Rabu, 20 Februari 2019
Breaking News

MAULID DAN HARI JADI KESULTANAN BANTEN

Oleh :

Tubagus Najib

Peneliti Pada Pusat Arkeologi Nasional 

Maulid pada intinya adalah bagaimana mengimplementasikan ketauladanan Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah contoh yang baik “huswatun hasanah”.namun kegiatan Maulid di dalam caranya memiliki kehasan tersendiri. Di Banten dalam periode pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Banten, makna Maulid adalah sebagai bentuk legitimasi Kesultanan Banten. namun dalam periode Stagnasi dan Keruntuhan Kesultanan Banten, makna Maulid adalah sebagai bentuk kprihatinan atas runtuhnya Kesultanan Banten, sehingga bagaimana menumbuhkan kembali semangat kebersamaan, semangat persaudaraan, muncul bentuk silaturahmi antar umat Islam, dengan kegiatan peringatan Maulid, dan muncul istilah “ngeropok, ngeriung, yang semuanya adalah dalam rangka mensyiarkan Sahadatain kalau di jawa dikenal dengan Sekaten namun di Banten dikenal dengan istilah Lahu lalu berubah menjadi Lehe yang artinya sama dengan sahadatain. Lahu/lehe, merupakan singkatan dari tidak ada Tuhan selain Alloh. Lahu/lehe sebagai sebuah singkatan telah mendapat pengaruh dari aliran Tarekat.

Dalam pupuh Asmarandana, 21 “sampun palasta tinulis, lan name sanak ingwang, kang rama ika jenenge, Saulthan Abu Mapakir ika, Mahmud Zulkadir ika, ingkang putra jenengipun, Sulthan Abul Ma’ali Ahmad”. Pada pupuh 19. “iki wewekas manira tunggul punika, benjang ing saban ing wula Mulud, iderana maring kutha.

PENDAHULUAN

Maulid dalam perjalanan sejarah bervariasi, Maulid telah menjawab tantangan pada masanya. Maulid dalam catatan sejarah memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang diperingati setiap tangal 12 Rabiul Awal. Maulid secara maknawi telah berperan dalam menjawab tantangan jamannya. Dalam situasi Islam tertekan, terintimidasi, tertindas, terjepit, Maulid mengambil peran memberi semangat, Maulid berperan memberikan motivasi, untuk bangkit dari keterperukan. Sementara dalam situasi tenang, situasi aman, juga Maulid mengambil peran untuk berinovasi, berkreasi. Sehingga melahirkan inovasi dan kreasi baru dalam budaya.

Ketika masa Salahuddin Al-Ayyubi, Maulid berperan memberi semangat kepada pasukan-pasukan Islam yang sedang berada di medan perang dalam pristiwa perang salib. Nabi Muhammad sebagai manusia biasa juga sebagai pemimpin perang. Nabi Muhammad sebagai pemimpin perang telah diungkapkan dalam Maulid Nabi. Ketika Islam masuk ke Indonesia dengan damai, Maulid berperan dalam da’wah Islam, sehingga dalam masyarakat Jawa dikenal dengan istilah sekatenan membaca dua kalimat sahadat, sahadatain). Sekatenan tersebut dilaksanakan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Maulid berperan dalam da’wah juga berperan dalam bermasyarakat/bersosial, satu sama lain saling mengenal lebih dekat melalui media Maulid. Dalam aspek sosial sehingga di Banten dikenal istilah “ngeropok” yaitu suatu komunitas masyarakat atau sekelompok masyarakat yang datang berbondong-bondong untuk menghadiri Maulid dari Masjid ke Masjid untuk mendapatkan berkat. Berkat dari bahasa Arab yaitu barokah. Nasi yang diperoleh dari acara Maulid disebut nasi berkat. Maulid juga telah menginspirasi terhadap masyarakat untuk berkreasi dan berinovasi. Sehingga muncul seni menghias lehe. Lehe yaitu suatu tempat untuk menyimpan nasi, lauk pauk dan telor pentul (telor yang ditusuk dengan bambu sebagai penusuknya dan dihiasi kertas berwarna (origami), demikian juga lehe sebagai tempat nasi dihias. Kreasi baru dalam kegitan Maulid tahun ini adalah menggunakan lehe yang berukuran kecil yang bisa dibawa oleh cukup satu orang, yang membawa lehe kecil ini para pemuda/pemudi sementara sebelumnya ukuran lehe sangat besar untuk kapasitas beras sekitar 10-20 liter. Sehingga dalam membawa lehe memerlukan orang banyak dan tenaga yang kuat.

Maulid juga akan menginspirasikan solusi-solusi bangsa saat ini melalui ketauladanan Nabi Muhammad dalam bernegara dan bermasyarakat akan diungkap dalam Maulid Nabi.juga yang tidak kalah pentingnya adalah Maulid sebagai Hari ditetapkan Banten sebagai Kesultanan yang bergelar Sultan. Sebagaimana manuscrip tersebut di atas, bahwa Banten ditetapkan sebagai Kesultanan yang bergelar Sultan pada masa Abulmafakhir, yang ditetapkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1044, bertepatan tanggal 7 Oktober 1634 M. Waktu penetapan tersebut, selalu diperingati setiap tahun, pada waktu Maulid Nabi Muhammad, dengan mengarak simbol-simbol/Regalia kesultanan. Pada masa keruntuhan Kesultanan, tidak lagi mengarak Regalia Kesultanan, tetapi yang di arak adalah dalam bentuk Lehe yang berisi Nasi Berkat.

MAULID DI BANTEN

Persoalannya bagaimana membedah Maulid dalam masa Kesultanan Banten. Apakah tradisi Maulid tersebut dimulai dari Kesultanan ataukah dari masyarakat. Sebelum runtuhnya Kesultanan Banten, Maulid menjadi peringatan tahunan di Kesultanan Banten, Maulid telah menjadi agenda kesultanan Banten. Kegiatan peringatan Maulid dicentralkan di Kesultanan Banten, masyarakat berkumpul di kesultanan Banten untuk memperingatan Maulid nabi Muhammad SAW. Tetapi setelah runtuhnya Kesultanan Banten, kegiatan peringatan Maulid tidak lagi terpusat di Kesultanan Banten tetapi di peringatan secara menyebar, di Musolla-Musholla, di masjid-Masjid, di Pesantren-Pesantren dan walaupun kegiatan peringatan Maulid telah terpusat di instansi pemerintahan bahkan di laksanakan dalam kegiatan Nasional yang dipusatkan di Masjid Istiqlal, namun model menyebar dalam kegiatan Maulid tetap berjalan bahkan semangkin luas sebarannya.

Kapan kegiatan Maulid di Kesultanan Banten ? pada awalnya peranan Maulid adalah untuk memberi semangat pada pasukan Islam yang telah mengalami kejenuhan. Maulid adalah sebagai pemotivasi semangat pada pejuang Islam pada masa perang, dalam masa damai Maulid, juga memberikan semangat kebersamaan, semangat persaudaraan. Bentuk semangat kebersamaan nampak sewaktu membaca marhaban, dibaca dengan keras (suara tinggi) bersemangat dalam nada yang sama. Setiap rumah tangga kaya/miskin mengeluarkan /menyumbangkan nasi dan lauk pauk yang ditempatkan pada lehe atau baskom sebagai bentuk kebersamaan. Lehe sebagai tempat nasi dan lauk pauk diberi hiasan. Hiasan ini merupakan kreatifitas dan inovasi Maulid, sesaui dengan jamannya, hiasan tersebut berubah-ubah, kalau saat ini jaman Hp maka ada hiasan berupa Hp dst.

Lehe yang dihias tersebut, disebut lehe yang menggunakan pajangan, karena itu disebut pajang lehe, lalu juga disebut panjang lehe, karena setelah lehe-lehe terkumpul lalu diarak menuju masjid, karena itu disebut panjang lehe. Setelah terkumpul di dalam masjid lalu dibacakan Maulid Nabi. lauk pauk yang setelah dibacakan Maulid Nabi, disebut nasi berkat (nasi yang mengandung nilai barokah). Masyarakat yang berbondong-bondong untuk mendapatkan nasi berkah disebut ngeropok tapi setelah berada di dalam masjid duduk sila untuk mendpatkan bagian nasi berkat disebut ngeriung. Ngeriung membagikan nasi berkat secara tertib, secara rata dan tidak rebutan. Sebagai alas nasi lauk pauk adalah daun jati.

Maulid sebagai semangat persaudaraan, secara tidak langsung Maulid merupakan bentuk silaturahmi antar kampung, antar masjid antar musolla, sehingga satu sama lain saling mengenal, mereka datang secara berbondong-bondong yang dikenal dengan ngeropok. Nasi Maulid mengandung nilai berkah juga Maulid mengandung nilai karomah, masyarakat menggunakan momen maulid untuk kegiatan acara potong rambut seorang bayi, sehingga dalam peringatan maulid, terdapat lebih dari satu orang bayi-bayi yang dipotong rambutnya. Mungkin itulah sisi ketauladanan Maulid bagi masyarakat yang mengandung makna semangat kebersamaan dan semangat persaudaraan, yang disimbolkan pada nasi berkat, ngeropok, ngeriung, pajang dan panjang, juga membawa dampak karomah bagi bayi-bayi lahir pada bulan Maulid untuk dipotong rambutnya pada kegiatan peringatan maulid, agar bayai-bayi tersebut kelak akan mentauladani Nabi Muhammad.

Demikianlah makna maulid pasca runtuhnya kesultanan Banten, Kesultanan Banten terbagi atas dua fase, fase kerajaann dan fase kesultanan. Fase kerajajan berlangsung selama 70 tahun dari tahun 1526-1596 dan fase kesultanan berlangsung selama 217 tahun, dari tahun 1596-1813. Pada fase Kesultanan di Banten dibagi lagi atas periode pertumbuhan dan perkembangan dari tahun 1526-1682, kurang lebih selama 156 tahun dan periode stagnasi hingga keruntuhan dari tahun 1687-1813 kurang lebih selama 126 tahun. Pada Periode keruntuhan hingga pasca keruntuhan inilah, yang membentuk Maulid hingga saat ini. Bagaimana bentuk/model Maulid pada periode pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Banten, pada masa siapa awal kegiatan Maulid di Kesultanan Banten dilaksanakan?

Pada periode pertumbuhan dan perkembangan terdapat beberpa masa-masa pemerintahan antara lain; masa pemerintahan Panembahan Maulana Hasanuddin (1526-1570), masa pemerintahan Panembahan Maulana Yusuf ( 1570-1580), masa pemerintahan Perwalian (mentri-Mentri), (1580-1585), masa pemerintahan Panembahan Maulana Muhammad (1585-1596), masa Perwalian Ranamanggala dkk ( 1596-1624), masa Sultan Abulmafakhir Muhammad Abdul Kadir Kanari ( 1624-1651), masa Sultan Abulma’ali Ahmad Kanari (1635-1650) dan masa Sultan Ageng Tirtayasa ( 1651-1682).

Pada masa siapa awal kegiatan maulid di Kesultanan Banten dilaksanakan ? awal kegiatan Maulid, berarti kegiatan peringatan Maulid yang pertama kali dilaksanakan apakah di Banten ataukah di Nusantara ini. Bagaimana awal memulainya dan apa tujuan husus diselenggarakannya peringatan Maulid di Kesultanan Banten pada masa itu ?. apa sumber rujukannya untuk menggali kegaitan Pringatan Maulid di Kesultanan Banten tersebut. Sumber rujukannya adalah manuscrip Banten, pada VI, pupuh XXVII, dan pupuh XXXIV, yang ditulis sekitar tahun 1700 an, artinya ditulis pada masa akhir periode pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Banten.

Ringkasan manuscripnya adalah sebagai berikut: pada masa Sultan Abulmafakhir Muhammad Abdul Kadir Kanari, telah terdapat hubungan bilateral antara Banten dengan Mekkah, Sultan Banten telah menugaskan tiga orang utusan untuk menemui (lawatan) Sultan Sarip Jahed. Ketiga orang tersebut antara lain; Lebe Panji, Tisnajaya dan Wangsaraja. Ketiga utusan tersebut membawa pesan dan hadiah dari Sultan Banten. Pesan untuk mohon arahan dan bahasan tentang tiga buah Kitab yaitu; Kitab Markum, kitab Muntahi dan kitab Wujudiah. Lalu membawa hadiah untuk sultan Sarif jahed berupa; Cengkeh, Pala dan Kasturi. Mereka berangkat dengan menggunakan kapal Wakaf Sultan Akbar. Siapa sultan Akbar tersebut ? tentang arahan dan bahasan ketiga kitab tersebut bisa dilihat dalam Kitab Al-Mawahib Ar-Rabaniyah ‘An Al-As’ilah Al-Jawiyah.

Persoalannya adalah bagaimana dengan Maulid ? Sultan Sarip Jahed memberikan hadiah balasan untuk Abulmafakhir Muhammad Abdul Kadir Kanari, berupa gelar dan tumbal atau jimat suci Kerajaan. Gelar yang dimaksud adalah gelar Sultan. Gelar Sultan ini merupakan yang pertama kalinya secara resmi diberikan oleh Sultan Sarif Jahed kepada Abulmafakhir Muhammad Abdul Kadir Kanari dari Banten, berikutnya dalam manuscrip disebutkan bilamana bagi raja-raja lainnya yang menghendaki gelar Sultan harus melalui Banten (pupuh XXXIV).

Hadiah balasan tersebut disamping gelar Sultan juga tumbal atau jimat suci Kerajaan. Tumbal atau jimat suci kerajaan ini merupakan bentuk kepercayaan Sultan Sarif Jahed kepada Banten, dan merupakan bentuk kepercayaan tertinggi atau semacam pemberian tongkat estafet dari kerajaan ke kerajaan lain atau juga disebut dengan bentuk legitimasi dari suatu kerajaan. Bentuk legitimasi dari suatu kerajaan kepada penerusnya semacam regalia, siapa siapa yang telah memegang regalia, maka dialah yang berhak menjadi raja. Namun yang diberikan oleh Sarif Jahed ini adalah untuk sebuah institusi. Apa bentuk jimat suci kerajaan yang diberikan dari Sarif Jahed untuk Kesultanan Banten tersebut? Dalam pupuh XXXIV bahwa bentuknya berupa Bendera Nabi Ibrahim dengan menggunakan ornamne pedang Zulfikar.

