Rabu, 23 Mei 2018

Melihat Peluang Klub Sepakbola Banten, Jalan Terjal Menuju Kasta Liga 1 Indonesia

SEPAKBOLA menjadi salah satu cabang olah raga yang paling banyak digemari di dunia, tak hanya menjadi penikmat bahkan juga menjadi penggiat, bukan hanya amatir bahkan profesional. Sepakbola tidak mengenal kasta sosial, penarik becak hingga sosialita bisa saja mencintai pesepakbola yang sama. Sepakbola bahkan bukan lagi sekedar taktik, strategi, skill bermain untuk mencetak angka. Saat ini olah raga Si Kulit Bundar sudah menjadi kolam bisnis bagi kalangan elite dunia. Sepakbola bukan lagi untuk mencari keringat, namun sudah menjadi mata pencarian.

Beberapa hal tersebut yang kemudian membuat sepak bola menjadi salah satu cabang olah raga favorit dan selalu menarik untuk diikuti. Seluruh negara, provinsi, hingga kabupaten dan kota berlomba-lomba untuk menciptakan klub atau tim sepak bola terbaik. Demi sebuah prestise daerah yang diakui. Banten, memiliki setidaknya tiga klub sepak bola yang pada musim ini berlaga di kasta kedua kompetisi sepak bola Indonesia, Liga 2. Tiga klub tersebut bahkan berasal dari kabupaten/kota yang berbeda di Banten, yakni Cilegon United dari Kota Cilegon, Perserang dari Kabupaten Serang, dan Persita Tangerang dari Kabupaten Tangerang.

Dari tiga klub tersebut, Cilegon United (CU) menjadi klub yang termuda namun prestasinya musim ini bisa dibilang lebih baik ketimbang dua saudaranya. Meski sama-sama mampu menembus hingga putaran 16 besar bersama dengan Persita Tangerang. Namun CU dapat berbicara lebih banyak, dengan meraih tujuh poin sementara Persita hanya empat. Serta sama-sama menempati dasar klasemen akhir digrup mereka masing-masing.

Lain halnya dengan Perserang, klub berjuluk Laskar Singandaru ini harus awal terdepak dari persaingan menuju kasta Liga 1, karena tidak mampu lolos dari babak penyisihan awal. Akibatnya, klub kebanggaan warga Kabupaten Serang ini, harus berjuang melewati lubang jarum demi bertahan dikompetisi kasta kedua sepak bola Indonesia tersebut.

Dengan regulasi yang diterapkan oleh PSSI untuk Liga 2 Indonesia musim 2017 ini, sebenarnya tiga klub Banten tersebut memiliki kualitas pemain yang sama dengan klub dari daerah lain. Setidaknya usia pemain di seluruh klub yang berlaga di Liga 2, memiliki kesetaraan. Akan tetapi, apa yang menjadi kendala bagi tiga klub sepak bola harapan warga Banten tersebut, untuk berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia?

Finansial

CEO Perserang Kabupaten Serang, Babay Karnawi mengatakan salah satu kendala yang dihadapi Perserang untuk dapat bersaing menuju Liga 1 Indonesia, adalah finansial yang terbatas. Bahkan, ia menyebutkan jika dibandingkan dengan klub lainnya yang juga berlaga di Liga 2 Indonesia. “Kami untuk musim kemarin itu paling sedikit dibanding klub lain di Liga 2, kami itu paling habis diangka Rp 1,5 miliar. Idealnya sih jika mau lolos ke Liga 1 itu membutuhkan anggaran minimal Rp 7 miliar. Tapi jika berbicara musim depan, kemungkinan dibutuhkan anggaran dua kali lipatnya. Karena tahun depan diperkirakan akan ada regulasi baru,” ujarnya kepada Kabar Banten.

Menurut dia, anggaran yang berasal dari dana sponsorship tersebut sangat berpengaruh pada penampilan Perserang di kompetisi sepak bola Indonesia. Paling tidak, mereka bisa mendapatkan pemain yang lebih berkualitas, sehingga prestasi akan lebih mudah didapat. “Sangat berpengaruh, jika kita ada sponsor yang mampu membantu pendanaan besar, kami lancar dalam hal keuangan dan prestasi pun akan mudah. Setidaknya bisa membeli pemain yang lebih baik. Sementara yang saya rasakan menjadi kendala itu (finansial), karena Perserang musim kemarin harus bersaing dengan klub yang pendanaannya tinggi,” katanya.

Berbeda halnya dengan Persita Tangerang, yang merasa terkendala sanksi larangan bermain di kandang sendiri. Manajer Tim Persita Tangerang Nyoman Suryanthara mengatakan berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan manajemen pada penampilan Persita musim ini, sebenarnya kualitas tim sudah cukup untuk bisa lolos ke Liga 1. Hanya saja kendala utamanya yakni karena Persita Tangerang sebagai “Tim Musafir”. “Kendala utama sih karena kami ‘Tim Musafir’, yang tidak memiliki kandang saat berlaga di Liga 2 musim ini karena adanya sanksi larangan bermain di kandang sendiri.

Hal itu berakibat pada fisik, konsentrasi dan fokus pemain dan manajemen pun berpindah-pindah. Bahkan, dari 12 laga pertandingan selama di Liga 2 musim ini, kami berpindah tiga kandang, yakni di Bogor, Karawang dan di Serang,” ucapnya. Menurut dia, dengan menjadi Tim Musafir, pihaknya sulit memaksimalkan dukungan penonton yang dapat meningkatkan semangat tim. Selain itu, berpindah-pindah home base pun membuat tim sulit untuk memulihkan kondisi, hingga pada permasalahan teknis lainnya.

“Di babak 16 besar pun laga kandang yang kami jalani jelek, karena semuanya kalah. Awalnya laga kandang kami di Karawang, terus pindah lagi di Cibinong, tapi semuanya kalah. Jika dari finansial kami tidak bermasalah, gaji dan bonus lancar, makanya manajemen pun cukup heran dengan hasil musim ini. Hitung-hitungan kasar, musim ini kami menghabiskan anggaran sekitar Rp 8 miliar,” tuturnya. (Yandri Adiyanda)***


Sekilas Info

Ketua KONI Kabupaten Serang: Siapkan Pengurus Berkompeten

SERANG, (KB).- Ketua KONI Kabupaten Serang terpilih, Pujiyanto telah menyiapkan sejumlah personel, yang nantinya dipercaya untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *