Masyarakat Diminta Pro-Aktif, KDRT Didominasi Faktor Ekonomi

CILEGON, (KB).- Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kota Cilegon 2017 menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Di 2017 tercatat 70 kasus KDRT. Sedangkan di 2016 tercatat lebih dari 100 kasus. Menurut Ketua Pusat Pelayanan dan Perlindungan Keluarga Cilegon Dr Ratu Robiatul Alawiyah, penyebab terjadinya KDRT didominasi masalah ekonomi.

“Faktor yang mendominasi tindak KDRT itu adalah ekonomi. Sedangkan kekerasan seksual diakibatkan kurangnya kepedulian orangtua terhadap anaknya dalam melakukan pengawasan,” kata Robiatul Alawiyah seusai dilantik menjadi Ketua Pengurus Pusat Pelayanan dan Perlindungan Keluarga Cilegon (P3KC) periode 2017-2020 di Aula Setda II Kota Cilegon, Selasa (12/12/2017).

Menurut dia, untuk mengatasi permasalahan tersebut, peran orangtua dalam melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap anak sangat penting. Sehubungan itu, P3KC akan meningkatkan pelayanan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Salah satu program yang paling dekat, lanjut perempuan yang akrab dipanggil Elin ini, yakni peningkatan pelayanan. Selain itu juga akan menyosialisasikan pelayanan P3KC kepada masyarakat.

“Sosialisasi itu penting, apalagi Kota Cilegon sebagai kota yang berkembang tentunya harus terus menerus supaya masyarakat Cilegon paham, karena kami mempunyai lembaga yang namanya P3KC,” ujarnya. P3KC, tutur dia, didirikan untuk menangani berbagai kasus pelecehan. Seperti pelecehan seksual di bawah umur dan kekerasan lainnya yang harus melibatkan semua jejaring, seperti pihak kepolisian, Dinas sosial (Dinsos), DP3AKB, pengadilan agama, kementerian agama, pemerintah kecamatan, kelurahan serta masyarakat.

Hal itu dilakukan karena melihat di zaman era globalisasi saat ini banyak penggunaan media sosial. Maka keluarga sangat berperan penting, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Cilegon Henny Anita Susila mengatakan, kekerasan dalam rumah tangga atau anak harus direspons dengan cepat.

Angka tersebut memang jumlah yang tidak sedikit dan ini adalah PR bagi kami untuk menekan angka tersebut sekecil mungkin, bahkan korban lebih banyak di usia remaja dan dewasa mulai 21-44 tahun. Guna menekan angka KDRT tersebut, lanjut Heni, berbagai program kerja telah disiapkan. Di antaranya, melakukan sosialisasi pencegahan kepada tokoh masyarakat dan ulama. Pembinaan pencegahan kekerasan terhadap anak. Sosialisasi pengantin melalui P3KC. Bahkan ia menargetkan kasus KDRT di tahun 2018 harus turun.

Sesuai arahan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang sekarang ini mempunyai program akhiri kekerasan peda perempuan dan anak, akhiri perdagangan orang dan akhiri kesenjangan ekonomi pada perempuan dan anak.  Hal itu sudah menjadi isu nasional, jadi masyarakat harus berani melapor ketika melihat kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Masyarakat diharapkan tidak lagi takut atau malu melapor. Apalagi pelakunya adalah keluarga terdekat, dan masyarakat harus proaktif. (HS)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here