Mahasiswa Harus Berpikir Kritis 

SERANG, (KB).- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Serang Raya (Unsera) menggelar seminar nasional tentang pendidikan politik. Seminar tersebut bertemakan membangun komunikasi politik berdasarkan nilai kearifan lokal dalam rangka menciptakan harmoni sosial. Akademisi Komunikasi Unsera, Sigit Surahman mengatakan, pendidikan politik di kampus dilakukan, agar mahasiswa terbiasa menyampaikan pendapat.

Kegiatan tersebut diperlukan sebagai bagian dari pembelajaran politik kepada para mahasiswa. Apalagi Banten menjadi salah satu daerah yang juga terlibat dalam pilkada serentak. Setidaknya ada tiga wilayah di Banten yang menggelar pilkada. “Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini tentu sudah menanamkan pemikiran mereka tentang politik. Ini terlihat dari antusias mereka mengikuti kegiatan ini. Apalagi pemilih muda jumlahnya sangat banyak,” katanya kepada Kabar Banten, Selasa (27/2/2018).

Ia menuturkan, mahasiswa harus berpartisipasi langsung, karena mereka merupakan generasi penerus untuk membangun bangsa atau daerah yang ada di Provinsi Banten ini. Untuk memberi pemahaman kepada mahasiswa tidak hanya dengan dalam acara seminar, tetapi juga di lingkungan. Ia mengatakan, mahasiswa harus bisa menentukan pilihannya saat pilkada nanti. Mereka juga harus bisa bersikap kritis dan memilih calon yang terbaik. Mahasiswa diharapkan tidak bersikap apatis terhadap pendidikan politik. “Mahasiswa harus berpikir kreatif dan mahasiswa juga harus kritis. Jika tidak suka mahasiswa harus netral dengan pandangan politik yang berbeda. Gunakanlah hak pilih anak-anak muda, karena itu merupakan bagian dari suara kami untuk menentukan masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Komisioner Komisi Pemilihan Umum Repubulik Indonesia, Pramono Tanthowi menuturkan, sebagai mahasiswa harus kritis dan harus mempunyai pendangan tidak untuk membela salah satu pihak pasangan calon atau tidak suka tentang politik. “Anda mahasiswa yang tidak suka dengan politik harus bisa berpikir kritis dan netral. Jangan membuat larangan orang untuk memilih, karena agamanya sama. Karena, solidaritas tetap dengan aturan. Prinsipnya mahasiswa harus bisa menuangkan pendapat, selama mempunyai komitmen untuk tetap netral,” ucapnya. (DE)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here