebelum memulai penelitian ini, saya membayangkan liputan Islam di PR lebih sempit dari yang saya baca di Kompas. Mungkin karena Kompas dikenal liberal atau mengekspresikan wawasan yang lebih luas. Tetapi ternyata, PR lebih beragam menurut saya. Kebhinekaan jadi fokus utama Kompas, tapi di PR lebih substantif.”

Hawe Setiawan yang mengkhususkan dirinya membaca PR dalam penelitian ini menuturkan dalam PR, konten tentang agama justru cenderung mengedepankan ritual dan simbolik. Hal ini dia lihat dari konten PR yang  selalu menyediakan ruangan khusus untuk mewadahi pesan yang berkaitan dengan agama.

“Ini hal yang rutin, reguler, setiap pekan kita bisa menemukan Renungan Jumat di samping Gema Gereja yang sepadan. Siapa yang menulis di situ cukup beragam. PR memberi perhatian khusus, seperti Kabar dari Haramain untuk rubrik haji. Di sana banyak tulisan yang bisa kita dapatkan yang umumnya semacam bimbingan peribadahan. Memberi penjelasan yang seringkali rujukannya sangat “berbahasa Arab”, dan lain-lain,” kata Hawe.

Karakter yang cukup unik juga terlihat di PR terbitan 26 Mei 2017 yang menerbitkan berita baik dan buruk dalam halaman yang sama. Foto headline yang menggambarkan keceriaan pawai Ramadan, dengan judul headline yang kontras yakni berita bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta.

“Artikel tentang tradisi lokal seperti sungkeman, munggahan, pawai obor, dan lain-lain juga memperlihatkan kalau tradisi justru menjadi langkah melawan radikalisme. Sebagai koran dengan tagline “Lebih Tahu Jawa Barat”, PR juga diperkuat dengan aspek Bahasa Sunda yang sering disertakan pada judulnya,” kata dia.

Di sisi lain, PR juga cenderung bermain aman untuk menjelaskan identitas organisasi massa yang melakukan tindakan premanisme dengan istilah umum “Ormas Islam” saja tanpa menyebut spesifikasinya. Namun menurut Hawe justru ini bisa juga dilihat sebagai poin tambah karena seringkali organisasi massa menggunakan media untuk mempromosikan namanya.

“Dengan cara seperti ini, jurnalisme bisa menemukan cara yang baik untuk menghindari nama mereka,” ucapnya.

Sementara itu, jika Kompas cenderung lebih liberal dan PR berada di tengah, Kabar Priangan justru lebih Islami. Darpan yang membaca Kabar Priangan dalam penelitian ini melihat kalau koran yang merupakan grup PR itu memiliki keberpihakan pada Islam dengan pemberian berita tentang agama yang sangat berlimpah.

“Demikian pula kesempatan otoritas untuk bicara agama. Namun, Kabar Priangan berlimpah informasi sedikit diskusi saya bilang. Berita atau artikel yang ditulis lebih bersifat membentuk kesalehan individe, kecuali beberapa artikel yang memperdebatkan isu-isu peberdaan pandangan,” kata Darpan.

Dalam hal keberpihakan Islam pun Kabar Priangan lebih banyak melihat pada Islam selera pasar yang berada di wilayah terbitnya. “Walaupun ada beberapa pernyataan dari beberapa tokoh tentang pentingnya menjaga keberagaman, namun pemberitaan lebih diarahkan pada selera pasar yang mayoritas,” kata dia.

Diskusi yang akan menunjuak penelitian tentan peliputan Islam dalam surat kabar ini pun memantik masukan dari sejumlah akademisi yang hadir. Di antaranya ada Iwa Lukmana dari FPBS dan SPS UPI, Dekan Fikom Unpad Dadang Rahmat Hidayat, Dekan Fikom Unisba Septiawan Santana, Ketua Stikom Dedy Djamaludin Malik, dan Idy Subandi Ibrahim. Diskusi ini dihadiri pula oleh Pimpinan Redaksi “PR”, Rahim Asyik serta sejumlah wartawan senior PR seperti Abdullah Mustappa, Aam Amilia, Muhammad Ridlo Eisy, Budhiana Kartawijaya, dan Imam JP. (Muhammad Irfan/PR)*


Sekilas Info

Bikin Heboh Tetangga, Pasangan Ini Nikah ala Pramuka

CILACAP, (KB).- Ada yang beda dari pernikahan Ahmad Maftuh dengan pasangannya, Miftakhul Khoiroet pada Jumat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *