Rabu, 19 Desember 2018
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa kelompok 28 Serang menggelar Kuliah Kerja Mahasiswa di lereng Gunung Karang tepatnya di Pasir Angin, Kelurahan Pagarbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Jumat (3/8/2018).*

Mahasiswa Untirta KKM di Kaki Gunung

PANDEGLANG, (KB).- Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) kelompok 28 Serang menggelar Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di kaki Gunung Karang tepatnya di Kampung Pasir Angin, Kelurahan Pagarbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Jumat (3/8/2018).

Mahasiswa tersebut senang berada di lokasi tersebut, karena daerah ini mungkin baru pertama kali disinggahi kegiatan KKM. Meski mereka merasakan sejuknya udara dan pemandangan alam indah, namun miris saat mengamati infrastruktur rusak menuju lokasi.

Salah seorang anggota KKM Untirta Ika Kurnia mengatakan, dirinya merasa terkesan melaksanakan KKM di lereng Gunung Karang, karena warga setempat sangat ramah. Warga di sana antusias mengikuti berbagai agenda KKM baik bakti sosial maupun kegiatan bersifat edukatif.

”Kalau soal tempat, itu pihak kampus yang menentukan, tapi yang jelas kita merasa punya kesan tersendiri bisa melaksanakan KKM di sini. Masyarakatnya ramah dan baik sekali, terus suasana alamnya indah, udara sejuk dan suguhan panorama gunung yang eksotis, pokoknya indah. Di sini kami mudah beradaptasi dan melaksanakan kegiatan bersama masyarakat,” kata Ika Kurnia kepada Kabar Banten saat ditemui di Posko KKM, Jumat (3/8/2018).

Menurut dia, masyarakat di daerah tersebut masih butuh perhatian, terutama peningkatan sektor sumber daya manusianya (SDM) bidang pendidikan. Pemerintah pun harus membuka akses jalan mulus, karena ini menjadi penopang bagi warga agar bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Infrastruktur menjadi penyebab sebagian warga untuk tidak melanjutkan jenjang pendidikannya.

”Masyarakat di sini sebetulnya tinggal diberikan sedikit sentuhan sektor pendidikan, karena kan di sini masih ada sebagian warga merasa tak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Ini akibat akses jalan yang jauh dan kondisi badan jalan rusak. Namun kondisi ekonomi warga sini hanya berpenghasilan pada sektor pertanian dan handy craft (kerajinan tangan) berupa anyaman,” ujarnya.

Sementara program kerja selama KKM, kelompoknya lebih menekankan kepada sektor pendidikan. Selain itu, kegiatan bidang pertanian, kerajinan tangan, keagamaan dan kegiatan sosial lainnya tetap digalakan. Sehingga nantinya seusai KKM masyarakat bisa terus meningkatkan dan mengembangkan potensi yang ada di daerah tersebut.

”Selama ini, kami menilai masyarakat di lereng gunung tersebut sangat memerlukan sentuhan pendidikan, tapi kami juga sering membantu masyarakat dalam bidang hortikultura pertanian, dan kerajinan tangan, kita bantu dalam pemasarannya. Kita berikan pemahaman cara memasarkannya, supaya nanti selesai KKM mereka bisa lebih produktif,” ucapnya.

Sementara itu, dosen pembimbing lapangan KKM Tematik kelompok 28, Ipan Hilmawan, SE, MM, mengatakan, kegiatan tersebut akan berlangsung selama sebulan. “Ya, banyak bahan masukan untuk para mahasiswa di lokasi. Selain soal kerajinan tangan, sektor pertanian, pendidikan juga tentang budaya masyarakat yang ramah. Selain itu, lanjut Ipan, di lokasi KKM, para mahasiswa akan membantu masyarakat tentang bagaimana proses pemasaran anyaman yang baik dan efisien.

“Tapi yang lebih penting di sini, ada satu hal yang terus dikawal soal infrastruktur, karena warga mendambakan jalan yang mulus. Kita sudah konfirmasi ke aparatur kelurahan bahwa pemerintah pernah berjanji akan membangun jalan. Sayangnya sampai sekarang belum terealisasi. Nah, ini akan coba kita kawal dan dijadikan dalam kajian laporan makalah KKM,” ujarnya. (Ade Taufik/EM)*


Sekilas Info

Hadapi Era Industri 4.0, SMK PGRI 3 Kota Serang Gandeng Industri

SERANG, (KB).- Pengelola sekolah menengah kejuruan (SMK) harus proaktif dalam menjalin kerja sama dengan industri, sebab …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *