Minggu, 23 September 2018

Memaknai Kerja sebagai Ibadah

Allah SWT dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya telah menjadikan dunia dan seisinya untuk kehidupan manusia. Tinggal bagaimana manusia bisa mengolah dan memanfaatkannya, sehingga anugerah yang besar tersebut, mendatangkan banyak manfaat sebagai sarana untuk memudahkan manusia beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sudah menjadi hukum alam, bahwa orang yang tidak bekerja, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Hal tersebut, karena Allah ingin mengajarkan kepada manusia, agar tidak berpangku tangan dan malas-malasan tanpa mau berusaha. Orang yang sudah bekerja saja belum tentu mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan, apalagi yang tidak bekerja? Memang kecenderungan manusia secara umum mereka ingin memperoleh sesuatu dengan cara yang mudah dan gampang dengan mendapatkan hasil yang melimpah.

Konsep dasar Alquran sebagaimana yang dijelaskan Surat An-Najm: 39, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. Dalam ayat tersebut jelas, bahwa manusia yang tidak berbuat dia tidak akan mendapatkan apa-apa, karena apa yang dia hasilkan dalam hidupnya, adalah apa yang dia kerjakan. Ada empat tipe karyawan yang bisa jadi kita temukan di beberapa tempat kerja, entah di perkantoran, pabrik, kantor dinas, dan tempat lain.

Pertama, karyawan yang memiliki skill keahlian yang baik dan juga mempunyai semangat kerja yang tinggi (karyawan yang ideal). Seharusnya semua karyawan mempunyai dua sifat tersebut, sehingga dia benar-benar dapat mengabdikan kemampuannya untuk kemajuan perusahaan. Manajer harus bisa mengikat karyawan tipe tersebut dengan sering memberikan apresiasi yang pantas, agar mereka diperhatikan terhadap apa yang telah mereka capai.

Tipe karyawan yang kedua, memiliki skill tinggi akan tetapi kurang motivasi. Kepada kelompok yang kedua tersebut, seorang manajer harus benar-benar dapat mencermati kenapa hal tersebut, bisa terjadi? Bisa dengan cara berbicara baik-baik untuk mencari solusi dan terus memberi motivasi, agar jiwa kerjanya kembali tampak.

Kelompok ketiga, karyawan yang mempunyai semangat kerja yang tinggi, tetapi skill-nya rendah. Solusi yang pas untuk model tersebut, adalah dengan cara memberi banyak arahan, pelatihan secara simultan, dan kontinu. Sehingga, karyawan mendapat ilmu baru yang dapat menunjang kerja yang super.

Kelompok keempat, kelompok yang sering menjadikan perusahaan selalu bangkrut dan susah untuk maju. Mereka, adalah karyawan yang skill dan motivasi kerjanya rendah, tetapi selalu menuntut gaji yang tinggi (kelompok yang patut untuk dipensiunkan).

Manusia akan bertambah nilai kemanusiaannya jika dia mau untuk berusaha, bekerja, dan berjuang. Melalui usaha dan kerja, melalui perjuangan dan jihad, manusia mengaktualisasikan segala kemampuan yang dianugerahkan Allah dalam dirinya, meliputi kemampuan mental, kemampuan intelektual, kemampuan fisik, kemampuan moral, dan kemampuan spritual. Jika semua jenis kemampuan tersebut, tidak dikembangkan manusia melalui perbuatan atau amal saleh, maka kemampuan tersebut, akan hilang secara bertahap.

Mari kita jadikan kerja dan segala aktivitas kita menjadi lebih bermakna, kita persembahkan yang terbaik dalam pekerjaan kita bukan karena ingin mendapatkan gaji yang tinggi dan uang yang banyak, tetapi kita jadikan kerja kita sebagai pengabdian kita dalam hidup karena Allah. Sebab, prestasi kita, adalah mempersembahkan yang terbaik, bukan mendapat yang terbaik, serahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa. (Kholid Ma’mun/Pengajar di Ponpes Modern Daar El Istiqomah)*


Sekilas Info

29 Agustus, Haul Cak Nur Ke-13

29 Agustus 2005 adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Negeri ini, 13 tahun yang lalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *