Marhaban Media Ramadhan

Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun,  asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu. (Imam Syafi’i) 

[dropcap]B[/dropcap]ulan suci Ramadhan, bulan yang penuh keutamaan bagi umat Islam kembali datang. Suasana kehidupan mulai berubah. Masjid kembali penuh oleh jamaah yang menunaikan shalat fardhu dan tarawih, pengajian dan buka bersama digelar di mana-mana, di rumah pribadi maupun di berbagai institusi. Yatim piatu dan fakir miskin pun mendapat berkah seiring dengan meningkatnya kesadaran orang kaya untuk beramal. Tadarus pun menggema dari berbagai loud speaker yang ada di masjid dan mushalla, yang kadang kala karena terlalu bersemangatnya, mengganggu orang yang sedang istirahat.

Jelang Ramadhan media tiba-tiba berubah “insaf” format isi, program tayangan televisi, radio, dan cetak tidak terkecuali media sosial berubah menjadi “Syari’ah”. Ada yang menambah kuantitas acara hiburan “Syari’ah nya”, mengganti program hiburan menjadi hiburan tema religi dalam berbagai format siaran.
Meningkatkan dan memperbanyak acara sejenis itu sebetulnya hak stasiun televisi atau pengelola media, namun disisi lain bukan berarti tidak memiliki dampak pada pemirsa dalam memanfaatkan waktu untuk beribadah, ini menjadi tantangan tersendiri.

Mengingat Dalam bulan suci ini biasanya di sebuah institusi atau perkantoran ada yang mengubah waktu jam mulai dan akhir kerja, bahkan ada yang mengurangi waktu lama bekerja. Kegalauan penulis adalah waktu senggang kini bukannya digunakan untuk beribadah, tetapi dihabiskan untuk menonton TV yang menawarkan berbagai acara yang menarik, bermain game, atau sibuk mengobrol di media sosial.

Bulan Ramadhan merupakan waktu untuk penggemblengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Secara psikologi bulan Ramadhan merupakan momen peningkatan religiusitas bagi umat Islam. Di bulan Ramadhan lingkungan atau situasi sangat mendukung dalam meningkatan ketaqwaan kita.

Media Ramadhan

Masjid sangat ramai dengan kegiatan ibadah terutama sholat berjamaah serta tadarus, orang-orang sebagian besar berpuasa, media massa baik media cetak dan televisi acaranya juga berubah drastis dari bulan-bulan biasa karena didominasi acara bertema puasa Ramadhan.

Momen ramadhan yang setiap tahunnya dirayakan oleh umat muslim di seluruh dunia, khusunya di Indonesia, oleh media massa dianggap sebagai suatu pasar yang sangat potensial untuk mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Selama bulan ramadhan, pengurangan jam kerja serta meliburkan para peserta didik menjadi hal yang rutin, sehingga kebanyakan dari orang-orang terlebih para ibu rumah tangga dan anak sekolahan menjadikan televisi sebagai tawaran menarik untuk mengisi waktu luang, terlebih aktivitas berpuasa memang bisa membuat tubuh menjadi lemas, sehingga orang-orang menjadi malas untuk beraktivitas diluar rumah.

Pada momen inilah televisi mengambil peran penting dalam mengisi waktu luang masyarakat, dengan tayangan yang dikemas menarik dengan nuansa ramadhan, hal ini dilakukan televisi bukan semata-mata untuk memenuhi salah satu fungsi dari televisi yaitu “to entertain” melainkan sebagai salah satu langkah untuk mengikat pengiklan, karena program televisi tidaklah sama dengan komoditas material seperti pakaian, atau peralatan rumah tangga.

Pada dasarnya apa saja dapat dijadikan program untuk ditayangkan ditelevisi selama program itu disukai oleh audience, selama tidak bertentangan dengan kesusilaan, hukum, dan peraturan berlaku dan juga menguntungkan stasiun televisi tersebut sudah pasti akan ditayangkan. Oleh karena itu televisi merupakan media yang paling luas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Fungsi ekonomi program televisi belumlah lengkap jika hanya dijual, karena pada prosesnya televisi akan berubah menjadi produsen, dan yang diproduksinya adalah masyarakat yang kemudian akan dijual kepada pengiklan. Bagi banyak orang, audiens yang telah terkomodifikasi merupakan salah satu produk paling penting dari sebuah industri televisi yang kelak akan dijual kepada calon pengiklan. Smythe dalam Fiske (2011) menyatakan kapitalisme telah memperluas kekuasaannya, dari ranah kerja ke ranah waktu luang, sehingga menonton televisi merupakan salah satu upaya untuk membantu industri media dalam menciptakan produk baru yang bisa ditawarkan kepada para pengiklan.

Seperti yang diungkapkan Mosco (2009:133) , dalam media massa yang dapat dikomodifikasi ada tiga macam yaitu konten, audiens dan pekerja. Dalam bulan Ramadhan yang dikomodifikasi tentunya konten dan audien. Konten media bertema Ramadhan, dan audien Ummat Islam yang tengah menjalankan ibadah Ramadhan merupakan audien yang dianggap potensial.

Ekstremnya saya katakan Ramadhan bagi industri televisi adalah sebuah momentum tepat untuk menyiarkan tayangan-tayangan keagamaan, bukan demi dampak tayangan tersebut bagi masyarakat, namun bagi televisi itu sendiri. Saya memang belum mengadakan penelitian pada acara-acara televisi di bulan Ramadhan. Tetapi kalau memang program acara tersebut untuk kepentingan khalayak tentu banyak nilai manfaatnya, dan sejak dulu masyarakat mendapatkan banyak manfaat, namun selama ini, momentum ramadhan di televisi tidak pernah meninggalkan jejak spiritual bagi masyarakat. Ramadhan berlalu maka acara tersebut berlalu pula program acara tersebut. Dapat dikatakan momentum bulan suci ini hanya komodifikasi media televisi saja dengan berbagai bentuk format acara dalam mencari pasar, saya tidak bermaksud senis.

Praktek-praktek komodifikasi menurut Mosco (2009: 134) pada media televisi ditandai dengan diubahnya konten atau isi media menjadi komoditas untuk mendapatkan profit. Salah satu strategi dalam pencapaian tersebut ialah memproduksi program-program televisi yang sesuai dengan selera pasar sehingga dapat menaikkan rating.

Penggunaan rating sebagai salah satu tolak ukur dalam melihat keberhasilan sebuah program. Rating menjadi alat untuk menilai content (teks/produk media) apakah ia layak dijual. Kelayakan ini ditandai dengan seberapa banyak pemasang iklan yang mampu ditarik dalam setiap penayangan program tertentu. Selain itu, rating juga menjadi data dalam mengkomodifikasi audience. Data audience yang terangkum dalam rating menjadi pijakan bagi para pemasang iklan untuk memasarkan produknya di program tayangan tertentu atau tidak
Menjaga Bulan Suci.

Memperhatikan perluasan dominasi perusahaan media, baik melalui peningkatan kuantitas dan kualitas produksi budaya yang langsung dilindungi oleh pemilik modal. Tentu saja, ekstensifikasi dominasi media dikontrol melalui dominasi produksi isi media yang sejalan dengan preferensi pemilik modal. Proses komodifikasi media massa memperlihatkan dominasi peran kekuatan pasar. Proses komodifikasi justru menunjukkan menyempitnya ruang kebebasan bagi para konsumen media untuk memilih dan menyaring informasi.

Mengkaji televisi sebagai media massa memang cukup pelik, karena terdapat berbagai kepentingan. Makin kreatif dan lihainya para produser siaran televisi, maka segala jenis peristiwa dapat menjadi komoditas, Semua dapat diperjualbelikan.

Hal ini tentu sejalan dengan gagasan tentang komodifikasi sebagai perluasan logika Marxis yang menyatakan bahwa berbagai program televisi, termasuk berita, film, dan hiburan lain, mempunyai nilai material yang dapat dijual (Graeme Burton, 2005.:29) . Graeme Burton bahkan berpendapat tentang gagasan komodifikasi ini sebagai akibat dari realitas televisi sebagai sebuah medium yang pada dasarnya mencerminkan masyarakat yang materialis.

Segala materi program tidaklah dilihat dari sisi kualitas maknanya, akan tetapi memang didorong oleh televisi sebagai program yang dapat dijual. Dari hiburan, film sampai dengan ceramah agama akan tersirat apakah memang layak dijual, apakah da’i atau pengkhotbah dalam acara yang bernuansa religi ini memang layak dijual? Atau televisi dengan sengaja menciptakan tokoh-tokoh yang dapat dipopulerkan sehingga dapat dijual pada suatu saat ketika harus ‘dibeli’ oleh stasiun televisi.

Agar isi siaran Ramadhan sesuai dengan semangat syiar Islam, karena media masa (televisi) menduduki posisi yang sangat strategis. Di era teknologi informasi, media semakin memiliki peran dan kontribusi dalam pelaksanaan esensi bulan Ramadhan. Semoga semua siaran di bulan Ramadhan tahun ini dapat mencerahkan publik, harapan saya media massa ikut menjaga kesucian bulan Ramadhan dengan cara menghadirkan program siaran yang dapat mencerahkan masyarakat.

Dalam upaya menjaga kesucian bulan Ramadhan, diperlukan sikap proaktif media untuk mengembangkan toleransi, sehingga dapat menghormati dan menghargai perbedaan yang ada di pihak lain.#AS27517#.

catatan: tulisan disarikan dari berbagi sumber

[author title=”Ahmad Sihabudin” image=”http://demo.kabar-banten.com/wp-content/uploads/2017/05/WhatsApp-Image-2017-05-28-at-16.17.07.jpeg”]Penulis: Ketua Dewan Pakar ISKI Banten, dan Ketua Bidang Informatika dan Komunikasi MUI Banten.[/author]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here