Lebaran Tanpa Sungkeman

KH. AM Romly, Ketua MUI Banten.*

KH. AM. Romly

Sungkeman sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia, meskipun tidak semua orang paham tentang arti yang sebenarnya. Istilah sungkeman saat ini selalu dikaitkan dengan Lebaran. Meskipun sejatinya sungkeman dapat dilakukan setiap ada kesempatan.

Kata kerja sungkem sendiri hanya saya temukan dalam KBBI dan Kamus Kawi-Indonesia. Dalam KBBI arti sungkem adalah sujud, sebagai tanda  bakti dan hormat belaka.  Sedangkan dalam Kamus Kawi-Indonesia susunan  S. Wojowasito, arti  sungkem adalah menyembah. Dengan bahan yang terbatas itu saya agak sulit menulis topic ini, tetapi berusaha tidak gegabah.

Tangkap apinya bukan abunya

Bung Karno pernah mengatakan: “Tangkap apinya, bukan abunya”, demikian yang dapat saya ingat. Mungkin saja beliau juga terinspirasi Sayeed Amir Ali yang menulis buku Api Islam. Dengan inspirasi Bung Karno ini, saya mulai berusaha memahami dan nenghayati makna sungkeman.

Tulisan ini diharapkan bermanfaat bagi mereka yang tidak bisa sungkeman. Demikian juga bagi orang tua yang anaknya tidak bisa datang, termasuk kami sendiri yang tinggal di perkampungan. Tiga anak kami beserta keluarganya yang tinggal di perantauan, kami sarankan tidak mudik Lebaran. Alhamdulillah mereka paham dan pasrah serta tidak akan mudik  meskipun kami saling merindukan.

Intisari sungkeman adalah cinta kasih. Kata Rasulullah SAW, orang penuh cinta kasih akan dicintai Allah. Maka kita diperintahkan agar cinta kasih kepada semua makhluk yang ada dibumi, jika ingin dicintai yang di langit (HR Thabrani). Cinta kasih kepada makhluk di bumi bukan hanya kepada manusia tetapi juga makhluk Allah lainnya. Pada setiap hewan bernyawa yang kehausan, bila kita memberi minum akan mendapatkan pahala (HR Bukhari).

Dalam konteks Lebaran, cinta kasih kita curahkan kepada kedua orang tua. Cinta kasih yang mendorong kita untuk selalu berbuat baik dengan penuh hormat kepada mereka. Allah sendiri memerintahkan kita bahwa selain berkewajiban beribadah kepada Allah dan dilarang berbuat musyrik kepadaNya, kita juga diwajibkan berbuat baik kepada kedua orang tua (QS An- Nisa: 36). Dalam ayat lain Allah telah memerintahkan kepada manusia agar berbuat baik, mencintai dan menghormati mereka (QS Luqman: 14).   Dalam Alkitab juga terdapat ajaran agar mencintai dan menghormati ibu dan bapak, supaya panjang umur di tanah yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa(Kel. 20:12).

Cinta kasih dan hormat kepada kedua orang tua tidak mesti berjumpa secara ragawi, tetapi juga bisa melalui doa kepada Rabbul ‘Izzati. Misalnya, Nabi Ibrahim a.s. yang mohon ampun kepada Allah untuk kedua orang tuanya, bukan hanya untuk diri sendiri (QS Ibrahim: 41). Demikian juga ketika Nabi Sulaiman dianugerahi kelebihan, beliau juga berdoa dan bersyukur atas anugerah Allah kepadanya dan  kepada kedua kedua orang tua yang   dicintai (QS An- Naml: 19).

Cinta karena Allah

Rasulullah SAW bersabda, bahwa tidak sempurna iman seseorang selama ia tidak mencintai sesamanya seperti mencintai dirinya pribadi (HR Bukhari dan Muslim). Hal senada terdapat dalam Alkitab, yang menyatakan agar mencintai sesama manusia seperti mencintai diri sendiri (Gal. 5: 14).  Namun ada ajaran agama juga yang menuntun bagaimana kita menunjukkan cinta kasih tadi. Alkitab menuntun agar kita tidak melakukan suatu perbuatan kepada orang lain yang jika menimpa kita, kita pun tidak sudi (Matius 7:12). Ajaran ini sejalan dengan petuah Konghucu yang mengatakan bahwa apa yang diri sendiri tidak inginkan, jangan dilakukan kepada orang lain (Sabda Suci 15: 24).

Jadi  cinta kasih harus ditunjukkan dengan cara menimbang tindakan kita kepada sesama. Misalnya, kita tidak suka terjangkit Corona. Jadi kalau kita cinta kasih kepada kedua orang tua, kita harus menjaga agar keduanya tidak terjangkiti pula. Artinya kalau kita berkunjung secara ragawi, yang bisa jadi orang tua kita akan menderita karena kedatangan kita. Karena, Orang Tanpa Gejala misalnya, boleh jadi termasuk kita, mungkin saja membawa virus yang berbahaya. Maka kita tidak perlu sungkeman secara langsung kepada mereka. Allah sendiri memerintahkan kita agar menjaga keselamatan keluarga, termasuk orang tua kita. Agama Islam mengajarkan kita untuk menjaga diri dan keluarga agar tidak terjerumus dalam duka nestapa (QS At-Tahrim: 6). Demikian pula, Allah melarang kita  menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan (QS Al-Baqarah: 195). Menurutkan hawa nafsu akan membawa kepada kesengsaraan (QS Yusuf: 53).

Jadi  kalau kita memaksakan diri sungkeman secara ragawi tanpa peduli acaman keselamatan bagi diri sendiri, keluarga, dan kedua orang tua, itu adalah cinta kasih semu. Sebenarnya kita hanya menurutkan hawa nafsu. Bukan cinta kasih karena Allah Yang Maha Tahu. Padahal cinta kasih kepada Allah dan RasulNya harus diutamakan (QS At-Taubah: 24). Kita tidak boleh mengikuti hawa nafsu secara serampangan. Caritas patiens est – Cinta itu sabar (I Kor 13: 4); jadi cinta kasih menuntut kesabaran. Dengan cinta kasih kita melaksanakan  perintah Tuhan mengutamakan selamat, dan menghindari madarat.

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tua yang aku cintai, dan agar mampu berbuat kebaikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir kepada anak cucuku yang aku sayangi…”(QS Al-Ahqaf: 15).“Wahai anakku semoga  kamu berumur panjang, berilmu, bercahaya,  dermawan, dan memiliki kekayaan” (Yajur Veda VII. 29). “Wujudkanlah ikatan rumah tangga yang kekal, semoga engkau dianugerahi keturunan yang mulia, dan hidup bahagia bersama anak cucu di rumah idaman ( Rg Veda X.85.42).

Taqabbalallahu minna wa minkum. Shiyaamana washiyaamakum. Kullu ‘aamamin wa antum bikhairin. Minal ‘aaidin wal faaizin. Mohon maaf lahir dan batin.***

Penulis, Ketua Umum MUI Provinsi Banten/Ketua FKUB Provinsi Banten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here