Madrasah Bidayatul Hidayah Ambruk Diterjang Puting Beliung, Murid Belajar di Tenda

SERANG, (KB).- Sebanyak 58 murid Madrasah Diniyah (MD) Bidayatul Hidayah di Kampung Pasir Padudukan, Desa Kampung Baru, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, terpaksa belajar di bawah tenda darurat yang dibuat warga, Selasa (10/12/2019).

Hal itu terjadi karena bangunan madrasah yang sudah berdiri sekitar tahun 1960 tersebut ambruk dihantam puting beliung, Rabu (20/11/2019) sekitar pukul 15.00 WIB.

Pantauan Kabar Banten, puluhan murid madrasah tersebut mulai belajar sejak pukul 15.00 sampai pukul 16.30 WIB. Tak ada bangku kursi atau dinding bangunan. Mereka belajar lesehan di bawah tenda darurat yang menaunginya. Meski begitu, mereka tetap serius mengikuti setiap materi yang disampaikan guru.

Seorang guru Madrasah Diniyah Bidayatul Hidayah Jasmara mengatakan, puting beliung terjadi pada Rabu (20/11/2019) sekitar pukul 15.00 WIB. Pada saat itu terjadi hujan deras disertai petir.

“Kata saksi mata, awan hitam di atas madrasah terus berputar-putar,” ujarnya ditemui di lokasi.

Jasmara mengatakan, puting beliung tersebut kemudian merobohkan dua bangunan madrasah. Seluruh isi madrasah tersebut porak poranda. Selain madrasah, sebanyak 50 rumah warga juga turut terdampak.

“Rumah warga gentengnya pada terbang. Di sini tadinya lengkap ada kursi, papan tulis, sekarang hancur semua,” katanya.

Beruntung, pada saat kejadian madrasah dalam kondisi kosong. Sebab pada saat itu sedang berlangsung peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid tidak jauh dari madrasah.

“Anak-anak fokus di sana (masjid). Kalau enggak mah pasti ada korban, karena jam segitu kan waktunya kegiatan belajar mengajar. Panggung di masjid juga sampai ambruk. Kalau warga ada sempat jadi korban tiga orang tertimpa, sekarang juga belum sembuh masih rawat jalan,” ucapnya.

Pria yang juga alumni madrasah tersebut mengatakan, puluhan murid tersebut merupakan kelas tiga SD yang sore harinya belajar di madrasah.

“Kalau di sini kan kelas tiga SD masuk kelas satu lagi. Kalau ditambah murid SD yang kelas satu sampai dua jumlahnya lebih dari 58,” tuturnya.

Pascakejadian, warga sekitar langsung sibuk membantu mendirikan tenda darurat untuk belajar anak-anak. Walau seluruh bangunan hancur, namun murid-murid tersebut tetap semangat belajar. Mereka terpaksa harus belajar seadanya.

“Ini bikin tenda (swadaya), baru empat hari ini mulai belajar lagi, habis ulangan semester ganjil. Walau keadaan begini, tetap (belajar) harus dilakukan. Anak-anak semangat,” ucapnya.

Jasmara mengatakan, sementara ini bantuan yang datang baru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Bantuan hanya berupa makanan. Sedangkan bantuan untuk madrasah sendiri belum ada.

“Kami butuh uang untuk beli material. Alhamdulillah sudah ada swadaya dari masyarakat sekitar Rp 4 juta,” katanya.

Dia berharap ke depan akan ada kepedulian dari instansi terkait. Sebab, keberadaan madrasah ini merupakan salah satu pondasi mendidik karakter anak. “Kan di sini ada pelajaran akidah akhlak,” katanya.

Butuh gedung baru

Kepala Desa Kampung Baru Apudin mengatakan, bantuan yang ada baru berupa sembako. Ia menginginkan adanya bantuan berupa gedung baru. Sebab kebutuhan gedung sangat mendesak.

“Ingin dibantu, supaya cepat. Rencana mau diajukan lagi tapi belum ngobrol sama ketua madrasah. Apa, dan harus bagaimana penanganannya. Kan ini musibah, biasanya ada dana tidak terduga,” ujarnya.

Akibat musibah tersebut, kata dia, anak-anak harus belajar di bawah tenda yang tidak layak karena hanya swadaya masyarakat. “Bagaimana mau optimal belajar mengajarnya, orang enggak ada dindingnya,” ucapnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here