Mampu Bangun Landmark tapi Jembatan Desa Rusak

Pemerintah daerah tampak menggebu-gebu untuk membangun landmark atau mercu tanda Kota Pandeglang di lereng Gunung Karang sebesar Rp 3 miliar lebih. Namun, jauh di balik itu ternyata masih terdapat banyak jembatan gantung di pelosok desa kondisinya memprihatinkan.

Fakta infrastruktur jembatan rusak terdapat di Desa Patia. Saat ini sejumlah pemuda dan masyarakat Kampung Peuntas, Desa Patia, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang sedang bekerja keras untuk bakti sosial memperbaiki jembatan penghubung antardesa, Kamis (28/11/2019).

Jembatan sepanjang 17 meter dengan lebar 4 meter itu satu-satunya akses penyeberangan anak-anak sekolah di kampung tersebut. Kegiatan baksos memperbaiki jembatan sebagai bentuk kepedulian dan rasa keprihatinan kepada pemerintah daerah yang belum pernah menyentuh pembangunan jembatan di desa tersebut. Padahal, jembatan ini terbuat dari bambu yang sebelumnya tidak bisa dilintasi warga.

Salah seorang warga Kecamatan Patia, Entis Sumantri merasa kecewa terhadap pemerintah daerah yang saat ini belum memperbaiki jembatan tersebut. Padahal jembatan tersebut merupakan akses jalan masyarakat yang menunjang aktivitas sehari-hari.

”Seharusnya pembangunan infrastruktur jembatan ini menjadi kewajiban pemerintah daerah, karena jembatan ini jalur alternatif penghubung antardesa dan kecamatan. Selain itu, jembatan ini sering dilintasi oleh warga antardesa menuju kecamatan. Apalagi jembatan ini adalah jembatan yang menjadi jalan bagi anak-anak desa saat pergi ke sekolah,” tutur Entis kepada Kabar Banten, seusai baksos jembatan gantung di Desa Patia.

Menurut dia, jembatan tersebut merupakan akses penting yang seharusnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sebab, dengan jembatan tersebut akan menunjang perekonomian dan pendidikan masyarakat.

”Jika memang ini tidak segera direalisasikan oleh pemerintah daerah, ini akan menjadi penghambat faktor pendidikan dan perekonomian masyarakat. Apalagi jembatan ini menjadi salah satu sarana penyeberangan bagi anak sekolah dan masyarakat petani yang membawa hasil bumi. Kami meminta pemerintah daerah segera membangun jembatan ini,” ujarnya.

Entis menuturkan, dirinya mengkhawatirkan kondisi jembatan yang saat ini sudah tidak layak dilintasi warga. Apalagi jika turun hujan, air sungai bisa meluap sampai ke badan jembatan. Kalau sudah seperti itu otomatis warga tidak bisa menyeberang sungai.

”Infrastruktur jembatan ini penting untuk segera dibangun oleh pemerintah daerah, karena apabila musim hujan rawan banjir. Kami sangat mengharapkan jembatan ini dibangun,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Patia, Bowo menuturkan, sudah sering mengajukan pembangunan terkait jembatan tersebut sejak dua tahun lalu, namun tidak membuahkan hasil.

”Saya sebetulnya sudah mengajukan permohonan pembangunan jembatan ini, namun tidak ada realisasi. Jembatan itu kan panjangnya 17 meter dengan lebar 4 meter, dulu pernah mau dibantu anggaran Rp 90 juta, tapi kami tolak. Sebab anggaran itu tidak cukup untuk membangun jembatan ini,” tuturnya. (Ade Taufik/EM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here