Masyarakat Cilegon Jangan Malu Menggunakan Bahasa Daerah

CILEGON, (KB).- Masyarakat Cilegon khususnya Kec.Citangkil jangan malu menggunakan bhasa daerah Cilegon atau bebasanHal itu dikatakan oleh Sekmat Citangkil Entik Atikoh dalam kegiatan sosialisasi dan pelestarian bahasa daerah jawa banten dan seni tradisional ubrug diaula Kec.Citangkil, Rabu (22/11/2017).”Sebagai warga Citangkil dan Cilegon tidak usah malu menggunakan bahasa daerah, apalagi setiap Kamis di Kec.Citangkil diwajibkan menggunakan bahasa daerah bebasan ,” katanya.

Menurutnya, sebagai bahasa daerah yang merupakan identitas,seharusnya masyarakat cilegon bangga adanya bahasa daerah yang digunakan dalam keseharian. “Pendatang dari manapun dan menetap di cilegon memang sudah seharusnya belajar bahasa bebasan ini, apalagi sudah ada Perwal. Artinya kami bangga bahasa bebasan ini dilestarikan dan didukung oleh pemerintah. Karena perjalanan pelestarian bahasa ini memang cukup lumayan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dirinya membuat buku bahasa bebasan  ini, atas dasar keprihatinan, dimana sampai saat ini bahasa kami cilegon, sebagai kearifan local, jarang dipakai baik oleh putra daerahnya sendiri, ataupun orang lain (Pendatang), sehingga dirinya mempunyai kewajiban untuk membuat buku bebasan jawa cilegon, supaya tidak punah tergerus oleh globalisasi jaman.

“Perjalanan yang cukup panjang ingin dilestarikannya bahasa bebasan ini, mulai membuat buku saat saya masih menjadi Tenaga Honorer sekitar tahun 2000 pada Dinas Pendidikan, tiap hari ada kosa kata baru saya ketik, dan saya tulis lalu saya salin di computer. Banyak suka dan dukanya dalam menerbitkan buku ini, saya pernah menangis gara gara kosa kata yang saya kumpulkan di computer ternyata hilang semua, dan disitu saya menangis, namun berkat semangat dan dorongan dari keluarga, saya teruskan kembali menulis,” tuturnya.

Ia berharap, untuk melestarikan dan membudayakan bahasa jawa cilegon, tidak cukup untuk mempelajari buku yang tebalnya 300 halaman , akan tetapi harus dipraktekan. Misalnya sekolah sekolah dicilegon harus sudah ada muatan local dalam belajar mengajar, disamping bahasa Indonesia maupun bahasa internasional. Selain pemerintah para pelaku dan penggiat seni juga harus membudayakan bahasa bebasan cilegon, walau itu pertunjukan sekalipun.

“Pertama memang terasa aneh, tapi kalau sudah biasa mungkin bisa. Saya melihat pertunjukan budaya di teve, seperti wayang kulit dari daerah jawa tengah sana memakai bahasa daerah, walaupun ada teksnya, itu membantu menyebarkan bahasa daerahnya sendiri, kenapa di cilegon tidak dilakukan,” ucapnya.

Narasumber dalam sosialisasi bebasan tersebut Prof.Imat Tihami menyatakan, minimnya anak muda yang memahami bahasa bebasan karena kebiasaan dan tidak diajarkan oleh orang tuanya.Saat ini anak muda merasa malu menggunakan bahasa daerahnya, padahal sangat bagus dan mempunyai makna yang banyak. “Anak muda sekarang memang enggan belajar bahasa bebasan, padahal itu bagus,ketika kita ngobrol dengan orang tua,bukan sikap saja yang hormat, akan tetapi dalam bahasa pun bias dilakukan dengan hormat,” kata Imat.

Uniknya, lanjut Imat Tihami,kosa kata bebasan cilegon mengandung banyak makan, dan juga ada beberapa yang hampir punah atau tidak digunakan lagi saat sekarang ini. “Contohnya adalah Wedi, kalau penempatan kalimatnya bias banyak makna, ayun ngebangun griye butuh wedi, itu artinya pasir,sedangkan kalimat yang lain, kule boten milet wedi, itu artinya saya tidak ikut takut,” ungkapnya. (HS)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here