Masjid Raya di Alun-alun, Sulhi: Penentuan Lokasi Sesuai Kajian

SERANG, (KB).- Wakil Wali Kota Serang, Sulhi Choir menyebutkana, pemilihan lokasi masjid raya di Alun-alun Barat Kota Serang tidak sembarangan. Menurut dia, rencana tersebut telah melalui kajian yang matang. “Masalah lokasi itu lebih baik di alun-alun, karena dalam melakukan pemilihan lokasi sudah melalui kajian panjang, tidak asal saja,” katanya saat ditemui seusai menghadiri acara teknologi tepat guna (TTG) tingkat Provinsi Banten, di Alun-alun Barat Kota Serang, Senin (10/9/2018).

Menurut dia, rencana pembangunan Masjid Raya Kota Serang telah menjadi cita-cita masyarakat. “Oleh karena itu, Pemkot Serang bertanggung jawab mewujudkan cita-cita tersebut,” ujarnya. Ia menjelaskan, Alun-alun Barat Kota Serang menjadi akses banyak orang, bahkan menjadi tempat pemberhentian atau istirahat masyarakat. Terkadang, ucap dia, masyarakat kebingungan ketika akan menunaikan ibadah.

“Di daerah lain itu masjidnya dekat dengan pusat kota dan pusat pemerintahannya. Ke depan setelah pelimpahan kantor bupati ini, maka masjidnya akan berdekatan dengan Pusat Pemerintahan Wali Kota Serang,” tuturnya. Ia menjelaskan, keberadaan masjid raya di pusat kota tersebut, juga sejalan dengan moto Kota Serang Madani. “Jadi, nanti kan yang ada di pusat kota itu masjid, kalau azan berkumandang bisa terdengar. Jadi, berasa kota madaninya. Yang kami lihat saat ini di pusat kota kan gereja,” katanya.

Ia menanggapi tentang Masjid Ats-Tsauroh. Menurut dia, tidak jadi masalah ada dua masjid besar di Kota Serang. Menurut dia, Masjid Ats-Tsauroh merupakan masjid yang dikelola yayasan, bukan pemerintah daerah. “Ats-Tsauroh itu kan milik yayasan bukan punya kami. Jadi, itu sebenarnya masjid besar biasa, bukan termasuk masjid agung, karena milik yayasan. Saat ini yang akan kami bangun itu kan benar-benar masjid milik Pemkot Serang untuk masyarakat Kota Serang,” ujarnya.

Peletakan batu pertama pembangunan masjid raya tersebut akan dilaksanakan dalam waktu dekat oleh Wali Kota Serang, Tubagus Haerul Jaman. “Untuk peletakan batu pertamanya dalam waktu dekat ini. Sudah ada panitianya. Nanti dilakukan oleh pak wali langsung,” ucapnya.

Kemacetan bukan penghalang

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang menilai, kemacetan bukan suatu penghalang untuk mendirikan masjid raya di Alun-alun Barat Kota Serang. MUI meyakini, Pemkot Serang merencanakan hal tersebut secara matang dengan menggandeng ahli tata kota.

“Soal kemacetan di seputar alun-alun, adalah soal lain dari padatnya kendaraan dan itu tandanya ada kemajuan. Hal tersebut tidak menjadi alasan atau gangguan untuk mendirikan masjid,” tutur Sekretaris MUI Kota Serang, Amas Tadjudin kepada Kabar Banten, Selasa (11/9/2018).

Menurut dia, persoalan tata kota di kawasan alun-alun tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak berdirinya masjid raya. Menurut dia, hal tersebut bisa diatasi dengan perencanaan yang matang dari ahlinya. “Tidak mesti harus terganggu, misalnya jika dipandang perlu perkantoran pemerintah maupun swasta di sekitar alun-alun bisa direlokasi ke tempat lain, seperti gedung yayasan sekolah swasta, kantor pos, Ramayana, dan lain-lain,” katanya.

Ia menuturkan, MUI bersama ormas keagamaan mendukung rencana pembangunan masjid tersebut. “Kelak menjadi sebuah simbol Kota Serang madani yang penuh berkah,” ujarnya. Ia mengungkapkan, dukungan pembangunan masjid di alun-alun tersebut telah disampaikan sejak Pemerintah Kota Serang terbentuk. Ketika itu, ucap dia, Ketua Umum MUI Kota Serang menyampaikan langsung kepada Asmudji HW selaku Penjabat Wali Kota Serang.

Kemudian, diteruskan kepada (almarhum) Bunyamin selaku Wali Kota Serang berikutnya. Oleh karena itu, MUI mendorong pemkot segera melakukan peletakan batu pertama. “Harus segera direalisasikan, selambat-lambatnya pada akhir anggaran2018 sudah dimulai tahapan awal pembangunanya” ucapnya.

Mengenai keberadaan Masjid Ats-Tsauroh, menurut dia, masjid tersebut milik masyarakat sekitar dan bukan merupakan masjid agung. “Tidak ada dua masjid agung, Ats-Tsauroh punya masyarakat lingkungan Pegantungan, ‘di masjid agungkan’ karena kebutuhan sebutan waktu itu,” ucapnya. (Masykur/TM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here