Lima Kriteria SDM Unggul

SERANG, (KB).- Dosen Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Dr. Sonny Harry B Harmadi SE., ME mengatakan, ada lima (5) kriteria Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Pertama, punya kemampuan intelegensia yang baik. Kedua, punya fisik yang sehat. Kemudian yang ketiga, sejahtera. Keempat, mempunyai karakter dan perilaku yang baik. Dan yang kelima, punya kemampuan untuk mengembangkan diri.

“Presiden Jokowi mengatakan bahwa kita ingin membangun Indonesia dengan SDM yang unggul,” ujar Sonny dalam kegiatan ‘Dialog Kampus’ bertema “Membangun manusia Indonesia yang inovatif, mandiri, responsif dan berdaya saing di era Revolusi Industri 4.0,” yang diselenggarakan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Banten bekerjasama dengan Koalisi Kependudukan Provinsi Banten, di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Rabu (4/9/2019).

Hadir dalam kegiatan tersebut, Rektor Untirta, Dr. Fatah Sulaiman, Kepala Dinas DP3AKB Provinsi Banten, Siti Maani Nina, Ketua Koalisi Kependudukan Provinsi Banten, Dr. Enggar Utari, SSi, M.Si, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Drs. Aan Jumhana M.Si, pejabat di lingkungan BKKBN Provinsi Banten, Generasi Berencana (Genre) dan para mitra kerja BKKBN Provinsi Banten serta diikuti ratusan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi (PT) di Provinsi Banten.

Dibuka secara resmi oleh Kepala DP3AKB Provinsi Banten, Siti Maani Nina, kegiatan tersebut juga menghadirkan dua (2) narasumber lainnya, yaitu Plt. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc, Dip. Com dan Sandi Octa Susila, Agripreneur muda asal Cianjur, Jawa Barat yang juga pemilik perusahaan Mitra Tani Parahyangan. Dialog tersebut, dimoderatori oleh Puteri Indonesia Lingkungan 2018, Vania Fitriyanti Herlambang.

Sonny mengatakan, usia produktif yang besar apabila tidak diikuti oleh kesempatan kerja yang memadai, maka bonus demografi tidak mampu ditransformasikan menjadi bonus ekonomi. Di tahun 2020, mayoritas penduduk Indonesia didominasi usia produktif.

“Kita akan berada di dalam periode bonus demografi, orang sering salah karena dipikir baru nanti 2020-2030. Sebenarnya kita berada didalam periode bonus demografi sejak tahun 2012 dan akan berakhir pada 2040. Jadi kita sekarang sedang berada di dalam periode bonus demografi,” ujarnya.

Menurutnya, Indeks Prestasi Manusia (IPM) Indonesia sudah sangat bagus untuk pendidikan generasi muda. “Presiden jokowi mengatakan bahwa SDM Unggul bukan hanya mereka yang berpendidikan tinggi, bukan hanya mereka yang berbadan sehat tapi harus berhati Indonesia,” ujar Sonny.

Ia mengatakan, kelemahan Indonesia adalah pada inovasi. “Jadi ketika kita tidak punya kebebasan berpikir untuk mengembangkan kreatifitas, pasti inovasi tidak akan berkembang. Kita menjadi end user dari semua teknological produk dari produk-produk teknologi. Maka kita harus berpikir inovatif,” ujar Sonny.

Banyak bangsa berpikir untuk mengubah dunia, banyak orang yang mau merubah Indonesia, dan merubah yang lainnya. Tapi jarang orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri. “Kunci kemajuan bangsa dan keberhasilan, bukan karena kebaikan atau kesalahan orang, tapi karena doa dan upaya serta kerja keras,” ujarnya.

Ia mengatakan, pemerintah melakukan gerakan nasional revolusi mental untuk merubah cara pikir dan kebiasaan berpikir buruk terhadap sesuatu hal. “Jadi, kemajuan itu bisa dibangun dengan mental dan pikiran yang positif,” ujar Sony.

Plt. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Dwi Listyawardani menyampaikan bahwa di era bonus demografi, dari aspek keluarga terutama masalah remaja, BKKBN memiliki program generasi berencana (Genre). Sasarannya adalah anak-anak muda atau para remaja supaya merencanakan kehidupannya dengan sebaik-baiknya.  

“Dengan berencana, maka semuanya akan lebih mudah dan lebih baik. Termasuk bagaimana mempersiapkan masa depan melalui proses pendidikan dan mencoba untuk mengembangkan karier di dunia apa pun,” ujarnya.

Ia mengatakan, kedamaian, perdamaian dan persatuan Indonesia harus dijaga sebaik-baiknya. Karena konflik kecil, apalagi sampai meluas, akan menghancurkan seluruh tatanan kehidupan dan kita kehilangan kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan diri dalam mensejahterakan diri kita dan keluarga.

“Faktor pendidikan harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menatap masa depan, karier, dan rumah tangga atau keluarga harus terencana  dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ada keluarga yang terbentuk karena keterpaksaan, tidak direncanakan atau tidak diinginkan. Itu akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar,” ujar Dwi.

Sementara, Sandi Octa Susila, Agripreneur muda asal Cianjur, Jawa Barat yang juga pemilik perusahaan Mitra Tani Parahyangan. Dalam kegiatan tersebut memaparkan tentang bagaimana ia berjuang sehingga mencapai kesuksesan.

Rektor Untirta Dr. Fatah Sulaiman dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada sejumlah parameter sumber daya manusia (SDM) di antaranya, Jujur. “Jujur itu nomor satu. Saya kira BKKBN juga punya tangungjawab bahwa nilai kejujuran harus menjadi bagian dari proses pembinaan,” ujarnya.

Kemudian disiplin, dan selanjutnya mempunyai endurance untuk memimpin. “Cita-cita itu harus dijaga dengan endurance untuk menjadi motivasi. Ini harus di ‘maintenance’ secara terus menerus,” ujar Fatah.  (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here