Minggu, 25 Februari 2018
Melani, bocah 4 tahun yang merupakan warga Desa Cemplang, Kecamatan Jawilan yang mengalami penyakit kulit saat sedang bersama ibunya Santi, Senin (6/11/2017).*

Melani Digerogoti Penyakit Kulit

Namanya Melani, gadis kecil berusia 4 tahun, menderita penyakit kulit sejak usia 2 tahun. Akibat penyakit yang mengergotinya itu, tubuhnya Melani kini semakin menyusut dan berat badannya hanya berkisar 7,6 kilogram. Buah hati Santi dan Rohman yang merupakan warga Kampung Kawoyang Timur RT 3 RW 1, Desa Cemplang, Kecamatan Jawilan itu harus kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya riang gembira. Akibat penyakit yang dideritanya, ia tidak bisa bermain bersama teman-temannya.

Saat didatangi, Melani sedang berada di pangkuan neneknya, Sarwinah, yang tinggal di rumah bilik, tidak jauh dari rumah Santi. Setiap hari, gadis kecil itu memang akrab bersama sang nenek. Ibunya yang harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya setelah berpisah dengan sang suami, tak bisa seratus persen memberikan waktu untuk anaknya itu. Oleh karena itu, Melani dipercayakan kepada sang nenek.

Pada tubuh bocah kecil itu, tampak luka-luka yang memenuhinya. Mulai dari kepala hingga bagian badannya. Kedua tangan Melani tak henti-hentinya menggaruk-garuk bagian tubuh yang penuh luka tersebut. Sebab, luka tersebut menimbulkan gatal yang cukup menyiksanya. Tampak pula olesan salep untuk mengurangi rasa gatal di bagian luka tersebut. Bahkan, karena penyakitnya itu, setiap malam Melani tak bisa tertidur pulas. Saat gatal itu tiba, menangis menjadi tanda ketidakmampuannya menahan rasa sakit dan gatal.

Ibunya, Santi, mengatakan, anaknya tersebut sudah sejak usia 2 tahun mengalami penyakit kulit. Selain penyakit kulit, Melani juga memiliki plak di paru-parunya. Dirinya menduga, penyakit kulit itu timbul akibat sejak kecil Melani sering dibawa sang nenek mencari kayu bakar. “Dulu sejak kecil, suka dibawa cari kayu bakar. Karena kan saya kerja dulu itu, mungkin kena ulat atau kuman,” ujar Santi kepada Kabar Banten, Senin (6/11/2017).

Dirinya pun sudah sempat membawanya berobat ke klinik terdekat dan sempat pula di rontgen. Setelah itu, secara rutin anaknya itu dibawa berobat ke bidan. Namun, penyakitnya itu tak juga sembuh. “Tapi enggak cocok kayanya,” ucapnya. Pada saat dilahirkan dan hingga usianya menginjak 2 tahun, tubuh Melani terhitung gemuk, sehat dan bersih pula. Beratnya mencapai 10 kilogram pada saat itu. Namun sejak terkena penyakit, perlahan tubuhnya mulai kurus. Nafsu makannya pun mulai hilang, sehingga tubuhnya menjadi kurus dan saat ini hanya berkisar 7,6 kilogram. “Jadi sudah dua tahun kena penyakitnya, sakit radang kulit katanya kaya punya amis daging,” tuturnya.

Pasca terkena penyakit itu, kata Santi, perlahan gigi nya mulai copot satu persatu. Dirinya pun tidak tahu mengapa bisa demikian. Gigi sang buah hati copot dari akarnya. Dirinya yang hanya bekerja sebagai pembantu mengaku kesulitan untuk membawanya berobat. Sebab penghasilannya memang tak menentu, dan setiap hari kerap serba kekurangan, “Saya kerja jadi pembantu ngegosok, kan di pabrik sudah berhenti. Dulu di pabrik triplek hampir 2 tahun. Berhenti soalnya badannya enggak sehat juga sering sakit,” katanya.

Beredar di medsos

Kondisinya yang demikian, membuat beberapa kalangan terenyuh dan menguploadnya di media sosial facebook. Karena hal itu, saat ini, Santi mengaku sudah mendapatkan bantuan dari beberapa pihak. Bantuan yang diterimanya mulai dari beras, mie instan, kue, susu hingga uang. Bahkan buah hatinya itu sudah sempat dibawa ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan. Namun karena dirinya belum memiliki kartu kependudukan, maka berkas tersebut perlu untuk dilengkapi terlebih dahulu.

“Suruhnya dirawat, tapi lagi diurus suratnya belum lengkap semua, datanya, kan saya enggak punya KTP asli, sudah mati, kartu keluarga enggak ada. Punya, tapi Santi enggak masuk soalnya sudah punya suami dan pecah kk, sudah dipecahin sama suami yang pertama orang Jawa Tengah, kalau enggak ada itu enggak ada bukti kuat,” tuturnya.

Karena tak punya data kependudukan, dirinya pun saat ini masih belum terdata dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. “BPJS enggak punya, yang lain mah dapat saya mah enggak, sudah usul juga tapi katanya belum kedata. Adanya yang data diperusahaan, emak (Sarwinah) dapat, saya mah enggak dapat. Padahal dulu ibu RT sudah mendata nyariin,” katanya.

Menanggapi kondisi itu, Camat Jawilan Agus Saefudin mengaku sudah menangani masalah yang dialami oleh warganya tersebut. Bahkan saat ini Melani pun sudah dibawa ke puskemas dan diarahkan untuk dibawa ke rumah sakit. “Jadi kalau hasil pemeriksaan di puskesmas, kalau masuk kategori gizi buruk mah belum. Cuma karena sudah ramai duluan gizi buruk katanya. Padahal kan yang berwenang (mengatakan gizi buruk) itu dokter, makanya saya arahkan supaya dibawa ke rumah sakit, sekarang sedang meluncur ke rumah sakit,” ujarnya. (Dindin Hasanudin)***


Sekilas Info

Bau Menyengat di Jembatan Cigodeg

Warga Kecamatan Petir mengeluhkan tumpukan sampah yang berada di pinggir ruas jalan raya, tepatnya di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *