Lebaran : Momen Distansi Antara Ruhani dan Nafsu

Oleh  Aldi Agus Setiawan

Lazim bagi umat muslim setelah berpeluh menjalankan kewajiban berpuasa selama sebulan penuh, kemudian merayakan kemenangannya dengan gema takbir di Hari Raya Idul Fitri atau kebanyakan masyarakat kita menyebutnya dengan Lebaran. Secara letterlijk, Lebaran sendiri memiliki makna yang sebenarnya jauh dari makna Idul Fitri. “Lebaran” secara etimologi dan terminologi, konon memiliki beberapa padanan kata.

Pertama, kata lebar yang dibubuhi imbuhan -an bukanlah dalam konteks fisik seperti lapang atau luas dan semacamnya. Akan tetapi, lebaran biasa dimaknai sebagai “lebar hati” untuk memaafkan. Maka, dalam beberapa histori Jawa dulu, banyak orang tua yang sering berkata “sing gede atine” saat disakiti dan dimulai dari situlah kata ‘lebaran’ menjadi masyhur di kalangan orang banyak.

Juga, menurut KH. Mustofa Bisri atau biasa kita sapa dengan sebutan Gus Mus, lebaran diambil dari kata ‘laburan’ yang dalam bahasa Jawa berarti mengecat. Sebab, setiap kali menjelang datangnya Hari Raya Idul Fitri, hampir semua kepala sibuk memperbarui cat rumahnya agar nampak terlihat lebih indah.

Atau seperti ujaran yang pernah dilontarkan oleh (alm) KH. Muhtar Babakan Ciwaringin yang menyebutkan bahwa akar filosofis dari kata ‘lebaran’ adalah ‘leburan’. Yang juga dalam bahasa Jawa berarti menyatukan. Menurutnya, dengan ujian dan cobaan, kesabaran dan ketenangan selepas Ramadan, diharapkan mampu meleburkan diri pada sifat-sifat Tuhan.

Begitulah kira-kira makna dari kata Lebaran, jamaknya memang berasal dari bahasa Jawa. Namun, terlepas dari itu semua, kiranya yang terpenting adalah peningkatan taqwa kita kepada Allah; Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis tidak akan membahas terlalu jauh terkait makna Lebaran. Disamping itu, ada fakta-fakta menarik yang ternyata telah membudaya dikalangan kita dan kental kaitannya dengan momen Lebaran. Entah budaya tersebut sejak kapan muncul dan siapa pertama kali yang memunculkan, hal tersebut masih jadi pertanyaan hingga kini, khususnya bagi penulis.

Fenomena-fenomena yang banyak terjadi ketika menjelang Lebaran adalah ‘intemperate’-nya pola konsumsi masyarakat. Seolah momen Lebaran dijadikan sebagai jalan menambah daya konsumsi, sedangkan bulan Ramadhan menjadi alasan untuk menahan daya konsumsi tersebut. Dan besar kemungkinan hal demikian berdampak secara destruktif serta perlu menjadi perhatian.

Semisal, ketika mendekati Lebaran, permintaan barang dan kebutuhan pokok di pasar jadi melonjak. Akibatnya, harga-harga naik drastis dan kelangkaan terjadi. Juga, ramainya pusat-pusat perbelanjaan seperti pasar, mal dan lain sebagainya yang berdampak pada sesaknya jalan karena dipenuhi oleh banyaknya orang yang berbelanja.

Selain itu, seringnya harga tiket transportasi yang melambung karena peluang dari tradisi mudik Lebaran. Atau mungkin acara-acara di televisi yang semakin sering menayangkan hiburan menjelang Lebaran. Bermacam-macam acara disiapkan dengan balutan ‘religi’, yang secara tidak sadar akan menggoda kekhusyukan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadan. Yang juga dalam keberlangsungannya akan bertransformasi dan muncul ‘budaya pop Islami’ yang sebelumnya acara televisi jauh dari praksis keagamaan atau terkesan ‘sekuler’.

Hal-hal demikian agaknya menjadi cerminan dari tradisi konsumsi yang berlebih di akhir Ramadan menjelang Lebaran adalah sebuah penanda, bahwa kapitalisme seakan menjelmakan dirinya pada praktik di level kultural.

Jika telah masuk pada tatanan kultural, menurut Umar (2015), implikasi yang ditimbulkan adalah “tangan-tangan” kapitalisme global yang secara bebas mencengkeram masyarakat kita. Seperti di kota-kota besar, produk-produk mewah semakin diminati. Akhirnya, Lebaran bukan lagi menjadi seremonial “kemenangan” bagi yang berpuasa. Tapi, ia telah menjelma menjadi sebuah gaya hidup yang dibuktikan dengan ‘konsumsi’ dan semangat Lebaran berubah menjadi pakaian baru, perabot rumah tangga baru dan sejenisnya yang dapat diukur secara material.

