Mahasiswa Diminta Perangi Berita Bohong

Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta menggelar kuliah umum literasi media digital dalam menangani hoax di Banten, di Auditorium Untirta, Selasa (26/11/2019).*

SERANG, (KB).- Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) diminta untuk memerangi berita bohong, dengan memahami pentingnya literasi digital. Kemajuan teknologi digital sangat pesat, sehingga generasi muda harus mampu menjadi pionir bagi perkembangan media sosial secara positif.

Hal itu dikatakan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Untirta Rahmi Winangsih, usai memberikan sambutan pada kuliah umum Literasi media digital dalam menangani hoax di Banten, di Auditorium Untirta, Selasa (26/11/2019).

”Mahasiswa Ilmu Komunikasi diharapkan dapat ikut serta untuk memerangi berita bohong yang masih marak terjadi. Masyarakat yang langsung meneruskan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Hal itu menjadi tantangan buat kami untuk menyosialisasikan kepada masyarakat agar memeriksa terlebih dahulu kebenaran berita tersebut sebelum disebarkan,” kata Rahmi kepada Kabar Banten.

Sementara itu, Pemateri dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Dadang Rahmat Hidayat mengatakan, mengutip survei Ismail Fahmi Penggaas Drone Emprit pada 2017, yakni masih ada satu persen masyarakat langsung meneruskan sebuah informasi tanpa memerikasa kebenarannya.

Terlebih, informasi yang disebarkan tersebut sangat menghebohkan. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan mahasiswa bisa memerangi berita bohong yakni dengan mengecek terlebih dahulu dengan saring sebelum sharing.

”Memerangi berita bohong di masyarakat bisa dilakukan dengan mengajak mereka untuk kembali meresapi nilai-nilai berkomunikasi, yakni dengan melakukan komunikasi tatap muka secara langsung. Tidak hanya melakukan komunikasi dengan media berbasis internet saja, tetapi bisa dilakukan dengan bertatap muka,” ujarnya.

Perwakilan Dosen Riset Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta Darwis Sagita mengatakan, selain kuliah umum pihaknya juga meluncurkan Banten Dalam Angka Komunikasi (BaDAK #1). Hal itu dilakukan untuk mengetahui hasil riset di masyarakat dalam mencari informasi digital. Di tahun pertama menggunakan data kuantitatif yakni terkait literasi informasi pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di Provinsi Banten dengan memilih sumber jenis, mengevaluasi dan menggunakan informasi.

”Hasilnya pada kategori sumber informasi penambah pengetahuan yang paling banyak dipilih oleh pelajar SMA sederajat di Banten yakni media sosial sebanyak 52,2 persen. Sedangkan sekolah sebagai sumber informasi penambah pengetahuan sebesar 23,9 persen. Kemudian kategori yang tidak dibutuhkan yakni informasi politik sebesar 52, 2 persen. Sementara evaluasi informasi yang paling banyak dilakukan terkait informasi politik sebesar 32,7 persen,” tuturnya. (DE/SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here