Dalam pupuh XXXIV, bendera Nabi Ibrahim tersebut, pada setiap Bulan Maulid dibawa keliling dengan upacara iring-iringan. Artinya makna Maulid pada sejarah awal di Banten adalah dimulai pada masa Sultan Abulmafakhir Abdul Kadir kanari dengan cara membawa bendera Nabi Ibrahim dengan ornamne pedang Zulfikar, dibawa keliling dengan upacara iring-iringan pada setiap Bulan Maulid. Kenapa Bulan Maulid. Bulan Maulid merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nabi ibrahim sebagai simbol perlawanan terhadap Jahiliyyah secara fisik dengan menghancurkan benda-benda berhala, Nabi Muhammad sebagai sombol perlawanan jahiliyyah secara non fisik termasuk menuhankan benda-benda lainnya selain Alloh. La Ila ha illalloh, tidak ada Tuhan selain Alloh.
Itulah makna Maulid pada periode pertumbuhan dan perkembangan di Banten. sebenarnya Sultan Abulmafakhir Abdul kadir kanari dalam pesannya kepada Sultan Sarif Jahed adalah memohon untuk mendatangkan ahli fikih, dengan harapan ahli fikih tersebut akan membawa cahaya di Banten (pupuh XXVII), namun Syeh Ibnu Alam yang ditunjuk oleh Syarif Jahed tidak bersedia memenuhi permintaan Sultan Abulmafakhir Abdul Kadir kanari ia mengatakan “ia tidak tertarik untuk meninggalkan Mekkah”.

Dalam periode stagnasi dan keruntuhan Banten muncul organisasi-organisasi militan untuk melawan penjajahan, antara lain berkembang aliran-aliran Tarekat. Tarekat merupa suatu metode atau cara untuk ittihad, dekat dengan Alloh, dengan metode zikirnya. Dalam Tarekat bilamana sudah dekat denga Alloh, maka Alloh cukup disingkat dengan HU. Sehingga ada Tarekat yang dalam zikirnya hanya mengucapkan HU HU HU HU. tidak ada Tuhan selain Alloh hanya menyebut singkatan Lahu. Kalau di jawa dalam kegiatan Peringatan Maulid dikenal dengan SEKATEN maka di Banten dalam kegiatan peringatan Maulid dikenal dengan LAHU, sama-sama menggunakan jargon Sahadatain. Karen dalam bahasa Serang dalam pengucapannya selalu menggunakan konsonan (e), sehingga kata LAHU berubah menjadi LEHE.

SIMPULAN

Peringatan Maulid merupakan bagian dari kegiatan di Kraton, lalu dalam perkembangan berikutnya Maulid tidak lagi tercentralistik tapi telah menyebar, hingga ke semua lapisan masyarakat.Maulid sebagai bagian dari kegiatan Kraton maknanya sebagai legitimasi kraton bahwa Keraton merupakan pengemban amanah ketauladanan Nabi Muhammad SAW yang tentunya patut diikuti oleh rakyatnya. Makna Maulid sebagai legitimasi kraton, maka bentuk kegiatannya adalah pawai keliling dengan membawa bendera Nabi Ibrahim dengan ornamen pedang Zulfikar. Pawai keliling tersebut dilaksanakan setiap bulan Maulid yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad.

Bendera Nabi Ibrahim tersebut merupakan hadiah balasan dari Sultan Syarif Jaehed dari Mekkah untuk Sultan Abumafahir Abdul Kadir Kanari dan juga pemberian gelar Sultan untuk Abdulmafakhir Abdul Kadir Kanari. Pawai keliling merupakan , sebagai bentuk rasa Syukur atas gela tersebut, waktu penyelenggaraaan pawai pilihannya adalah pada momen Maulid Nabi Muhammad.

Pasca runtuhnya kraton makna Maulid tidak lagi sebagai legitimasi kraton tetapi sebagai bentuk kprihatinan terhadap runtuhnya kraton dan berupaya untuk membangkitkan semangat kebersamaan, semangat persaudaraan dalam masyarakat. Sehingga muncul istilah “ngeropok”, lalu istilah “ngeriung”, semuanya adalah sebagai bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad dan Ketaatan pada Alloh yang disimbolkan dalam bentuk Lehe.*


Sekilas Info

DEBAT PUTARAN KEDUA PILPRES 2019 LEBIH GREGET

Oleh : Hadi Susiono Pasca debat putaran pertama Pilpres pada Kamis, (17/1/2019) jagat perpolitikan Indonesia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *