Melawan Corona dengan Doa dan Derma

KH. AM Romly, Ketua MUI Banten.*

KH. AM. Romly

Derita akibat corona telah dirasakan semua bangsa di dunia. Semua orang tidak menyukainya. Tidak ada orang yang mau menjadi temannya. Corona dipandang sebagai musuh bersama. Oleh karena itu, semua orang berusaha memeranginya. Senjata yang dipakai antara lain adalah doa dan derma. Suatu cara yang tidak asing di kalangan umat beragama.

Semua orang berdoa sesuai ajaran masing-masing agamanya. Dalam Islam kedudukan doa sangat utama. Bahkan disebut sebagai otak atau intisari ibadah yang diamalkan umatnya. Selain doa, setiap agama juga mengajarkan derma.

Dalam KBBI derma diartikan sebagai pemberian atas dasar kemurahan hati kepada fakir miskin dan sebagainya. Derma merupakan salah satu cara yang diajarkan agama untuk menyelamatkan umat manusia dari bencana. Dalam Islam, derma dapat dipahami sebagai zakat, infak, shadaqah atau sedekah dan amal sosial lainnya.

Komunikasi vertikal

Berdoa adalah upaya rohani memanjatkan puji dan sanjung puja serta menghaturkan pinta kepada Allah Suhanahu wata’ala. Sebab, Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tempat bergantung segala harapan dan keinginan kita (QS Al-Ikhlas: 1-2). Oleh karena itu, doa hanya dipanjatkan kepada Allah semata, bukan kepada yang lainnya.

Allah sangat senang kepada hamba yang memanjatkan doa kepadaNya, sehingga menjanjikan akan mengabulkannya (QS Al-Baqarah: 176). Orang yang berdoa akan memeroleh ganjaran pahala dan orang sombong, tidak mau berdoa, akan mendapat balasan siksa. (Q.S. Al Mu’min: 60). Doa adalah kewajiban bagi hamba. Rasulullah SAW memerintahkan kita agar selalu memanjatkan doa kepada Allah Yang Maha Perkasa. (HR Ahmad dan Thabrani).

Jadi doa adalah media komunikasi manusia dengan Rabbul ‘Izzati. Agama Kristen mengajarkan bahwa manusia hendaknya menyembah dan berdoa serta memohon pertolongan hanya kepada Tuhan, khalik langit dan bumi (Mzm 121: 1,2). Karena Tuhan adalah sumber kemuliaan dan kekuatan sejati (I Taw. 16:28). Agama Hindu juga menjelaskan, dengan nama apa pun orang menyebutnya, Ia adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci, dan pemberi kekuatan spiritual, kini dan nanti (Rig Weda I.164.46 danRig Wega X 121.8).

Sang Buddha menerangkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, dan merupakan suatu yang mutlak dan sejati (Udana VIII: 3). Thien adalah Tuhan yang harus dipatuhi perintahnya dan dijauhi larangannya. Barangsiapa yang berdosa dan tidak bertobat, Tuhan tidak akan mengabulkan doanya (Bingcu IVA:7 dan Sabda Suci III: 13)

Interaksi horizontal

Selain rajin berdoa, ciri umat beragama yang baik adalah gemar melakukan derma. Seorang muslim dinilai Allah telah melakukan kebajikan sempurna, jika ia telah mampu menafkahkan harta yang dicintainya (QS Ali Imran: 92) Ciri muslim yang meraih derajat taqwa antara lain adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya dalam setiap keadaan yang dialaminya (QS Ali Imran: 134).

Hakikat infak adalah interaksi sosial yang penuh kasih sayang dengan semangat persaudaraan dan gotong royong. Allah menuntun kita bahwa dalam urusan kebajikan dan takwa kita harus tolong menolong, sedangkan dalam perbuatan dosa dan pelanggaran, kita dilarang saling menolong (QS Al- Maidah: 2). Kita akan mendapat pertolongan Allah dari kebuntuan, jika kita gemar memberi jalan keluar kepada saudara kita yang dalam hidupnya mengalami kesulitan (HR Muslim). Dan Allah selalu menolong seorang hamba, selama ia senantiasa menolong saudaranya (HR Muslim).

Agama Kristen mengajarkan, agar manusia jangan hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memikirkan orang lain (Fil. 2:3-4). Jangan jemu berbuat kebaikan. Berbuat baiklah kepada semua orang, selagi masih ada kesempatan. (Galatia 6: 9-10). Orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan (Ams 19: 17).

Manusia yang sadar akan nilai manusia yang luhur adalah ia memberi perhatian kepada kaum lemah yang memerlukan bantuan (Mzm 112: 9). Agama Hindu juga mengajarkan bahwa orang yang mampu agar bersedekah makanan kepada yang kekurangan. Karena sedekah yang dilakukan akan mengantarnya mencapai moksa, tujuan hidup tertinggi, jika disertai dengan penuh keimanan (Manawa Dharmasastra: 33 dan 226).

Sang Buddha memberi tuntunan bahwa seseorang yang memiliki kekayaan dan menyerahkannya sebagai derma kepada yang membutuhkan, akan mendapat banyak berkah dan ganjaran (Vajracchedeka Prajna Paramita, Varga VIII). Khonghucu memberi nasihat bahwa kebajikan adalah pokok dan harta adalah ujung. Barangsiapa mengabaikan yang pokok dan mengutamakan yang ujung, ia telah memberi contoh kepada rakyat untuk berebut dan bertarung (Ajaran Besar X: 7/8).

Melalui doa kepada Allah, kita bermohon agar musibah Covid-19 ini tidak berkepanjangan. Dengan melakukan derma, kita berharap dapat menghindari bencana kemanusiaan. Di akhir bulan Ramadan, bulan yang suci, kaum muslimin hendaknya memanfaatkan kesempatan mulia ini dengan memperbanyak doa dan derma. Di bulan-bulan mendatang, amaliah Ramadan, berdoa dan berderma, kita teruskan sehingga menjadi kebiasaan sepanjang masa. (Penulis, Ketua Umum MUI Provinsi Banten/Ketua FKUB Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here