Ma’ruf Amin Bingung dengan Sikap Warga Banten

Cawapres Ma'ruf Amin saat menghadiri silaturahim dengan warga Nahdliyin di Kantor PWNU Banten, Sabtu (27/4/2019).*

SERANG, (KB).- Cawapres nomor urut 01 Ma’ruf Amin, merasa bingung dengan sikap masyarakat Banten. Sebab, ia yang merupakan putra daerah harus tumbang dari rivalnya Prabowo-Sandiaga Uno dalam perolehan suara Pemilu 2019.

Padahal, menurutnya, ada warga Banten yang maju sebagai calon Wakil Presiden merupakan momentum langka dan belum pernah terjadi dalam pelaksanaan pesta demokrasi.

“Yang diajak saya, orang Banten. Selama ini kan belum ada warga Banten yang menjadi Wakil Presiden. Tapi setelah ada yang mewakili untuk jadi Wakil Presiden, ini aneh kok enggak didukung sama masyarakatnya,” kata Ma’ruf Amin menanggapi kekalahannya di kampung halaman sendiri saat menghadiri silaturahim keluarga besar NU di Banten, Sabtu (27/4/2019).

Diketahui, perolehan suara pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil sejumlah lembaga quick count atau hitung cepat, menunjukkan kemenangan telak bagi paslon 02 Prabowo-Sandiaga Uno.

Bahkan lembaga survei Indo Barometer pada Rabu (17/4/2019) pukul 17.12 WIB, langsung merilis bahwa perolehan suara capres-cawapres Prabowo-Sandi di Banten mencapai 63,49 persen atau unggul jauh dibandingkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang hanya meraih 36,51 persen.

Meskipun mengalami kekalahan telak, Ma’ruf Amin memastikan akan terus menjalin silaturahim dengan daerah yang memiliki basis NU kultural maupun struktural di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Banten. Sebab, ia mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan dirinya dan Jokowi harus tumbang di kampung halaman sendiri.

Faktor pertama, kata dia, karena warga NU, khususnya di Banten, tidak memilih calon dari internalnya. Kemudian faktor kedua, masih terdapat warga nahdliyin yang tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019. Dan faktor terakhir, karena jumlah warga NU di sejumlah daerah yang menunjukkan kekalahan bagi paslon 01 masih belum besar dan tidak semasif daerah lain.

“Patut kita syukuri, NU kali ini telah melaksanakan kewajibannya dalam memilih pemimpin. Terbukti di daerah NU-nya kuat, kita menang mutlak. Kayak di Jawa Timur dan Yogyakarta, kita menang 70 persen suara. Kecuali mungkin di Jawa Barat dan Banten. Ini bukan kalah, tapi belum menang,” ujarnya.

Ma’ruf berpesan, kekalahannya di sejumlah wilayah dengan basis massa NU yang kurang besar, jangan sampai membuat subur gerakan-gerakan yang berbasis radikalisme. Kata dia, NU harus hadir untuk menjadi benteng dari potensi gerakan tersebut.

“Radikalisme jangan sampai mendominasi masyarakat Banten, itu yang harus kita bersihkan. Saya kira kita memang lambat start, tapi dari sekarang harus dilakukan konsolidasi,” tuturnya.

Dalam acara tersebut, Ma’ruf sempat menyinggung rencana tim pemenangan pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi yang gencar mengampanyekan gerakan massa atau people power jika kalah pada Pemilu 2019. Namun, Ma’ruf tak mau ambil pusing dengan rencana dari kubu rivalnya tersebut. Dia malah mengaku, sedang bersiap menunggu pelantikan sebagai Wakil Presiden Indonesia.

“Kita sudah punya kesepakatan memilih pemimpin itu melalui pemilu. Kalau ada masalah, ada KPU dan Bawaslu. Kalau tidak bisa selesai, ya ke MK (Mahkamah Konstitusi). Kenapa harus people power? Kan salurannya sudah dibuka. Kecuali salurannya ditutup. Tapi, sekarang ini saya lagi bersiap-siap jadi wapres. Kita tunggu real count nya (KPU),” kata Ma’ruf sambil berseloroh di hadapan warga Nahdliyin Banten. (Rifat Alhamidi/SJ)*

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here