Masyarakat Baduy Siap Menggelar Seba

Seba Baduy

RIBUAN warga Baduy yang tinggal di kaki pegunungan Kendeng bersiap turun gunung untuk mengikuti ritual adat tahunan yang dinamakan Seba Baduy yang digelar pada tanggal 20 April mendatang. Warga Baduy Dalam (sering disebut Urang Tangtu atau Urang Baduy Jero) berasal dari Kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana, dengan warna pakaian khas putih-putih, akan melakukan seba ke Bapa Gede (kepala pemerintahan di Lebak dan Banten) dengan berjalan kaki.

Sementara warga Baduy Luar (Urang Penamping) dengan pakaian khas hitam-hitam sudah menggunakan kendaraan umum yang sudah disiapkan Pemerintah Kabupaten Lebak sebagai alat transportasi. Dalam perayaan seba, masyarakat Baduy akan menyerahkan hasil pertanian, di antaranya pisang, talas, gula aren, dan beras ketan kepada Bapak Gede sebagai bentuk terima kasih kepada pemerintah daerah yang memberikan perlindungan kesejahteraan dan keamanan bagi masyarakat Baduy.

Seluruh rangkaian upacara seba, mulai dari persiapan pemberangkatan, perjalanan panjang perwakilan Baduy Dalam ke lokasi seba, hingga prosesi upacara seba di pendopo kabupaten dan gubernur, selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Lebak dan Banten. Bahkan tak sedikit wisatawan yang sengaja datang untuk menyaksikan acara yang sakral itu. “Kami setiap tahun rutin melaksanakan ritual seba dengan mendatangi Bupati Lebak dan Gubernur Banten sebagai “Bapak Gede” atau pemimpin kepala daerah,” kata pemuka Baduy Saija yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, awal pekan lalu.

Pelaksanaan perayaan seba diagendakan tanggal 20 April 2018 dengan mendatangi penjabat Bupati Lebak Ino S Rawita bersama pejabat daerah setempat. Kegiatan ritual seba itu untuk memperkuat persatuan sebagai bentuk cinta terhadap tanah air dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut Saija, perayaan adat seba yang dilakukan sejak zaman kesultanan Banten itu merupakan peninggalan leluhur (Kokolot) yang harus dilaksanakan sekali dalam setiap tahun setelah musim panen ladang huma.

Sebelum pelaksanaan seba, selama tiga bulan permukiman warga Baduy, khususnya tiga kampung Baduy Dalam (Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana) dinyatakan tertutup untuk umum (pengunjung) seiring dengan pelaksanaan adat Kawalu. Saat ini, masyarakat Baduy yang berpenduduk 11.600 jiwa belum pernah mengalami kerawanan pangan. Karena itu, masyarakat Baduy memiliki kewajiban untuk menyembahkan hasil pertanian bercocok tanam ladang kepada kepala daerah sebagai wujud syukur atas perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Menurut dia, setelah melaksanakan seba di Kabupaten Lebak, selanjutnya tanggal 21 April 2018 mendatangi Gubernur Banten Wahidin Halim.

Kasubag Pemberitaan Humas Sekretariat Pemerintahan Kabupaten Lebak, Aep Dian Hendriawan mengatakan, perayaan Seba Baduy tahun ini akan dihadiri Menteri Pariwisata Arief Yahya. Perayaan seba tahun ini tentu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena memasuki usia satu abad yang dilaksanakan masyarakat Baduy. Perayaan Seba Baduy menampilkan berbagai kerajinan, di antaranya kain tenun, tas koja, batik dan aneka souvenir. Selain itu, perayaan tersebut akan diwarnai dengan produk kuliner khas masyarakat Lebak, seperti sale pisang, makanan camilan dan tradisional, abon ikan, gula semut, kerupuk emping dan kerajinan anyaman bambu. (Nana Djumhana)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here