Melihat ‘Cahaya’ dari Gua Hira

Wajah Kota Mekah terlihat gemerlap saat malam hari terlihat dari Jabal Nur dan menyinari kegelapan perbukitan.*

Pasca-melaksanakan ibadah haji, jemaah haji memiliki waktu luang untuk wisata ziarah di Kota Mekkah. Salah satunya mendaki gunung Jabal Nur. Letak Jabal Nur berada di kawasan Hejaz berjarak sekitar 7 kilometer dari Masjidil Haram. Jabal Nur merupakan gunung bebatuan yang sangat terjal.

Nama Jabal Nur berarti gunung cahaya (jabal artinya gunung, nur artinya cahaya). Dinamakan Jabal Nur karena gunung tersebut terdapat Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril berupa surat Al Alaq.

Inilah dalam sejarah Islam merupakan awal mula era umat manusia terbebas dari zaman jahiliyah (minadzulumaati ilannuur). Cahaya Islam itu kini menyinari seantero bumi. Gua Hira merupakan gua kecil dengan panjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter, serta letaknya berada 4 meter dari atas bagian puncak gunungnya.

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (NU Online, 20 Januari 2018), menuliskan sejak sebelum menikah, Nabi Muhammad SAW adalah seorang pria yang sering merenung dan berpikir, kontemplasi (olah spiritual), memikirkan fenomena alam dan lingkungan sekitarnya di tempat yang jauh dari keramaian.

Beliau berdoa kepada Tuhan agar menemukan sesuatu yang mencerahkan dirinya dan kaumnya. Kebiasaan ini terus berlanjut setelah beliau menikah. Bahkan pada bulan Ramadan, hal itu lebih ditingkatkannya lagi, disertai dengan membagikan makanan dan sedekah kepada fakir miskin yang membutuhkan.

Hingga pada suatu malam di bulan Ramadan, tahun 610 M, di sudut Gua Hira, beliau dikejutkan oleh turunnya wahyu yang pertama dari Allah, sebagaimana hadits yang beesumber dari Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha, ia berkata: Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas laksana cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; lalu menyendiri di Gua Hira untuk bertahannuts.

Beliau bertahannuts, yaitu beribadah di sana beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah istrinya. Dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan dibawanya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di Gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, “Bacalah!” Jawab beliau, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi bercerita, “Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat hingga aku kepayahan.

Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” dan aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, “Bacalah!” Aku kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata, (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq, 96:1-5)

Kemudian Nabi pulang ke rumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid dengan hati gemetar ketakutan. Beliau memohon kepadanya, “Selimutilah aku!” Mereka menyelimuti beliau hingga hilanglah ketakutannya.

Sejarah turunnya wahyu Alquran itulah yang melandasi jemaah haji ingin melihat Gua Hira. Mereka ingin melihat bagaimana rupa dan kondisi Gua Hira dan merasakan pendakian yang begitu berat dialami Nabi Muhammad SAW.

Banyak dari jemaah haji yang berlinang air mata menapaki Gunung Jabal Nur. Sesekali mereka menengadahkan tangan berdoa kepada Allah SWT. Pada malam hari, Jabal Nur tersinari lampu dari Kota Mekkah sehingga tidak terlalu gelap gulita. Apalagi saat musim haji, banyak jemaah haji berkunjung ke Gua Hira sengaja menjelang Magrib sekaligus salat di puncak Jabal sambil melihat Gua Hira.

Pengunjung tampak berdesak-desakan saat memasuki Gua Hira. Bagi yang memilih tak sanggup melihat dan berdoa dari puncak Jabal Nur.*

Kelelahan

Jarak naik ke Gua Hira sekitar 645 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggian dan kecuraman yang tinggi, jemaah harus berhati-hati karena jalan sangat terjal. Dengan kondisi tersebut dibutuhkan stamina dan fisik yang kuat. Tak sedikit jemaah memilih tidak melanjutkan ke puncak Jabal Nur karena kelelahan dan istirahat pada tempat duduk yang sederhana. Bagi yang kehausan banyak pedagang yang menawarkan air mineral.

Jika lancar, pengunjung bisa sampai ke puncak ke Jabal Nur sekitar 1 jam. Tapi kalau banyak istirahat bisa mencapai 1-1,5 jam. Dari puncak Jabal Nur hanya butuh beberapa menit ke Gua Hira karena jaraknya sekitar 50 meter. Tetapi itu pun kalau normal.

Pada musim haji ini pengunjung padat sehingga jalan dari puncak Jabal Nur ke Gua Hira macet. Para pengunjung berdesak-desakan. Oleh karena itu, pengunjung harus sabar mengantre untuk masuk ke Gua Hira. Karena Gua Hira hanya mampu menampung empat orang saja. Keadaan di dalamnya cukup gelap, sebab hanya sedikit cahaya matahari yang masuk ke sana.

Ketika sudah sampai di puncak Gua Hira, pengunjung juga akan melihat pemandangan Kota Mekkah termasuk Masjidil Haram dengan desiran angin yang kencang.

Para pengunjung harus berhati-hati mendaki karena kondisi bebatuan yang masih tak beraturan.*

Napak tilas perjuangan

Jemaah asal Kabupaten Tangerang Ustaz Saefullah mengatakan, dirinya sengaja mengajak seluruh jemaah haji yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Bani Sai untuk mengunjungi Gua Hira.

“Memang pendakian sangat berat. Oleh karena itu, kami didampingi tim medis. Kami tak memaksakan ke puncak Jabal Nur jika tidak kuat. Bahkan karena menuju Gua Hira padat, jemaah hanya melihat dari puncak Jabal Nur,” tuturnya.

Saefullah mengatakan, kunjungan ke Gua Hira merupakan napak tilas sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW mengajarkan ajaran Islam sehingga cahaya Islam hingga kini menyinari umat Islam di seluruh dunia.

“Jadi cahaya Gua Hira berupa wahyu pertama yang diterima merupakan titik tolak era pencerahan setelah sebelumnya tercengkram di zaman jahiliyah,” katanya. (Maksuni Husen)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here