Machdum Bachtiar: BPIH Indonesia Paling Murah Se-ASEAN

Dr. H. Machdum Bachtiar, Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Banten.*

Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Indonesia adalah yang paling murah di antara negara-negara ASEAN yang mengirimkan jemaah haji ke Arab Saudi. Hal itu ditegaskan Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Banten, H. Machdum Bachtiar kepada Kabar Banten, Ahad (3/2/2019) malam.

Penegasan itu dikemukakan, menukil penegasan Sekretaris Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Ramadhan Harisman. “Dalam rentang 2015-2018, BPIH Indonesia adalah yang paling rendah dibanding Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura,” ujar Machdum.

Ketiganya, kata Machdum, adalah negara dengan jemaah haji terbesar di ASEAN. Akan tetapi diakuinya, jumlah jemaah Indonesia jauh lebih banyak ketimbang tiga negara tersebut.

Menurut Machdum, dalam empat tahun terakhir, rata-rata biaya haji Brunei Darussalam berkisar di atas 8.000 dolar AS. Persisnya, 8.738 dolar (2015), 8.788 dolar (2016), 8.422 dolar (2017), dan 8.980 dolar (2018). Untuk Singapura, rata-rata di atas 5.000 dolar AS, yaitu: 5.176 dolar (2015), 5.354 dolar (2016), 4.436 dolar (2017), dan 5.323 dolar (2018). Sementara Malaysia, rata-rata biaya haji sebesar 2.750 dolar (2015), 2.568 dolar (2016), 2.254 dolar (2017), dan 2.557 dolar (2018).

“Dalam dolar, rata-rata BPIH Indonesia pada 2015 sebesar 2.717 dolar. Sementara tiga tahun berikutnya adalah 2.585 dolar di 2016, 2.606 dolar di 2017, dan 2.632 dolar di 2018,” ujar Machdum.

Sekilas, kata Machdum, BPIH Indonesia lebih tinggi dari Malaysia. Namun, sebenarnya lebih murah. Sebab, dari biaya yang dibayarkan jemaah, ada 400 dolar atau setara SAR1.500 yang dikembalikan lagi kepada setiap jemaah sebagai biaya hidup di Tanah Suci.

“Saat pelunasan, jemaah membayar BPIH yang di dalamnya termasuk komponen biaya hidup. Komponen biaya tersebut bersifat dana titipan saja. Saat di asrama haji embarkasi, masing-masing jemaah yang akan berangkat akan menerima kembali dana living cost itu sebesar SAR1.500,” ucapnya.

Dengan demikian, riil biaya haji yang dibayar jemaah haji Indonesia adalah 2.312 dolar di 2015, 2.185 dolar di 2016, 2.206 dolar di 2017, dan 2.232 dolar di 2018. Meski biaya haji Indonesia lebih rendah, namun layanan kepada jemaah haji tetap menjadi prioritas utama Pemerintah dan DPR. Hal itu, kata Machdum, antara lain ditandai dengan terus meningkatnya kualitas akomodasi jemaah, baik di Mekkah maupun Madinah. Sejak 4 tahun terakhir hotel yang ditempati jemaah minimal berkualitas setara bintang 3.

Selain itu, layanan konsumsi juga terus meningkat dalam 4 tahun terakhir. Kalau pada tahun 2015, jemaah mendapat layanan 12 kali makan di Mekkah. Jumlah ini bertambah menjadi 15 kali di 2016, 25 kali di 2017, dan 40 kali di 2018. “Dari sisi kualitas, Pemerintah juga mensyaratkan para penyedia konsumsi untuk mempekerjakan chef (juru masak) serta bumbu masakan dari Indonesia,” ujarnya menegaskan.

Selain itu, kualitas tenda di Arafah juga menjadi perhatian utama untuk ditingkatkan. Keberadaan tenda-tenda di Arafah merupakan suatu hal yang vital bagi jemaah haji karena para jemaah berada di dalamnya selama kurang lebih dua hari satu malam.

Selain digunakan untuk berteduh di tengah suhu yang bisa mencapai 50 derajat celcius di siang hari, tenda di Arafah juga berfungsi untuk memberi kenyamanan istirahat para jemaah pada malam hari menjelang wukuf.

“Sejak 2017, semua tenda di Arafah sudah diperbarui dengan tenda yang terbuat dari PVC dan tahan api. Seluruh tenda juga dilengkapi pendingin udara (mist fan) dengan lantai beralaskan karpet serta didukung lampu penerangan yang cukup. Tahun ini, diharapkan seluruh tenda dapat dilengkapi dengan AC sehingga kenyamanan jemaah akan semakin meningkat,” katanya.

Peningkatan layanan juga dilakukan di Madinah. Sejak 2018, sebagian akomodasi di Madinah sudah dilakukan dengan sistem sewa semusim penuh. Meski ada kenaikan biaya sewa dari rata-rata SAR850 menjadi rata-rata SAR1.200, sistem ini menguntungkan jemaah. Sebab, dengan pola sewa semusim penuh, maka sudah ada kepastian sejak di tanah air mengenai hotel-hotel yang akan ditempati jemaah selama di Madinah.

Selain itu, proses pemindahan jemaah dari Madinah ke Mekkah atau sebaliknya juga dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi sehingga lebih nyaman bagi jemaah. “Tahun 2019 akan ada peningkatan prosentase penyediaan akomodasi di Madinah dengan pola sewa semusim penuh secara signifikan, sehingga kenyamanan jemaah diharapkan makin meningkat,” katanya.

BPIH 2019

Machdum menjelaskan, saat ini Kementerian Agama bersama Panitia kerja (Panja) Komisi VIII DPR sedang membahas BPIH Tahun 1440H/2019M. Dia berharap, terjadi penurunan BPIH 2019 dalam mata uang dolar AS dibanding tahun lalu.

Namun menurutnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, kenaikan harga jual avtur (bahan bakar pesawat), dan kebijakan Pemerintah Arab Saudi meningkatkan biaya transportasi darat dalam skema biaya layanan umum (general service fee) sebesar SAR330, akan sangat berpengaruh dalam menaikkan BPIH tahun 2019 dalam mata uang rupiah.

“Pemerintah, DPR, dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) terus membahas biaya haji 2019 dalam batasan kewajaran,” katanya.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here