Lili Romli: KH. Syam’un, Pemimpin Revolusi Fisik dan Mental

Pada 10 November lalu Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Brigjen KH. Syam’un sebagai Pahlawan Nasional. Sebagai pejuang kemerdekaan, yang memimpin secara langsung revolusi fisik di Banten melawan kolonial Belanda yang ingin kembali menancapkan kekuasaannya di Indonesia yang telah diproklamirkan kemerdekaannya oleh Soekarno-Hatta, gelar Pahlawan Nasional untuk Kiai Syam’un bukan hanya layak diberikan, tetapi menjadi semacam keharusan sejarah.

Menyusul Proklamasi Kemerdekaan, pada akhir Agustus 1945, sejumlah unsur masyarakat di Banten seperti ulama, jawara dan pemuda berkumpul dan mengadakan musyawarah di Serang. Musyawarah itu antara lain menyepakati KH. Tubagus Achmad Chatib untuk memimpin pemerintahan sipil, sedangkan KH. Syam’un diberi tugas untuk urusan militer, selain menjabat sebagai Bupati Serang. Jabatan resmi yang disandang KH. Syam’un adalah Ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) Karesidenan Banten, merangkap Ketua BKR Serang.

Pada awal Oktober, Ketua BKR mengadakan rapat yang isinya antara lain mengadakan perundingan dengan pihak Jepang agar mereka menyerahkan senjata. Pihak Jepang setuju, tetapi dalam pelaksanaannya tidak berjalan mulus. Akhirnya Ketua BKR memutuskan untuk merebut senjata dari tentara Jepang itu secara paksa.

Beberapa hari setelah peristiwa perebutan markas militer Jepang di Serang, pada 18 Oktober 1945 KH Sjam’un, atas perintah Komendemen I/ Jawa Barat, membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yaitu Divisi I TKR yang diberi nama Divisi 1000/I , di bawah Komandemen I/Jawa Barat. KH. Syam’un pun diangkat menjadi Panglima Divisi dengan pangkat Kolonel.

Pemerintah Daerah Banten yang baru didukung oleh Badan Keamanan Rakyat BKR (kemudian Tentara Keamanan Rakyat atau TKR) dan kekuatan-kekuatan keamanan lainnya di bawah kepemimpinan KH. Syam’un, mendapat saingan dari “Dewan Rakyat” bentukan dan pimpinan Tje Mamat. Cara-cara pemerintahan yang dilaksanakan oleh “Dewan Rakyat”, yang tidak segan-segan menggunakan cara-cara kekerasan, rupanya sangat menggelisahkan rakyat, dan sangat bertentangan dengan umumnya kepribadian rakyat Banten yang religius.

Panglima Divisi 1000 Kolonel KH. Syam’un pun diperintahkan oleh KH. Achmad Chatib untuk menumpas Tje Mamat dan gerombolannya. Akhirnya “Dewan Rakyat” berhasil dilumpuhkan dalam waktu singkat, dan kekuasaan di Banten pun kembali ke tangan Residen KH. Achmad Chatib. Kini, peran KH. Syam’un dalam mempertahankan kemerdekaan, baik dari rongrongan kekuatan asing yang ingin kembali berkuasa di Tanah Air maupun dari laku khianat kaum komunis yang ingin merebut kekuasaan melalui serangkaian teror, telah terpatri dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa.

Bukan hanya dalam sejarah lokal Banten, tetapi dalam sejarah Nasional. Namun, selain peranannya dalam revolusi fisik, KH. Syam’un punya peran yang jauh lebih signifikan. Yakni revolusi mental, dengan menawarkan pemahaman keagamaan yang lebih segar kepada masyarakat lingkungannya. Yakni melalui Perguruan Islam Al-Kahiriyah, yang masih eksis sampai sekarang.

Selain memiliki trah pejuang, yang merupakan cucu dari K.H. Wasid, seorang pejuang dalam peristiwa Geger Cilegon tahun 1888, KH. Syam’un merupakan sosok ulama mujahid dan mujadid, yang di masa mudanya mengenyam di dua pusat pendidikan Islam, yaitu di Mekah dari tahun 1905 hingga 1910, dan di Universitas Al-Azhar, Mesir, dari tahun 1910 hingga 1915.

Kepergian KH Syam’un belajar ke Timur Tengah, merupakan kelanjutan dari tradisi yang telah dibangn ulama-ulama Banten sebelumnya seperti KH. Abdul Karim Tanara, Syekh Nawawi Al-Bantani, dan Syekh Asnawi Caringin. Namun, berbeda dengan Syekh Nawawi yang memilih karier intelektualnya di Mekah, KH. Syam’un lebih terpanggil untuk kembali ke Banten, untuk merealisasikan cita-citanya. Yakni menjadi pelopor pembaruan di bidang pendidikan dan kegamaan. Al-Khairiyah ia dirikan di tengah suburnya praktik-praktik keagamaan menyimpang masyarakat Cilegon dan sekitarnya.

KH. Syam’un ingin memperbarui kembali sistem kepercayaan masyarakat kepada ajaran-ajaran yang sesuai dengan sumber pokok ajaran yatu Alquran dan Sunnah Nabi. Pendirian Al-Khairiyah juga tidak terlepas dari kenyataan, bahwa lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda hanya melayani kalangan elite dan kaum bangsawan setempat.

Sebagai ulama besar yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat, KH. Sjam’un berusaha mengembangkan rasionalitas dalam beragama dengan menyeru kepada ajaran Islam yang pokok, yaitu tauhid. Ajaran tauhid yang ia kembangkan melalui pendidikan dan dakwah itu mendorong perubahan ke arah kehidupan keagamaan yang terbebas dari unsur-unsur yang berlawanan dengan semangat tauhid.

Semangat ini pada gilirannya menumbuhkan pengembangan intelektualitas dan keilmuan sehingga Al-Khairiyah banyak melahirkan tokoh-tokoh intelektual terkemuka di Banten maupun di tingkat nasional. Di antara alumni lembaga pendidikan ini adalah Prof. Dr. KH. Wahab Afif, Prof. Dr. HMA Tihami, Prof. Dr. Atho’ Mudzar, Prof. Dr. Rifat Syauqi Nawawi, Prof. Dr. M. Amin Suma, dan lain-lain. Besarnya pengaruh KH. Syam’un di masyarakat, tak pelak lagi berkat kemampuannya dalam memimpin dan pengetahuannya yang luas.

Di tengah kendurnya semangat keilmuan di tengah kaum Muslim umumnya, dan Banten pada khususnya, saya kira kita sudah sepatutnya meneladani semangat keagamaan dan etos intelektualitas yang telah dibangun leluhur kita sejak Syekh Nawawi sampai KH Syam’un yang telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional itu. Seperti kita ketahui, ajaran Islam sendiri, baik itu yang terdapat dalam Alquran maupun sunnah Nabi, penuh dengan nasihat agar manusia berpengetahuan dan menjauhi kebodohan.

Seperti digambarkan oleh Alquran dalam surat Al-Mujadalah ayat 11, bahwa orang yang bepengetahuan, seperti halnya orang yang beriman, memiliki kedudukan yang teramat tinggi dalam pandangan Allah. Seperti ditegaskan firman Allah yang lain, memang tidak sama antara mereka yang berpengetahuan dan yang tidak. “Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang-orang yang berakal sajalah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S. Az-Zuma: 9) Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here