Masjid Nabawi, Azan dan Kerinduan

Masjid Nabawi di Kota Madinah merupakan masjid yang menjadi magnet jutaan umat Islam dunia untuk dikunjungi. Di masjid itulah umat Islam, di antaranya bisa merasakan napak tilas perjuangan Nabi Muhammad SAW membangun peradaban Islam.

Mengunjungi Masjid Nabawi juga sebagai pelepas kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW. Di masjid bersejarah tersebut terdapat makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Dikutip dari wikipedia, Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun Nabi Muhammad SAW, setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah dia dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi.

Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Muhammad untuk dibangunkan masjid dan tempat kediamannya.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m. Nabi Muhammad SAW turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para sahabat dan kaum muslimin.

Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja.

Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Kini setelah dilakukan renovasi dan perluasan berkali-kali, masjid ini menjadi megah dan diproyeksikan bisa menampung 1,6 juta jemaah. Masjid Nabawi memiliki 40 pintu utama dengan ornamen yang megah dengan variasi payung raksasa.

Payung-payung itu dipasang di halaman dan beberapa dalam masjid. Payung-payung itu mekar saat siang hari bak bunga. Berdasarkan informasi, jumlah payung yang ada di Masjid Nabawi sebanyak 250 buah.

Di dalam masjid ada 12 payung di dua tempat berbeda. Tujuan di dalam masjid sengaja dipasang payung agar ada sirkulasi udara. Payung raksasa yang dipasang di dalam antara lain di belakang ruang utama Masjid Nabawi.

Payung-payung itu dirawat dan dibersihkan dari kotoran dan debu oleh para pekerja di Masjid Nabawi. Payung raksasa di Masjid Nabawi dikendalikan secara otomatis, terbuka, dan menutup sesuai waktu yang ditentukan.

Misalnya, pada musim panas, maka saat Salat Subuh kita melihat payung mulai terbuka dan ini menjadi pemandangan menarik yang dilihat rata-rata setiap jemaah dari luar Madinah. Proses terbukanya payung hingga sempurna memakan waktu kurang lebih tiga menit.

Mereka mengabadikan melalui foto maupun video terutama usai Salat Subuh. Mengenai keutamaan Masjid Nabawi, dijelaskan dalam hadits Nabi, “Satu kali salat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya.” (HR Ahmad).

Selain itu, keutamaan lain yakni ibadah sunah melaksanakan salat fardlu 40 waktu. “Barangsiapa melakukan salat di masjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindar lah ia dari kemunafikan.” (HR Ahmad dan Thabrani).

Azan Bilal

Masjid Nabawi juga terlepas dari sejarah pertama kali azan dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah. Semasa Rasulullah hidup di Madinah, berkumpul lah para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana caranya memanggil orang untuk salat. Ketika itu, arah kiblat baru saja dipindah dari Masjidil Aqsa ke arah Kakbah di Mekkah.

Saat itu, ada yang mengusulkan dengan nuqus atau lonceng, sebagian lagi dengan terompet. Namun, Rasulullah beranggapan cara itu sama dengan apa yang dilakukan orang Nasrani.

Lantas, Abdullah bin Zaid al-Khazraji datang kepada Rasulullah SAW dan bercerita, “Tadi malam aku bermimpi. Ada seorang pria berpakaian hijau membawa lonceng di tangannya. Aku pun bertanya, ‘Apakah engkau menjual lonceng itu?’ Dia balik bertanya, ‘Untuk apa?’ Aku menjawab, ‘Untuk memanggil orang-orang salat berjamaah.’ Dia berkata, ‘Maukah kuberi tahu apa yang lebih baik dari lonceng?’ Aku bertanya, ‘Apa itu?’ Dia mengatakan, ‘Serukanlah Allahu akbar, Allahuakbar-hingga akhir azan.'”

Mendengar cerita itu, Rasulullah berkata, “Insya Allah, mimpi itu benar. Berdirilah bersama Bilal. Ajarkan lah azan itu kepadanya. Suruh dia menyeru orang-orang dengan lafaz-lafaz azan itu. Sebab, suaranya lebih keras daripada suaramu.”

Ketika Bilal mengumandangkan azan, Umar bin Khattab mendengar seruan itu dari rumahnya. Dia pun segera pergi menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Nabi Allah, demi Zat yang telah mengutusmu dengan benar, aku telah bermimpi seperti mimpi yang dialami Abdullah bin Zaid al-Khazraji.” Mendengar itu, Nabi SAW berkata, “Segala puji bagi Allah, hal itu lebih menguatkan.”

Pada masa Rasulullah SAW, begitu pula pada masa Khulafaur Rasyidin, Masjid Nabawi belum memiliki menara azan yang bisa dinaiki oleh muazin. Dahulu, Bilal bin Rabah mengumandangkan azan Salat Subuh dari atas rumah Sahl, seorang wanita dari bani Najjar.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair, dari seorang wanita bani Najjar yang berkata, “Rumahku adalah bangunan paling tinggi sekitar masjid. Setiap pagi, Bilal mengumandangkan azan Subuh dari atas rumahku.

Pada waktu sahur, Bilal datang, lalu dia duduk menunggu fajar. Ketika sudah melihat fajar, dia menegakkan badannya kemudian berdoa, ‘Ya Allah, sungguh aku memuji-Mu dan meminta pertolongan-Mu dari kaum Quraisy untuk menegakkan agama-Mu.’ Setelah itu, dia mengumandangkan azan.”

Disarikan dari kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir (Ajie Najmuddin, 2014), selang beberapa waktu seusai Nabi Muhammad SAW wafat, sahabat Bilal RA menghadap Sayyidina Abu Bakar RA untuk meminta izin meninggalkan Madinah dan pindah ke wilayah Syam.

“Apa alasanmu wahai Bilal?” tanya Abu Bakar Asshidiq. “Di sini terlalu banyak kenangan bersama Rasulullah, sehingga ketika menatap setiap sesuatu yang pernah Rasulullah ‘sentuh’ , di situ ada banyangan yang mulia, sehingga hatiku terlalu rapuh dan mata ini terlalu berat untuk tidak menangis karena kecintaan yang begitu agung dan tulus,” kata Bilal.

Setelah diizinkan, Bilal kemudian menetap di desa Bidariyan, dekat dengan Syam. Bilal pun tak lagi mengumandangkan azan. Bukan enggan, tetapi karena tak kuat jika sampai lafal “Asyhadu anna muhammadan rasulullah”. Perasaannya berkecamuk dan tak kuasa menahan air mata, teringat akan Rasulullah SAW.

Syahdan, di zaman khalifah Umar bin Khattab yang diangkat untuk menggantikan Abu Bakar yang telah wafat, pada suatu hari, Bilal bermimpi melihat Nabi. Rasulullah SAW berkata kepada Bilal, “Engkau tega, wahai Bilal. Kenapa engkau tidak menziarahiku lagi?”

Bilal bergegas bangun setelah ditegur demikian, dan segera meringkasi barang-barangnya dan berangkat ke Madinah. Sampai di sana, dia langsung ke makam Nabi dengan berurai air mata dan menciumkan wajahnya di makam Nabi.

Setelah berziarah, Bilal menghadap cucu Nabi, Hasan dan Husain. Keduanya mengatakan kepada Bilal, “Kami ingin mendengarkan azan-mu, hai muazin Nabi, sebagaimana pada masa Rasulullah.”

Bilal pun naik ke menara, sesaat kemudian terdengar suara azan khas bilal yang mampu menggetarkan kota. Penduduk kota Madinah tersentak kaget, dan puncaknya ketika sampai pada kalimat “asyhadu anna muhammadan rasulullah”, Bilal tak sanggup melanjutkannya.

Sementara itu, hampir semua penduduk Madinah keluar dari rumah, menuju ke masjid sambil meneriakan kata: “Apakah Rasulullah diutus kembali?” Sesampainya di masjid, mereka menangis bersama, tangis penuh kerinduan, rasa kangen kepada sang kekasih mulia, Nabi Muhammad SAW.

Kerinduan Bilal kepada Rasulullah hal yang sama dirasakan jemaah haji yang berkunjung ke Masjid Nabawi. Lorong menuju ziarah ke makam Rasulullah SAW tak pernah sepi.

Setiap kali jemaah melintasi area makam Rasullah kaki mereka seolah tak ingin cepat beranjak pergi, jika askar (petugas) menyuruhnya untuk jalan. ” Ya lal hajj, thariq…thariq,” ujar askar mengingatkan para jemaah yang tak kuasa membendung air matanya berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Hanya ucapan salam yang tak putus disampaikan para jemaah menuju pintu keluar dan jika belok kiri masuk ke pintu Bilal.

“Assalamu’alaika ya rasulallah warahmatullahi wabarakatuh, assalamu’alika ya nabiyullah, assalamulaika ya shafwatillah, assalamu alaika ya habiballah….”

“Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan berkah-Nya untukmu. Selamat sejahtera atasmu wahai Nabiyullah. Selamat sejahtera atasmu wahai makhluk pilihan Allah. Selamat sejahtera atasmu wahai kekasih Allah…”. (Maksuni Husen)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here