Kamis, 24 Mei 2018

Masih Banyak Kekeliruan Bahasa di Media Massa

PENGGUNAAN bahasa di media massa masih banyak yang salah. Masih banyak pemilihan kata maupun penyusunan kalimat dalam sebuah pemberitaan yang tidak sesuai dengan pedoman bahasa Indonesia. Hal tersebut diungkapkan Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Untirta, Odien Rosidin saat kegiatan penyuluhan penggunaan bahasa Indonesia bagi media massa yang digelar Kantor Bahasa Banten bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Untirta, di Gedung Graha Catur, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Selasa (24/10/2017).

Ia mengungkapkan, masih banyak kesalahan yang dilakukan media massa, bisa dari wartawan maupun narasumber. Beberapa kesalahan yang biasa dilakukan, yaitu terkait ejaan, kata, dan kalimat. “Penggunaan kata bahasa di media massa, saya melihat dari kebahasaan masih banyak hal yang harus ditingkatkan, masih banyak kata-kata yang tidak sesuai dengan bahasa Indoensia, berkaitan ejaan terutama tanda baca, pilihan kata, serta penyusanan kalimat yang kurang tepat,” katanya.

Ia menambahkan, banyak faktor yang memengaruhi, seperti latar belakang pendidikan bukan berasal dari kebahasaan. “Tidak semua wartawan dari pendidikan bahasa, itu tidak masalah, karena banyak sumber yang bisa dipelajari sendiri, kemampuan kebahasaan wartawan harus ditingkatkan, tanggung jawab media dalam pembinaan internal pun, itu penting sekali. Harus bersinergi antara perguruan tinggi, media, dan narasumber jurusan bahasa, serta komunikasi,” ujarnya.

Menurut dia, media massa maupun wartawan memiliki tanggung jawab terhadap pengembangan literasi di masyarakat. Oleh karena itu, diharapkan dengan kegiatan tersebut bisa meminimalisasi kekeliruan penggunaan bahasa. “Wartawan itu punya tanggung jawab profesi untuk mengembangkan kemampuannya dalam dunia tulis-menulis termasuk didukung oleh kemampuan berbahasa. Harus ada ikhtiar dari individu mau membaca, mengembangkan kemampuan, dan pengetahuan di bidang bahasa.

Bahasa itu perubahannya sangat cepat dan jangan mudah tertinggal kosa kata, jadi media masa punya tanggung jawab mengembangkan literasi di masyarakat diharuskan paling depan dalam menggunkan bahasa Indonesia, dan mengurangi pelanggaran-pelanggaran dari bahasa,” ucapnya. Ia berharap, kegiatan tersebut sangat memberikan manfaat dan untuk keperluan tulis-menulis, agar tidak terjadi kesalahan lagi dalam penulisan bahasa di media massa.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini sangat positif, karena dihadiri oleh wartawan usianya relatif lebih muda yang masih butuh pengayaan tentang penggunaan kebahasaan yang dilaksanakan dari perguruan tinggi dan pusat bahasa. Kemarin-kemarin salah wajar, mudah-mudahan setelah hari ini kalau sudah diberi tahu harus diminimilasir,” tuturnya. (DE)***


Sekilas Info

Guru Honorer Diberi SK

TANGERANG, (KB).- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang memberikan surat keputusan (SK) kepada sebanyak 8.622 guru honorer tingkat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *