Legenda Kakek yang Bijaksana Tersisa di Curug Kanteh

NAMA Curug Kanteh diambil karena pada zaman dahulu kala hidup seorang kakek yang dermawan, mempunyai ilmu kanuragan dan baik terhadap semua warga yang ada di sekitar. Karena kebaikannya, sang kakek membangun jalan irigasi yang sampai sekarang bisa dilalui untuk menuju curug tersebut.

Pada saat membangun irigasi dari puncak gunung sampai ke dasar dan lembah tantangan bagi penduduk adalah melewati jurang yang sangat curam. Siapapun yang melewati bagian ini harus berhati-hati. Sebab jika tidak, akan jatuh ke jurang dan nyawa pun bisa melayang.

Di tengah-tengah kebingungan warga, sang kakek datang dan menggunakan ilmu kanuragannya dengan cepat seluruh penduduk yang ada di sana bisa melewati jurang yang curam. Namun nahas ilmu yang dimiliki sang kakek tidak berlaku untuk dirinya, akhirnya dia terjatuh ke jurang. Air irigasi yang sangat deras menghanyutkan sang kakek. Para penduduk pun merasa kehilangan. Untuk mengenang jasanya, akhirnya air terjun tersebut dinamakan Curug Kanteh sampai sekarang.

Curug Kanteh terletak di Desa Cikatomas, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak. Kesanalah Desi dan teman-teman dari komunitas Jalan Satapak Adventure mengunjungi curug yang berada di wilayah paling ujung Kabupaten Lebak. Kepada Kabar Banten, Desi mengirimkan tulisannya untuk berbagi pengalaman kepada pembaca budiman.

Perjalanan dimulai pukul 08.30 WIB dengan perlengkapan dan perbekalan seadanya. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang sangat indah saat memasuki daerah Gunung Madur. Jangan kaget jika jalan ini bisa bikin kalian sakit badan, karena aksesnya yang belum diaspal, penuh debu karena banyak kendaraan besar yang melintas.

Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan yang lumayan bikin pantat panas, pukul 12.30 WIB kita sampai di Desa Cikatomas. Kami mampir di basecamp teman-teman dari Ngaprak Leuweung, komunitas penggiat wisata yang ada di Kecamatan Cilograng. Siang itu kami disambut hangat oleh Kang Opet dan dijamu dengan makanan yang luar biasa nikmatnya, nasi liwet. Tanpa pikir panjang, kami pun segera menyantap hidangan yang telah tersedia. Setelah istirahat cukup, kami pun bergegas menuju curug.

Untuk dapat mencapai lokasi air terjun ini bisa kita menempuh dengan berjalan kaki. Selain dari Kampung Cihideung, lokasi Curug Kanteh pun bisa ditempuh melalui Kampung Margamukti. Start awal perjalanan dimulai dari pertigaan atau simpang jalan di lokasi pertigaan di dekat gedung SMPN 2 Cilograng pada jalur jalan raya lintas provinsi lebih tepatnya Jalur Bayah-Cibareno Km 20 Cikatomas.

Pemandangan sepanjang perjalanan menuju curug sangat luar biasa indah. Hamparan sawah yang terbentang dari segala sudut membuat mata tak mau lepas melihatnya dengan padi yang mulai menguning membuat semakin indah, dari jalan di ketinggian curug terlihat.

Panorama nan indah itu membuat kami makin semangat untuk segera sampai ke lokasi. Namun sayang saat tiba di lokasi, akses jalan turun menuju curug tertutup longsoran. Karena tanah di tempat itu masih labil, sudah coba dilalui tapi ternyata tidak bisa karena terlalu berisiko.

Setelah berpikir lagi, akhirnya Kang Opet mengajak ke jalur lainnya menuju curug dengan jalan setapak dan aksesnya lumayan licin. Tanpa pikir panjang kami pun menyetujuinya karena sayang jika sudah jauh-jauh tapi tidak sampai ke lokasi.

Untuk mencapai lokasi, kami menyusuri dan melewati persawahan dan menyusuri air irigasi yang airnya diperuntukkan untuk mengairi sawah warga sekitar. Waktu yang ditempuh untuk menuju lokasi dari tempat parkir tersebut sekitar 30-35 menit. Saat menyusuri air irigasi harus lebih berhati-hati melangkahkan kaki, jangan sampai terpeleset. Karena jika sampai terjatuh bisa langsung masuk ke jurang, bahkan saya hampir dua kali terjatuh.

Untung saja teman dari Ngaprak Leweung dengan sigap meraih tubuhku. Jalur yang dilewati penuh lumut apalagi saat hujan membuat jalur semakin licin. Benar-benar perjuangan yang sangat luar biasa. Pepatah mengatakan, untuk mendapatkan yang indah harus dengan perjuangan. Begitupun untuk menuju ke curug ini.

Setelah setengah jam akhirnya kami tiba di Curug Kanteh. Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 80 meter ini terletak di antara dua tebing yang menjulang tinggi kurang lebih 100 meter dan memiliki 3 buah kolam bertingkat yang bisa dijadikan tempat pemandian. Ditambah dengan backsound suara air yang jatuh membuat suasana begitu menakjubkan.

Tanpa pikir panjang kita pun langsung bergegas merasakan dinginnya air, karena tidak sah jika tidak basah. Agar perjalanan semakin lengkap, jangan lupa untuk membawa makanan dan minuman yang banyak, karena nafsu makan bisa meningkat dua kali lipat dari biasanya karena lelahnya perjalanan.

Sayangnya kita cuma sebentar di Curug Kanteh, karena cuaca yang tidak bersahabat. Hujan mulai turun dikhawatirkan ada banjir bandang atau longsoran dari area dinding tanah. Kami pun langsung bergegas membereskan perlengkapan dan kembali pulang. Buat kalian yang penasaran dengan curug ini langsung saja datang ke Kecamatan Cilograng dan untuk yang belum tau lokasi kalian bisa meminta teman-teman dari Komunitas Ngaprak Leweung untuk mengantarkan ke lokasi curug. (Tono Soemarsono)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here