Mathla’ul Anwar dalam Dedikasi terhadap Umat dan Bangsa

Oleh: Maddais

Organisasi massa (ormas) Islam dalam sejarahnya memiliki peran yang sangat besar dalam proses transformasi Islam di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam sejarah dicatat, bahwa ormas-ormas Islam lahir dan tumbuh dari pergulatan sosial kemasyarakatan yang menuntut adanya sebuah guide (pemandu) bagi keberlangsungan kehidupan yang berkeadilan, damai, dan toleran.

Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama Machasin mengatakan, pilar-pilar yang memperkokoh perkembangan Islam di Indonesia, adalah ormas-ormas Islam yang tumbuh dan berkembang di negara ini, bahkan di antaranya ada yang sudah berdiri sejak sebelum kemerdeakaan dan sampai kini semakin menunjukkan eksistensinya dalam dedikasi terhadap umat dan bangsa Indonesia, seperti Muhammadiyah (1912), Mathla’ul Anwar (1916), Nahdlatul Ulama (1926), dan sejumlah organisasi Islam lainnya.

Organisasi Islam ini memiliki akar jamaah yang sangat kuat dan secara sosiologis berbeda satu dengan lainnya. Mereka juga memiliki raison d’etre (alasan sebuah keberadaan) sendiri atas kehadirannya di Indonesia dan infrastruktur hingga ke pelosok desa. “Mereka menggunakan nalar yang berbeda satu sama lainnya dalam mempelajari sumber ajaran Islam sesuai dengan kondisi masyarakatnya tanpa meninggalkan sumber aslinya,” (Republika, 2010).

Organisasi-organisasi massa (ormas) Islam itu berperan sebagai civil society atau kelompok kepentingan (interest group) yang dapat ikut ambil bagian dalam proses membuat kebijakan publik serta mengkritisi kebijakan publik yang tidak sejalan dengan kepentingan rakyat dan aspirasi umat. Bahkan, pada masa Orde Baru, ormas-ormas Islam merupakan kelompok masyarakat yang paling konsisten dalam melakukan kritik terhadap pemerintah, di saat-saat lembaga parlemen dan masyarakat politik tidak berdaya melakukannya, (Abdillah, 2013. Amin, 2016).

Mathla’ul Anwar (MA) sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan agama Islam yang independen (nonpolitik), berkiprah dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial yang didirikan di Menes Banten, 103 tahun silam, telah banyak memberikan sumbangsih bagi proses pencerdasan bangsa, (Asry, 2012). Sejarah kelahirannya yang dipicu oleh keprihatinan terhadap merebaknya praktik-praktik takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC), serta kemunduran etika saat itu, menjadi momen yang tepat bagi perkembangan organisasi pada saat-saat awal, (A. Dimyati, 2006. Suyitno, 2008).

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) Oke Setiadi mengatakan, bahwa Mathla’ul Anwar yang didirikan pada 1916 di Menes, Banten secara kuantitas sudah tersebar di 26 pengurus wilayah provinsi dan 215 pengurus daerah di Indonesia dengan mengelola lembaga pendidikan dari tingkat madrasah hingga perguruan tinggi, (Republika, 2010).

MA mempunyai catatan sejarah yang panjang. Ide pendirian MA ini berawal dari K.H. E. Muhammad Yasin sekembalinya dari sebuah rapat di Bogor yang digagas oleh H. Samanhudi pendiri Syarikat Dagang Islam (SDI) pada 1908. Sebagai tindak lanjutnya, K.H. E. Muhammad Yasin mendatangi rekan-rekannya yang berada di sekitar Menes, di antaranya K.H. Tb. Muhammad Shaleh dari Kampung Kananga dan beberapa orang kiai lainnya. Mereka kemudian mengadakan pertemuan membicarakan persoalan umat, (Sejarah dan Khithah Mathla’ul Anwar, 1996).

Dalam pertemuan tersebut, dihasilkan kesepakatan, bahwa diperlukan sebuah perkumpulan untuk mengatasi keadaan yang sulit sebagai akibat kontrol yang berlebihan dari pemerintah kolonial terhadap para ulama, setelah terjadinya revolusi di Cilegon pada 1888. Perkumpulan tersebut, juga dimaksudkan untuk mengajak masyarakat kembali kepada Islam sebagai satu-satunya kebenaran dan cara hidup. Semua yang hadir akhirnya sepakat membentuk suatu majelis pengajian yang diasuh bersama.

Pada perkembangannya majelis pengajian tersebut, dijadikan lembaga muzakarah dan musyawarah dalam memerangi permasalahan yang di hadapi umat. Mereka mengharap ‘muncul seberkas sinar di tengah kegelapan’. Inilah yang selanjutnya, atas usulan K.H. Mas Abdurrahman dipilih menjadi nama Mathla’ul Anwar (bahasa Arab, yang artinya tempat terbit, artinya cahaya-cahaya/sinar), (Sejarah dan Khithah Mathla’ul Anwar, 1996).

