Minggu, 22 Juli 2018

Masjid Kalipasir Kota Tangerang

Secara administratif, bangunan Masjid dan Makam Kalipasir berada di Kampung Kalipasir, kelurahan Sukasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Sejak pertama kali didirikan hingga 1918, kompleks masjid tersebut dikelola secara turun-temurun.  Dilansir laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, masjid dibangun pada 1700 oleh Tumenggung Pamitrwidjaja dari Kahuripan.

Sekitar 1912, masjid dikelola oleh putranya yang bernama Raden Bagus Uning Wiradilaga. Pada 1740, pengelolaan masjid diserahkan kepada Tumenggung Aria Ramdon, yakni putera dari Raden Bagus Uning Wiradilaga. Aria Ramdon meninggal pada 1780 dan dimakamkan di sebelah barat masjid.

Sepeninggal Aria Ramdon, pengelolaan masjid diserahkan kepada putranya, yaitu Aria Tumenggung Sutadilaga. Pengangkatannya sebagai tumenggung melalui Bisluit VOC tertanggal 16 Februari 1802. Aria Tumenggung Sutadilaga meninggal pada 1823 dan dimakamkan di halaman sebelah barat masjid. Nisan Aria Tumenggung Sutadilaga merupakan satu-satunya nisan yang berangka tahun. Selanjutnya, pengelolaan masjid diserahkan kepada putranya, yaitu Raden Aria Idar Dilaga pada 1830.

Pada 1865, kepengurusan masjid dan makam dikelola oleh putri dari Raden Aria Idar Dilaga, yakni Nyi Raden Djamrut bersama suaminya, Raden Abdullah hingga 1904. Pada saat Masjid dan Makam Kalipasir dikelola Raden Jasin Judanegara, yakni putra dari Nyi Raden Djamrut, dilakukan perbaikan masjid serta pembuatan menara di sisi tenggara masjid. Raden Jasin Judanegara juga melakukan perombakan bagian dalam masjid pada 1918, yang dibantu oleh H. Muhibi dan H. Abdul Kadir Banjar.

Setelah sekian lama, masjid kembali diperbaiki dan perombakan menara pada 24 April 1959-Agustus 1961. Bangunan Masjid Kalipasir berdenah persegi dengan menara di sisi timur laut bangunan masjid. Di bagian dalam masjid terdapat mimbar, mihrab, dan beberapa lemari. Jendela dan pintu masjid sudah mengalami pergantian material baru.

Hal yang menarik dari masjid tersebut, adalah adanya empat saka guru yang terbuat dari kayu. Kondisi saka guru sudah mulai lapuk, sehingga ditopang oleh besi. Bagian dasar atau dudukan saka guru berupa pasangan bata dan semen yang diplester. Selain saka guru, terdapat 11 kolom yang berbentuk, seperti ladam kuda, yakni 5 kolom di sisi selatan dan 6 kolom di sisi timur. (Endang Mulyana)***


Sekilas Info

Eksotisme Pulau Sangiang

BAGI pecinta wisata bahari, Pulau Sangiang kiranya tidak boleh sampai terlewat untuk dikunjungi. Sebab, pulau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *