MARI MELAWAN HOAX

PERKEMBANGAN teknologi yang semakin canggih,  justru membuat dunia maya banyak memunculkan informasi dan berita palsu atau yang lebih dikenal dengan hoax. Berita bohong itu  dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Jika tidak ada kehati-hatian, netizen pun akan dengan mudah termakan tipuan hoax. Bahkan ikut menyebarkan informasi palsu itu. Tentunya ini akan sangat merugikan masyarakat, menjadi korban fitnah. Lalu,   bagaimana caranya agar kita tidak terhasut?

Sebetulnya untuk menangkal hoax bisa kita mulai dari diri sendiri. Kita semua bisa termakan hoax. Yang bisa kita lakukan adalah mencegah hoax itu tersebar lagi dengan berhenti menyebarkannya ke lingkaran pertemanan dan di grup-grup yang kita punya karena informasi yang disebar itu belum tentu juga kebenarannya. Virus informasi  hoax  khususnya di media sosial, telah menyita perhatian dunia termasuk Indonesia. Pesatnya perkembangan telepon pintar membuat publik semakin mudah mengakses beragam informasi dan berita hanya dalam genggaman tangan. Dalam hitungan detik informasi cepat tersampaikan. Imbasnya informasi palsu ikut tersebar dengan mudah, yang bagi sejumlah orang malah diyakini sebagai kebenaran. Bahkan tidak sedikit tokoh masyarakat institusi negara dan organisasi masyarakat menjadi korban dari penyebaran hoax.

Sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untuk tabayyun atau meneliti kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai apalagi menyebarkannya yang bisa menjerumuskan dalam fitnah. Sesuai dengan firman Allah SWT “ Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat 49:6).

Maraknya hoax ini telah menimbulkan  keprihatinan kita. Dunia maya dan media sosial menjadi saluran penyebaran saluran hoax yang sulit sekali dikendalikan.  Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji  Eko Nugroho menguraikan 5 langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana yang asli berikut penjelasannya :

1. Hati-hati dengan judul provokatif, berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif. Misalnya dengan langsung” menudingkan jari” kepihak tertentu isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax, oleh karenanya apabila menjumpai berita dengan judul provokatif sebaiknya anda mencari referensi berupa berita yang serupa dengan situs online resmi, kemudian membandingkan isinya apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya anda sebagai pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang dan tidak asal hanya menyebarluaskan.

2. Cermati alamat situs. Untuk informasi yang diperoleh dari  website atau mencantumkan link, cermatilah alamat  URL  situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi resmi, misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya dibilang meragukan. Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar   43.000 situs yang mengklaim  sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi  sebagai situs berita resmi tak sampai 300. artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu diinternet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta. Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat Ormas, tokoh politik atau pengamat. perhatikan keberimbangan sumber berita, jika hanya ada satu sumber,  pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan catatan berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penyebaran berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subjektif.

4. Cek  keaslian foto. Di era teknologi digital saat ini, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto/video. Ada kalanya pembuat berita palsu yang mengedit  foto  untuk memprovokasi  pembaca. Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari google, yakni dengan melakukan drag-and-drop kekolom pencarian google images. Hasil pencarian akan menayangkan  gambar-gambar serupa yang terdapat diinternet sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax. Difacebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Front Anti Fitnah, Hasut dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesia Hoaxes dan Group Sekoci. Di grup-grup diskusi ini netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berdiskusi dan berkontribusi sehingga group berfungsi layaknya Crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Upaya lain dalam melaporkan berita atau informasi hoax dengan cara mencegah agar tidak tersebar sebelum diketahui kebenarannya, pengguna internet bisa melaporkan hoax tersebut melalui sarana yang tersedia dimasing-masing media. Bisa juga mengadukan konten negatif ke Kementrian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan Email kealamat [email protected]

Hal ini juga mendorong pemerintah untuk membentuk Badan Siber Nasional (BSN) yang akan memproteksi kegiatan siber secara nasional, dengan demikian diharapkan masyarakat tidak akan  bingung dengan informasi yang beredar. Maraknya peredaran hoax  saat ini setidaknya dipicu oleh dua motif yaitu, Ekonomi dan Politik. Ada situs-situs yang memang sengaja dibuat dengan tujuan mendapatkan kunjungan sebanyak mungkin dengan membuat berita penuh sensasi. Selain itu motif untuk menjatuhkan  lawan politik, baik tokoh maupun kelompok juga marak terjadi. Hal semacam ini tentunya bisa memecah belah umat dan bangsa. Bahkan baru-baru ini terungkap adanya keberadaan kelompok Saracen yang menebar ujaran kebencian dan hoax berbau SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) berdasarkan pesanan.

Tujuan mereka menyebarkan  kontek tersebut semata karena alasan ekonomi, sungguh ini keperihatinan yang berdampak fatal. Miris memang. Hingga kini polisi masih mempelajari para pemesan konten berita atau ujaran kebencian yang diunggah digroup maupun situs berita milik Saracen, jelas ini mencederai keadilan dan merugikan pihak yang menjadi korban. Ini bisa saja terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari siapapun bisa saja menjadi korbannya dan tentunya akan menuntut keadilan.  Karena  sudah ada dalam firman Allah yaitu “Innallaha yuhibbul muqsitiin… Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (Al-Mumtahanah:8).  Sejatinya upaya menangkal penyebaran berita hoax tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat juga berinisiatif melawan berita hoax. Berbagai komunitas anti hoax telah dibentuk untuk mengajak masyarakat agar lebih cerdas menyikapi media sosial dan bersama-sama melawan hoax. (Hj. Ade Muslimat.MM.M.Si/Dosen Universitas Serang Raya)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here