Organisasi kemasyarakatan Mathla’ul Anwar (MA) didirikan oleh K.H. Mas Abdurrahman bersama sebelas ulama founding fathers MA lainnya, yaitu: (1) K.H. Tb. Muhammad Shaleh, (2) K.H. E. Muhammad Yasin, K.H. Arsyad Tegal, K.H. Abdul Mu’ti, K.H. Sulaeman Cibinglu, K.H. Daud, K.H. Rusjdi, K.H. Mustaghfiri, E. Danawi, Tb. Tirtawinata, dan Kiai Muhammad Nur, (Djumhur dan Danasuparta, 1976. Rosidin, 2007).

Organisasi Mathla’ul Anwar ini dibentuk, berawal dari diadakannya musyawarah untuk membuka sebuah madrasah pada 10 Ramadan 1334 H/10 Juli 1916 M, sementara kegiatan belajar mengajar secara resmi baru berlangsung pada 9 Agustus 1916. Terpilih sebagai mudir/direktur, adalah K.H. Mas Abdurrahman (1868-1943) dan presiden bistirnya K.H. E. Muhammad Yasin (1860-1937). Dua tokoh inilah yang meletakkan dasar MA hingga saat ini, (Syarjaya dan Jihaduddin, 2003).

Nama “Mathla’ul Anwar” yang berarti “Tempat Terbitnya Cahaya” merupakan hasil istikharah dari K.H. Mas Abdurrahman dan digunakan sebagai nama madrasah yang didirikannya. Dari madrasah inilah dihasilkan kader-kader mubalig serta kiai dan ulama Mathla’ul Anwar (MA) yang kemudian bergerak menyebarluaskan MA ke daerah-daerah lain di luar Menes, Pandeglang, (Syarjaya dan Jihaduddin, 2003).

Dalam perjalanan sejarahnya, MA secara signifikan terlihat telah memainkan peran yang penting bagi perkembangan masyarakat Banten khususnya dan daerah lain pada umumnya. Tugas sosial MA yang ditempuh melalui jalan pendidikan dalam arti yang luas dilakukan dengan mencatatkan keberhasilan. Di bawah kepemimpinan K.H. Mas Abdurrahman didampingi oleh seniornya K.H. E. Muhammad Yasin dan K.H. Tb. Muhammad Shaleh, MA sejak 1916 telah merintis upaya perbaikan umat melalui jalan pendidikan modern, seperti yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923 M) dengan Muhammadiyahnya atau Jamaluddin al-Afghani (1839-1897) dan Mohammad Abduh (1845-1905) sebagai pendahulunya di Mesir.

Perjalanan MA berikutnya, selain berkembang pesat di Menes, pada 1920-an sampai dengan 1930-an, di Lampung, Lebak, Serang (Kepuh), Bogor, Tangerang, Karawang, dan tempat-tempat lain, sudah berdiri madrasah Mathla’ul Anwar cabang Menes, namun hanya diizinkan menyelenggarakan madrasah sampai kelas IV (empat), sedangkan untuk kelas V, VI dan VII harus belajar di madrasah Mathla’ul Anwar pusat Menes. Menurut Syibli Syarjaya, dibuatnya kebijakan, bahwa untuk kelas V, VI dan VII harus belajar di madrasah Mathla’ul Anwar pusat Menes, adalah dalam rangka menjaga kualitas (mutu), (Wawancara, 2015).

Mengenai program pendidikan sistem madrasah, madrasah Mathla’ul Anwar sejak didirikan pada 1916 telah menggunakan peralatan-peralatan belajar modern, seperti papan tulis, bangku, dan meja, sertas telah menyelenggarakan program pendidikan 9 (sembilan) tahun, yang sistem pembelajarannya telah menggunakan sistem klasikal, terdiri atas kelas A, B, dan I. Pada 1920, jumlah kelas ditambah, sehingga menjadi A, B, I, II, III, IV, dan V. Setelah K.H. E. M. Djunaedi, putra K.H. E. Muhammad Yasin kembali dari belajarnya di Universitas al-Azhar, Mesir, jumlah kelas Mathla’ul Anwar ditambah menjadi sembilan kelas: A, B, I sampai dengan kelas VII, (Syarjaya dan Jihaduddin, 2003). Sistem pendidikan 9 (sembilan) tahun (A, B, I, II, III, IV, V, VI, VII) yang dilaksanakan di Mathla’ul Anwar ini terus berjalan hingga akhirnya pada 1950 mengikuti sistem baru yang ditetapkan oleh pemerintah, (Shaleh, 1984). (Penulis Anggota Departemen Organisasi Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA). Kandidat Doktor Pendidikan Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here