Lindungi Saksi Korban, LPSK Turun Tangan dalam Kasus Pembunuhan di Waringinkurung

Tenaga Ahli Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) Mardiansyah, usai mengunjungi saksi korban di RSUD Kota Cilegon, Kamis (15/8/2019). LPSK turun tangan dalam kasus pembunuhan di Kampung Gegeneng, Desa Sukadalam, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang.

SERANG, (KB).- Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) turun tangan dalam kasus pembunuhan di Kampung Gegeneng, Desa Sukadalam, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang.

Lembaga mandiri yang bertugas dalam perlindungan saksi dan korban itu akan memberikan perlindungan terhadap saksi korban SS (25) agar kembali pulih baik secara psikologis, medis dan memiliki keamanan yang terjamin.

Tenaga Ahli LPSK Mardiansyah mengatakan, sejak pertama kali mencuat kasus ini langsung diatensi oleh pimpinan LPSK. Oleh karena itu, pihaknya segera melakukan tindakan proaktif untuk menindaklanjuti kasus pembunuhan tersebut.

“Ini sangat memprihatinkan karena ada keluarga yang dianiaya bahkan ada yang meninggal dunia bahkan ada yang usia 4 tahun,” ujarnya kepada wartawan, di Polres Serang Kota, Kamis (15/8/2019).

Mardiansyah mengatakan, dalam mandat Undang-Undang 31 tahun 2014, LPSK sesuai prosedur akan melakukan pendalaman dan penelaahan terhadap kasus yang akan didampingi.

“Tadi secara resmi melalui Pak Kasat Polres Serang Kota (AKP Ivan Adhitira) sudah mengajukan perlindungan kepada LPSK terkait saksi korban. LPSK akan tindak lanjuti prosesnya sehingga nanti bisa disampaikan kepada rapat paripurna pimpinan LPSK apakah akan diputuskan bisa dilindungi atau tidak,” tuturnya.

Baca Juga : Pelaku Menggunakan Topeng, Pembunuhan di Waringinkurung Diduga Dendam

Ia mengatakan, jika nanti hasil rapat memutuskan akan melindungi saksi korban, maka saksi korban akan mendapatkan haknya sesuai yang diatur dalam undang-undang. Di antaranya pelayanan bantuan medis dan psikologis. Karena ia menduga, saksi korban pasti mengalami trauma.

“Jika memang sudah jadi terlindung, maka LPSK berkewajiban memulihkan kembali kondisi medis psikologi termasuk pendampingan terhadap saksi korban ketika nanti dimintai keterangan dalam proses hukum. Nah ini yang kami sampaikan keluarga korban terkait negara secepatnya hadir melalui LPSK terkait kasus ini,” kata pria yang menjabat sebagai juru bicara LPSK tersebut.

Disinggung soal perlindungan, Mardiansyah menjelaskan akan melihat kondisi dan perkembangan saksi korban lebih dulu. Namun yang pasti ketika sudah jadi terlindung maka LPSK akan punya strategi perlindungan.

“Sekarang tidak bisa dipaparkan strateginya. Karena ini strategi perlindungan di LPSK. Jika diputuskan jadi perlindungan LPSK, kita wajib menjamin keselamatan, kesehatan si saksi korban sehingga bisa membantu proses tindak pidana agar bisa cepat terungkap,” katanya.

Selama ini, kata dia, pascakejadian sadis itu banyak yang khawatir terhadap keselamatan saksi korban. Sebab pelaku sendiri masih belum bisa tertangkap.

“Jangan-jangan nanti saksi terancam untuk itu LPSK respon cepat supaya bisa diputuskan semoga cepat. Biar ada tindak lanjut dari LPSK untuk memberi perlindungan. Kalau faktanya bukan ancaman lagi, setelah kejadian ini tentu ada rasa khawatir dari korban karena pelaku belum tertangkap. Dari psikologi juga dia tertekan trauma ada ini jadi domain LPSK untuk recoveri secara psikologis agar saksi korban bisa kembali,” ucapnya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here