Lalu apa dampaknya terhadap masyarakat yang berada dalam kelas menengah kebawah atau yang sedang berjuang di garis kemiskinan? Adalah mereka dipusingkan oleh tuntutan kenaikan harga barang dan pakaian baru yang juga mesti dibeli. Artinya, mereka perlahan akan terperangkap pada kultur atau budaya konsumsi menjelang Lebaran.

Secara kultural, kita tidak bisa menghindar dari fenomena-fenomena tersebut yang hakikatnya bersifat global. Dan, globalisasi tersebut hadir dan menjelma menjadi ‘teman’ ditengah-tengah masyarakat kita.

Dalam Tradem (2004), seorang pakar globalisasi, Kenichi Ohmae, menjelaskan bahwa globalisasi bisa berujung pada ‘kematian’ suatu negara akibat adanya ‘tangan-tangan’ baru yang bermain dalam pemusatan kebijakan publik. Eksekutor kebijakan publik bukan lagi negara, melainkan berada di tangan pasar yang menampakan diri sebagai ‘penyelamat’ krisis.

Antonio Gramsci menyebutnya dengan istilah hegemoni. Sebab, globalisasi bukan lagi sebagai sesuatu keniscayaan, tetapi sudah menjadi perwujudan dari kuasa-kuasa global yang masuk ke dalam negeri untuk berkuasa secara formal.

Arus globalisasi tersebut memperparah upaya masyarakat untuk keluar dari jurang kemiskinan –terlebih mereka yang tidak punya kapital atau yang sedang bergelut dengan garis kemiskinan–, sebab budaya mengharuskan adanya konsumsi tambahan bagi setiap orang dan hal ini sulit untuk dipenuhi oleh orang-orang yang tidak punya uang atau modal.

Maka, perlunya upaya-upaya transformasi sosial untuk mengentaskan fenomena-fenomena tersebut. Setidaknya ada dua jalan untuk mentransformasikan hal itu; jalan struktural untuk membongkar kuasa-kuasa yang bermain di lingkaran kemiskinan dan jalan kultural dengan intervensi langsung pada perilaku sosial masyarakat.

Jalan pertama dapat dilakukan dengan upaya advokasi yang kontinyu dan menjadi domain dari gerakan mahasiswa atau gerakan sosial lain yang relevan. Sedangkan jalan kedua memerlukan kekuatan kuasa moral-etis. Dan, agama bisa menjadi cara untuk mengubah perilaku masyarakat secara kultural melalui peran para muballigh atau da’i dengan penafsiran yang transformatif.

Kian beratnya peran agama, dengan pemahaman yang transformatif, agama dapat memaikan dua fungsi sekaligus; kontra-hegemoni dari segi budaya dan kontra-hegemoni dari segi struktur sosial.

Oleh karenanya, momentum Lebaran mesti menghadirkan transformasi sosial. Sebab Lebaran bukan hanya dimaknai hanya sebagai ritual perayaan tiap tahun, harus punya dampak secara sosial, selain dari mempererat silaturahmi dan memperbaharui ketaqwaan.

Idealnya, budaya-budaya yang seringkali membuat kita terperangkap, sebisa mungkin dihindari. Juga, harus mengedepankan kesederhanaan, karena puasa telah mendidik kita untuk menghindari perilaku konsumtif di siang hari dan menggantinya dengan perilaku yang produktif dan investatif; ibadah dan sebagainya. Jangan sampai, momen Lebaran melunturkan pendidikan selama Ramadan dengan perilaku konsumtif dan berlebih-lebihan. Seperti yang dipraktikkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz yang menolak gaya hidup glamour, melainkan hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya; qana’ah.

Terlebih, qur’an telah menggugat perilaku bermewah-mewahan dan berlebih-lebihan dalam surah at-Takatsur. Lalu, mampukah kita mendobrak dinding kapitalisme konsumtif yang bertumpu pada gaya hidup dengan mengembalikannya pada semangat kesederhanaan?

Jika perilaku konsumtif atau terkesan boros dapat ditekan, semangat kepedulian sosial akan sangat bisa dikembangkan. Ini patut menjadi renungan bersama. Seperti yang diungkapkan oleh seorang filsuf, Driyarkara, bahwa puasa adalah sarana untuk membuat distansi antara ruhani dan nafsu duniawiyah sehingga orang yang berpuasa adalah orang yang merdeka dari kuasa nafsu badaniyahnya, termasuk nafsu untuk berbuat boros.

Mari, kita mulai menata kembali esensi dan marwah Lebaran dengan mentransformasikannya ke ranah kultur sosial. Kita lawan tradisi berkedok kapitalisme konsumtif dengan upaya mengingatkan pada kesederhanaan.***

Penulis, Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, p ernah aktif menjadi Wakil Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Untirta dan sekarang masih aktif sebagai aktivis KAMMI Serang. Juga founder Pustaka Delapan Belas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here