“Melebihi Samudra”

Oleh : Nasuha Abu Bakar, MA

Maha Suci Allah lagi Maha Pemurah. Maha Pengampun Allah lagi Maha Pemaa’af. Itu adalah beberapa Asmaul Husna atau nama nama Allah yang indah yang senantiasa melekat sejak zaman azali pada Dzat Allah. Dan itulah yang selalu disampaikan melalui karya karya tulisnya para ulama kita yang memilih konsentrasi dalam disiplin ilmu teologi atau tauhid seperti penyusun kitab “Tanwiiru al Quluub fii Mu’aamalati ‘Allaamu al Ghuyuub” karya Syeikh Muhammad Amiin al Kurdy al Irbily al Syaafi’i. Seiring dengan pemikiran pemikiran para ulama salafush shalih lainnya tentang sifat sifat Allah yang melekat pada Dzat Nya.

Bulan ramadhan merupakan bulan yang memiliki daya magnit yang sangat kuat membawa kaum muslimin dan muslimat ke dalam aneka ragam pengabdian kepada Allah. Ramadhan juga sekaligus menjadi benteng bagi umat muslimin dan muslimat dari berbagai jenis perbuatan juga bermacam macam ujaran yang akan dapat merendahkan statusnya sebagai hamba yang “Muttaqiin”.

Terbukti umat Islam berupaya mengurangi berkata kata yang tiada gunanya terlebih kata kata itu akan membawa mereka ke dalam lembah kenistaan. Karena mereka pun berusaha mengingat ingat sabda nabinya yang mulia, di antara tanda tanda berkwalitas islam seseorang, dia mampu menghindarkan diri dari hal hal yang tidak berguna.

Ramadhan juga menguras habis titik kesadaran bagi hamba yang beriman sampai ke relung jiwanya, sehinga para pelaku puasa ini berusaha sekuat jiwa dan kesadarannya agar menjadi hamba yang bisa memperbaiki dengan ibadah puasanya. Berusaha untuk menjadi orang yang selalu hadir di rumah rumah Allah (di masjid) di awal waktu setelah sebelas bulan selalu menjadi peserta yang paling buncit bahkan kadang menjadi ma’mum masbuk yang sangat merugi karena hampir setiap shalat berjamaah posisi imam sudah di rakaat terakhir tinggal menunggu detik detik ucapan salamnya.

Ramadhan juga banyak menyadarkan umat untuk merubah cara mencintai kotak amal di masjid masjid. Yang terkadang karena sudah membudaya, yaitu yang biasanya kedudukan masjid harganya masuknya sama dengan ketika kita mampir ke toilet toilet, bahkan kadang nilai cinta kepada masjid terkalahkan dengan cinta kita di area area parkir.

Sebentar saja kendaraan kita berhenti masuk di area parkir dengan tanda bukti tiket masuk, begitu kendaraan kita keluar, petugas paskir menyapa kita dengan kata “maaf tiketnya pak atau bu”. Kemudian petugas parkir itu memeriksa tiket dan disesuaikan dengan kendaraan yang kita naiki. “Tiga ribu rupiah”. Nilai tiga ribu rupiah sepertinya harga parkir paling murah karena mungkin hanya beberapa saat saja.

Saya pernah mengikuti acara arahan TL (Tour Leader) untuk umrah dari jam 9.00 pagi selesai jam 16.00 saya mengeluarkan biaya untuk parkir rp.48.500. Sedangkan kalau kita masuk masjid dengan segala pasilitasnya, toiletnya yang bersih dan wangi, area parkir kendaraannya, ruangan AC yang menyejukkan, kadang kita merasa sudah cukup dengan memasukkan uang ke dalam kotak amal seperti pada saat kita buang air kecil di toilet toilet umum. Begitu ramadhan hadir dan membangkitkan semangat berinfak dan berbagi kepada orang lain.

Pak ustadz Dzul Birri mengingatkan kepada semua jamaah yang ikut bertaraweh di majlis malam jum’at kliwonannya. Kata beliau : “Kalimat doa yang diajarkan oleh baginda nabi untuk umatnya yang hingga sekarang kita pun selalu membacanya. Doa itu ” Allaahumma innaaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa yaa kariim. Bahwa kita berharap dengan kesungguhan hati supaya Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa memafkan semua kesalahan kita.

Menurut saya kita sering ngajak berdialog dengan Allah tapi sering kurang disadari apa yang didialogkannya. Kita sering bahkan banyak meminta kepada Allah sehingga tak saking banyak nya tidak terhitung permintaan kita, akan tetapi sering sering kita kurang pandai memperlihatkan sikap sebagai hamba yang membutuhkan pertolongan Nya.

Sepatutnya sebagai hamba mengetahui bahwa Allah memiliki sifat sifat yang sangat terpuji, bentuk sifat kemuliaannya dalam bentuk super latif yang mengandung makna “Maha”. Ketika memiliki makna “Maha” maka sifat itu tiada batas dan tiada bertepi. Danau Toba luasnya hanya 1.130 KM2, Panjangnya Sungai Nil hanya 6.650 KM. Samudra Pasifik memiliki luas 179.7 juta KM dan panjangnya 15.500 KM, semuanya berujung, bertepi samudra bertepi dan bermuara.

Subhaanallaah….sifat sifat Allah yang semuanya Maha tiada berujung dan tiada bertepi. Sebaiknya kita menyadari dan memahami bahwa Allah maha pemaaf ketika kita mengucapkan lafadz ” Innaka ‘Afuwwun” swbagai hamba yang segala nya terbatas dan dha’if harus optimis bahwa Allah maha pemaaf atas segala kekhilafan hamba hambaNya. Sebaiknya ditingkatkan juga kesadaran kita ketika mengucapkan lafadz “Tuhibbul ‘Afwa” bahwa Allah mencintai hamba hambanya yang mempunyai sifat pemaaf terhadap orang lain yang pernah melakukan kesalahan dan kekeliryan terhadap dirinya.

Kadang manusia sebagian ada yang pinternya sendiri, dirinya minta dimaafkan dosa dosanya oleh Allah sementara kadang adakalanya manusia enggan dan berat hati untuk memaafkan sesamanya. Ayolah kita rubah diri yang sombong ini untuk menjadi hamba yang rajin minta maaf dan banyak memaafkan orang lain. Jadilah jiwa ini luasnya melebihi luasnya samudra yang ada di alam semesta, bilamana ini dapat kita lakukan maka pasti Allah mencintai dan.meridhoi kita semua.” Itulah akhir nasehat pak.ustadz Dzul Birri. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here